masih tentang langit
Langit yang sering kuceritakan padamu itu, kini sedang kupandangi. Kali ini, ia sedang tidak biru melainkan hitam — tentu saja karna ini…
masih tentang langit
Langit yang sering kuceritakan padamu itu, kini sedang kupandangi. Kali ini, ia sedang tidak berwarna biru melainkan hitam — tentu saja karna ini malam. Masih sama cantiknya, ia dipenuhi bintang-bintang dan, oh ada awan juga! Hanya tipis dan terus bergerak.
Beginilah aku memandang langit, begitu menakjubkan. Sama menakjubkannya seperti gunung yang kokoh dan samudra yang menghampar. Tapi langit terasa lebih istimewa bagiku. Ia begitu mudah kujumpai. Hanya perlu menengadahkan wajah saja, aku sudah memandangnya. Kapanpun dan dimanapun.
Langit begitu menenangkan, seolah merayu “maukah kau ceritakan padaku?”. Lalu aku mulai menciptakan dialog sendiri di dalam kepalaku. Menceritakan semua harapan dan hal-hal menakjubkan yang telah dan sedang kulalui.
Huhh, langit jauh sekali ya, tinggi di atas sana. Tapi seperti kubilang di awal, langit itu istimewa. Ia bisa begitu jauh dan begitu dekat dalam waktu yang sama. Ya.
Sejauh mata mampu memandang dan sedekat bisikan sujud yang menentramkan.
Bagaimana bisa? Berbisik ke bumi namun terdengar hingga penjuru langit? Jarak fisiknya menjauh, namun jarak batinnya justru semakin dekat, erat dan mendekap.
메타데이터
- post_id
- 696f989f84bc
- slug
- masih-tentang-langit-696f989f84bc
- url
- https://medium.com/@risanurhidayah123/masih-tentang-langit-696f989f84bc
- canonical_url
- https://medium.com/@risanurhidayah123/masih-tentang-langit-696f989f84bc
- author_url
- https://medium.com/@risanurhidayah123
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-25 07:36:07