← Back to list

Tentang Takut, dan Upayaku Bertahan

Akhir-akhir ini aku hidup bersama rasa takut.

Svmmr Corn · 2026-03-10 14:11 · 2 claps · 2.0 min read
#takut #bertahan #live-life
Open on Medium ↗

Tentang Takut, dan Upayaku Bertahan

Photo by Senka Draganić from Pinterest

Photo by Senka Draganić from Pinterest

Akhir-akhir ini aku hidup bersama rasa takut.

Ia tidak selalu berbentuk pikiran, sering kali justru muncul lebih dulu di tubuhku: tangan yang gemetar, dada yang bergemuruh, dan napas yang terasa sempit. Ketakutan itu membuat pikiranku tidak lagi bisa berpikir jernih. Yang hadir hanya kemungkinan-kemungkinan buruk, seolah hidup sedang bersiap mengulang luka yang sama.

Aku tahu, ketakutan ini tidak serta-merta lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman patah, dari kepercayaan yang pernah runtuh, dan dari rasa sakit yang dulu terasa terlalu besar untuk ku tanggung sendirian. Maka ketika muncul satu kejadian kecil yang mengguncang diriku, pikiranku segera melompat jauh: “Ini akan berakhir buruk. Aku akan patah lagi.”

Ada orang yang berkata, aku tidak seharusnya menyimpulkan segalanya hanya dari satu peristiwa. Secara logika, mungkin ia benar. Tapi ketakutanku tidak berjalan di jalur logika. Ketakutanku berjalan di jalur ingatan. Ia bekerja sebagai sistem perlindungan, bagaimana cara tubuh dan pikiranku seolah berkata, “Jangan lengah. Aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi.”

Aku sempat bertanya pada diriku sendiri: Apa dengan berpikir positif aku bisa menenangkan kekhawatiran ini? Siapa yang mampu menjamin itu?

Dan jawabannya terasa jujur: tidak semudah itu dan tidak ada yang bisa menjamin itu.

Karena yang kubutuhkan bukanlah keyakinan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang kubutuhkan adalah rasa aman.

Aku mulai memahami bahwa berpikir tenang bukan berarti menutup mata dari kemungkinan buruk. Berpikir tenang berarti memberi ruang pada diriku untuk berkata: “Aku takut, dan itu masuk akal.” Tanpa harus langsung menyimpulkan masa depan. Tanpa harus memaksa diri kuat.

Tidak ada siapa pun yang bisa menjamin bahwa dengan berpikir positif aku tidak akan patah. Tidak ada jaminan seperti itu dalam hidup. Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari jaminan, padahal yang lebih penting adalah kesiapan untuk hadir pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi.

Aku tidak takut pada kejadian buruk semata. Aku takut pada rasa sakit yang mungkin kembali, dan ketakutan bahwa aku tidak akan sanggup menanggungnya.

Maka hari ini, aku mencoba jalan yang lebih pelan. Aku belajar tidak bertanya, “Bagaimana supaya aku tidak patah?” melainkan, “Apa yang bisa kulakukan ketika rasa takut ini datang?”

Kadang jawabannya sangat sederhana: berhenti sejenak, meletakkan tangan di dada, mengingatkan diri bahwa saat ini aku masih aman. Kadang jawabannya adalah mengizinkan diri menangis, atau tidak mengambil keputusan apa pun hari ini.

Aku sedang belajar bahwa ketenangan bukan untuk meniadakan rasa takut, melainkan kemampuan untuk tidak meninggalkan diriku sendiri ketika takut itu hadir.

Dan jika suatu hari aku memang kembali patah, semoga aku tidak menyambutnya dengan menyalahkan diriku lagi. Semoga aku bisa berkata: aku sudah berusaha menjaga diriku semampuku. Semoga aku tahu bahwa rasa takut ini bukan musuh, melainkan bekas luka yang masih ingin dilindungi.

Hari ini, aku belum sepenuhnya tenang. Tapi aku masih di sini. Dan itu sudah cukup untuk saat ini.


메타데이터
post_id
69b3b32ced4e
slug
tentang-takut-dan-upayaku-bertahan-69b3b32ced4e
url
https://medium.com/@svmmrcorn/tentang-takut-dan-upayaku-bertahan-69b3b32ced4e
canonical_url
https://medium.com/@svmmrcorn/tentang-takut-dan-upayaku-bertahan-69b3b32ced4e
author_url
https://medium.com/@svmmrcorn
status
ok
fetched_at
2026-07-12 01:49:19