Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.
Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.

Ada satu kalimat yang terus tinggal di benakku sejak aku menjadi santri. Kalimat itu adalah “tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”
Kalimat itu pertama kali kudengar ketika diucapkan oleh seorang ustadz sepuh saat memberi nasihat di depan teman-teman seangkatanku.
Saat mendengar kalimat itu, aku menerimanya begitu saja, tanpa bertanya apa maksudnya. Mungkin karena saat itu aku masih remaja.
Dulu aku mengira tanda dewasa adalah kemampuan bertahan hidup di dunia nyata. Bagiku waktu itu, bertahan hidup berarti mendapatkan pekerjaan, mempunyai gaji sendiri, tinggal sendiri, dan bisa bersenang-senang tanpa larangan dari orang tua.
Tapi ternyata, memiliki semua itu tidak serta-merta membuatku merasa dewasa.
Entah sejak kapan aku mulai mempertanyakan bayanganku sendiri tentang dewasa.
Mungkin aku mulai menyadarinya ketika aku duduk sendiri di kamar kos di suatu hari Rabu setelah aku pulang bekerja. Saat itu, aku membuka ponsel, tanpa tahu harus berbuat apa.
Di momen itu, terlintas satu pertanyaan di benakku.
“Apakah aku sekarang sudah dewasa, atau hanya ragaku yang menua?”
Sampai sekarang, aku masih belum punya jawabannya.
메타데이터
- post_id
- 692ea39c1883
- slug
- tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-692ea39c1883
- url
- https://medium.com/@rail./tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-692ea39c1883
- canonical_url
- https://medium.com/@rail./tua-itu-pasti-dewasa-itu-pilihan-692ea39c1883
- author_url
- https://medium.com/@rail.
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 03:42:49