Akhirnya Aku Paham Kenapa Jogja Istimewa
Aku hidup dalam batas menyerah dan berserah — di antaranya adalah berjuang sekuat tenaga.
Akhirnya Aku Paham Kenapa Jogja Istimewa
Aku hidup dalam batas menyerah dan berserah — di antaranya adalah berjuang sekuat tenaga.

Foto pribadi, wajah disensor karena privasi
Kata Alm. Sapardi Djoko Damono, "Barangkali, hidup adalah doa yang panjang", sepertinya ada benarnya. Aku sendiri pernah menulis, "Aku hidup dalam batas menyerah dan berserah—di antaranya adalah berjuang sekuat tenaga." Maka menurutku hidup adalah sebuah doa yang panjang dan juga perjuangan, mungkin juga adalah sebuah pencarian. Pencarian tentang apa?
Entahlah. Mungkin itu sebabnya kita diberi umur yang panjang sampai sekarang, untuk mencari tahu selama hidup di dunia. Bagiku sendiri, hidup normal seperti orang lain saja adalah sebuah kemewahan.
Aku masih berjuang dengan autoimun dan depresi yang sering datang dengan bergandengan tangan. Kadang aku bertanya-tanya, jika hidup ini adalah doa yang panjang, apakah aku pantas berdoa meminta kesembuhan lahir dan batin? Rasanya kata normal itu sudah jauh sekali dari hidupku.
Empat tahun lalu, aku pindah ke Jogja. Saat itu, yang kuinginkan hanyalah pergi ke kota di mana tidak ada yang mengenalku. Mulai dari nol lagi. Maka aku pindah ke sana untuk melanjutkan S2. Namun ternyata Jogja menjadi saksi bisu di mana aku sering bertengkar dengan kepalaku sendiri, berusaha menjadi normal di saat hidupku semakin kacau.
Kepalaku terus berisik sampai-sampai berpengaruh ke fisikku. Sesak napas saat panik sudah menjadi makananku setiap hari kala itu. Malam yang dingin di Jogja tak membantuku untuk tidur lebih nyenyak. Malam di Jogja banyak kuhabiskan dengan terjaga, memaksa tubuhku untuk fokus ke tesis pun tak bisa—yang aku mampu lakukan hanyalah terjaga sampai tubuhku kelelahan dan tertidur. Aku merasa hidup di Jogja itu menyesakkan. Bukan karena kotanya, tapi karena pikiran dan suara-suara jahat di kepalaku mendominasi. Ditambah lagi, obat autoimunku juga membuat mood makin berantakan. Aku seperti diserang dari berbagai sisi.
Suatu hari, teman-temanku berinisiatif membantuku mengerjakan tesis, pekerjaannya berat karena tesisku melibatkan penelitian di laboratorium yang mengharuskan aku untuk mengangkat barang-barang berat seperti batu split dan pasir. Mungkin mereka paham kalau aku tak terbiasa meminta pertolongan — terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Setelah akhirnya mendapat bantuan teman-teman, beban itu perlahan menjadi lebih ringan. Akhirnya aku mengerti, meminta bantuan orang lain itu bukan berarti kau lemah.
Pindah ke Jogja di tahun 2022 adalah keputusan terbaikku selama hidup di dunia. Ternyata salah satu pencarian hidupku ada di sana, dalam bentuk orang-orang asing yang akhirnya menjadi teman-temanku dalam perkuliahan selama 2 tahun di Jogja.
Bersama mereka, aku perlahan mengumpulkan kembali kepingan-kepingan diriku yang sempat hilang karena depresi dan autoimun, lalu belajar menjadi diriku sendiri lagi— walau masih berupa kepingan yang tak utuh.
Akhirnya aku paham kenapa Jogja disebut kota istimewa, karena aku datang ke sana untuk melarikan diri, tapi lalu menemukan Jogja sebagai rumah keduaku.
Kuharap, aku bisa ke sana lagi suatu saat nanti, mengenang hari-hari yang kuhabiskan bersama teman-teman.
메타데이터
- post_id
- 68f9fc87d47c
- slug
- akhirnya-aku-paham-kenapa-jogja-istimewa-68f9fc87d47c
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/akhirnya-aku-paham-kenapa-jogja-istimewa-68f9fc87d47c
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/akhirnya-aku-paham-kenapa-jogja-istimewa-68f9fc87d47c
- author_url
- https://medium.com/@windyoctarina
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 16:30:55