← Back to list

Kontribusi Budaya “Asbun”

#Esai04 “Asbun” Asal Bunyi

Riza FM · 2026-07-27 22:21 · 0 claps · 2.8 min read
#stereotypes #asalbunyi #asbun #masyarakat #mental-health
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry

Kontribusi Budaya “Asbun”

Esai04 “Asbun” Asal Bunyi

Kucoba memahami tempatku berlabuh

Terdampar di keruhnya satu sisi dunia

…..

Lirik lagu kirana dari Dewa 19 ini mungkin bisa merepresentasikan kehidupan saya yang sedang memahami society dan kehidupan bermasyarakat di perumahan yang mulai belajar merangkak.

Saya mencoba memahami dalam membentuk identitas komunal yang baru tak ayal akan banyak pertentangan dan pergesekan sosial yang seharusnya bisa saling mengerti satu sama lain tentunya untuk tujuan guyub rukun sepanjang kita tinggal pada komunitas tersebut.


Cerita awalnya, kami berencana mengadakan pertemuan yang bertujuan untuk membasmi ulat bulu yang menyerang wilayah pemukiman di perumahan yang mulai merajalela, sampai sekitaran jam 10 jumat malam akhirnya diputuskan akan dilaksanakan kerja bakti bersama di hari minggu diikuti dengan penyemprotan obat hama ulat bulu di sekitar perumahan.

Keesokan harinya istri saya sempat curhat bahwa pada malam pertemuan itu istrinya mas anu ‘panggil saja begitu’ sempat “diceramahi” oleh istri tetangga lainnya, sampai beliau berurai air mata dan anehnya si penceramah tidak merasa menyinggung perasaan lawan bicaranya yang dia “ceramahi”, padahal beliau termasuk orang yang pertama tinggal di komplek ini, kok bisa ada orang baru yang belum sempat kulonuwun sekate-kate ngomong sesuatu yang menyakitkan warga lainnya, apalagi dilakukan oleh orang baru “ucap saya”.

Ketika hari pelaksanaan kegiatan penyemprotan itu, tetangga yang diceramahi tidak terlihat batang hidungnya dan alasannya sedang di luar kota. Meskipun begitu, saya memahami alasan yang sebenarnya beliau tidak hadir pada saat kerja bakti.

Beberapa hari berselang, ada notif wa dari grup komplek perumahan yang mau mengadakan perpisahan dalam rangka penutupan acara tujuhbelasan, acara makan-makan ikan bakar bersama, kebetulan saya tidak ikut karena bertugas di luar kota sampai akhir pekan, dan istri saya pun tidak mengikuti acara tersebut.

Tapi entah kenapa ketika istri diajak untuk bergabung dan menolak dengan sopan karena sudah terlalu capek dengan kegiatan bekerja di siang hari dan besok pun harus menyiapkan segala sesuatunya sendiri untuk anak-anak sekolah, ada saja selentingan ucapan yang kurang menyenangkan yang diterima, dan itu sampai ke telinga saya karena istri pasti curhat.

Anehnya setelah pertemuan ala gala dinner itu pun ada kejadian yang kurang lebih sama dengan kejadian sebelumnya, tapi kali ini yang kena “tausiyah/ceramah” tetangga lainnya, “diceramahi” dengan topik berbeda dengan cerita sebelumnya.

Maksudnya “diceramahi” di sini adalah gaya bertutur seseorang yang menggiring pernyataan yang dapat menyinggung/merendahkan orang lain baik sengaja maupun tidak disengaja. Perkataan seseorang yang “Asbun” atau asal bunyi lebih tepatnya, asal jeplak yang bisa saja menyinggung lawan bicara tanpa memandang lawan bicaranya siapa dan apa yang dia bicarakan.

Ada istilah yang sering kita dengar “lidah tak’ bertulang” wajar ketika seorang yang pandai bicara dapat meliuk-liuk dengan indah tapi ingat dari lidah juga seseorang bisa terpeleset, membunuh seseorang tanpa pisau, menjatuhkan tanpa mesti mendorong, ucapan toxic, membuat air muka bangga menjadi malu, mengubah dermawan menjadi takabur, dan menimbulkan luka tanpa mesti menggoreskannya.

Terlebih lagi orang yang tidak dapat menahan lisannya seperti orang yang sakit dan perlu berobat kata-kata karena sering kepleset, sering dekat dengan dusta dan ego belaka.

Jahatnya lisan seseorang jika sudah terbiasa berperilaku seperti itu hanya akan menyumbang budaya asbun dalam masyarakat yang nantinya bakal menimbulkan konflik horizontal dan stigma negatif atau bahkan isu gender (stereotip); yaitu sikap merendahkan, meremehkan. Posisi dan status sosial itu bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan.

Menurut Dr. Indra Kertati, M.Si bentuk-bentuk isu gender dan ketidakadilan gender dalam masyarakat kita adalah ketidakadilan yang bersumber dari perbedaan sifat dan peran yang dilekatkan masyarakat kepada jenis kelamin laki-laki, perempuan dan interseks. Dimana perbedaan gender yang dibentuk oleh masyarakat dapat berubah dari waktu ke waktu, namun diyakini sebagai sesuatu yang baku (kodrat).

Kadang seseorang yang mengimani/meyakini kebenaran ucapannya yang mendorong untuk disampaikan ke khalayak ramai belum tentu itu menjadi compatible dengan orang lain yang mendengarkannya, hal ini perlu pemupukan, pemahaman dan pendidikan soal gender yang belum membumi sehingga kita harus aware atau sadar tentang peran masing-masing.

Kesadaran inilah yang sebenarnya hilang dari sisi hidup masyarakat kita, baik dalam lingkup yang kecil seperti keluarga, bertetangga, bermasyarakat maupun berbangsa, konflik horizontal karena sentimen-sentimen sebiji jarum pentol yang bisa jadi bola liar tak terselesaikan

Bagaimana mungkin kita mau membangun-bangunan sosial yang kokoh jika yang para pembangunnya pada sakit mental, sori yee…NGIMPI?!


메타데이터
post_id
69baf6e76b52
slug
kontribusi-budaya-asbun-69baf6e76b52
url
https://medium.com/@rizafm/kontribusi-budaya-asbun-69baf6e76b52
canonical_url
https://medium.com/@rizafm/kontribusi-budaya-asbun-69baf6e76b52
author_url
https://medium.com/@rizafm
status
ok
fetched_at
2026-08-04 04:20:33