Jika dunia adalah neraka, maka aku penjaganya .
Hari — hari berlalu terurai dalam waktu yang semakin carut marut. Dunia sudah muak menghadirkan kebaikannya di antara manusia yang tidak…
Jika dunia adalah neraka, maka aku penjaganya .
Hari — hari berlalu terurai dalam waktu yang semakin carut marut. Dunia sudah muak menghadirkan kebaikannya di antara manusia yang tidak puas nafsunya. Sehingga, kini Dunia membiarkannya. Maka dari itu, aku mengambil alih menjadi penengah di anatara carut marut dunia. Awalnya tugasnya sederhana, hanya memberikan hukuman kepada maling sepeda, menggebuki pelaku pencuri dalaman wanita, memenjara pencuri kendaraan bermotor yang menggunakan senpi sebagai senjata.
Tapi apa daya, aku hanya sendiri dan dunia terlalu carut marut untuk diurus sendirian. Maka dari itu, aku memanggil bala bantuan. Mereka kusebut sebagai Mata-Mata Dunia. Setiap Mata-Mata, memiliki tugas yang sama, yaitu melaporkan setiap carut marut yang ada di dunia. Aku tersenyum senang dan bangga, menganggap semua akan berjalan baik baik saja. Karena, sekarang banyak yang membantuku, untuk menjadi penengah dari carut marut dunia.
Tiga bulan pertama, kami berhasil meringkus berbagai macam kejahatan. Mulai dari korupsi pengadaan minyak goreng, kasus pelecehan seksual pada anak-anak, hingga kasus pencurian kendaraan bermotor berbasis sindikat. Selanjutnya, tentu saja aku menyerahkan pelaku yang berhasil kami tangkap ke neraka. Aku merasa menjadi pahlawan, berhasil meringkus berbagai macam kejahatan, memasukkan orang ke Neraka.
Melaksanakan tugas ini, sangat menyenangkan. Aku bisa menilai, menimbang dan memasukkan orang dalam neraka sesuka hati. Mata-Mata Dunia dan Aku, memiliki kewenangan absolut atas carut marut dunia. Aku merasa di atas angin, memiliki kuasa dan memegang segalanya. Akulah Hukum Dunia.
Suatu masa, aku merasa bosan, menjebloskan orang ke neraka tidak menarik lagi. Karena, neraka selalu menghukum mereka berkali kali. Aku bosan mendengarkan teriakan manusia yang itu itu lagi. Jadi, aku kembali beraksi, aku yang sedang bosan dan berkuasa membujuk Algojo Neraka untuk berhenti menghukum Terpidana, aku beralasan telingaku sakit mendengar teriakan yang tiada hentinya. Algojo Neraka setuju denganku, Terpidana berterima kasih.
Aku tentu saja sangat bahagia, teriakan kunjung berkurang dan Terpidana memberiku macam-macam sebelum masuk Neraka. Aku berpikir, Manusia memang hebat, mengetahui bahwa Akulah Hukum Dunia. Aku tertawa, menikmati hidup di atas kemaslahatan, ongkang-ongkang kaki atas nasib Terpidana. Mata- Mata Dunia, sekarang tidak bekerja sendiri sendiri lagi. Mereka bekerja untukku, aku yang menimbang dan memutuskan apakah Manusia boleh masuk ke Neraka.
Dunia ternyata memperhatikan. Carut marut dunia semakin tak terelakkan. Aku menggeram kesal. Aku kan sudah melakukan yang seharusnya, mengapa Dunia tidak berbenah dengan sendirinya? Aku membiarkan. Dunia menjadi ladang abu. Konflik merajalela, Manusia semakin tidak patuh padaku Sang Hukum Dunia.
“Aku bersumpah akan menghukum mereka semua” Ujarku,
Akhirnya, aku memasukkan semua Manusia yang menentangku ke Neraka, untuk membuktikan bahwa akulah Hukum Dunia. Tapi, aku lupa Hukum Dunia ada, apabila terdapat pembandingnya. Terlalu banyak Manusia berada dalam Neraka. Sehingga Hukum Dunia kehilangan kepercayaannya.
Jika Dunia adalah Neraka, Maka Aku penjagaNya.
Itu kataKu, saat dunia carut marut. Tapi, siapa Aku dalam menentukan carut marut dunia. Aku hanya berusaha menjadi penjaga. Lalu kenapa, saat Aku menjaga, Dunia menjadi lebih berantakan dari apa yang aku kira? itu bukan salahKu. Aku penjaga Neraka. Akulah Sang Hukum Dunia.
메타데이터
- post_id
- 6992a39c8fd2
- slug
- jika-dunia-adalah-neraka-maka-aku-penjaganya-6992a39c8fd2
- url
- https://medium.com/@shalsa/jika-dunia-adalah-neraka-maka-aku-penjaganya-6992a39c8fd2
- canonical_url
- https://medium.com/@shalsa/jika-dunia-adalah-neraka-maka-aku-penjaganya-6992a39c8fd2
- author_url
- https://medium.com/@shalsa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-11 22:20:54