Dari Hermeneutika Filosofis ke Hermeneutika Antaragama
Dalam banyak praktik dialog antaragama, khususnya di Indonesia, pendekatan yang paling sering digunakan adalah mencari titik temu atau…
Dari Hermeneutika Filosofis ke Hermeneutika Antaragama
Dalam banyak praktik dialog antaragama, khususnya di Indonesia, pendekatan yang paling sering digunakan adalah mencari titik temu atau kesamaan esensial antaragama.[1] Pendekatan ini sering kali dipengaruhi oleh corak pemikiran perennialisme yang beranggapan bahwa pada tingkat terdalam semua agama memiliki inti spiritual yang sama.[2] Oleh karena itu, dialog antaragama diarahkan untuk menemukan persamaan tersebut sebagai dasar harmoni.
Namun pendekatan semacam ini menyimpan persoalan epistemologis. Ketika dialog hanya diarahkan untuk mencari kesamaan, perbedaan justru sering dianggap sebagai masalah yang harus direduksi atau bahkan diabaikan. Akibatnya, dialog antaragama kehilangan kedalaman reflektifnya dan berubah menjadi semacam sekadar retorika harmoni yang tidak benar-benar menyentuh realitas historis maupun teologis masing-masing tradisi.
Dalam konteks ini, hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer menawarkan perspektif yang berbeda. Gadamer tidak melihat perbedaan sebagai hambatan bagi pemahaman, melainkan sebagai jarak historis yang justru produktif.[3] Pemahaman tidak lahir dari penghapusan perbedaan, tetapi dari proses dialog yang memungkinkan dua cakrawala yang berbeda saling berjumpa. Dengan demikian, fokus dialog antaragama bukan lagi semata-mata mencari “apa yang sama”, melainkan bagaimana subjek-subjek yang berbeda dapat saling memahami dalam kesadaran akan perbedaan tersebut.

https://id.pinterest.com/pin/689965605436049155/
Hermeneutika Filosofis sebagai Landasan
Kerangka hermeneutika Gadamer dapat menjadi landasan konseptual bagi dialog antaragama yang lebih reflektif. Dalam hal ini terdapat tiga konsep penting yang saling berkaitan dan membentuk struktur pemahaman hermeneutik filosofis Gadamer.
Pertama adalah konsep Vorurteil atau prasangka. Dalam pengertian Gadamer, prasangka bukanlah sesuatu yang sepenuhnya negatif sebagaimana dipahami dalam rasionalisme modern. Prasangka justru merupakan pra-pemahaman yang memungkinkan seseorang memasuki proses interpretasi.[4] Jika dilihat dari dialog antaragama, hal ini berarti bahwa seseorang tidak pernah datang ke ruang dialog dengan kesadaran yang kosong. Seseorang selalu membawa tradisi iman, pengalaman religius, dan kerangka teologis yang membentuk cara pandangnya terhadap agama lain. Dengan demikian, dialog antaragama bukanlah pertemuan antara subjek yang netral, melainkan pertemuan antara tradisi-tradisi yang hidup.
Kedua adalah konsep fusion of horizons atau peleburan cakrawala. Gadamer memandang bahwa pemahaman terjadi ketika cakrawala penafsir berjumpa dengan cakrawala yang lain.[5] Dalam konteks antaragama, peleburan cakrawala tidak berarti seseorang harus meninggalkan identitas religiusnya atau meleburkan semua tradisi menjadi satu. Tujuan dialog bukanlah konversi ataupun sinkretisme, melainkan perluasan wawasan diri. Melalui perjumpaan dengan tradisi religius yang berbeda, seseorang dapat melihat kembali keyakinannya sendiri dalam perspektif yang lebih luas.
Ketiga adalah konsep Wirkungsgeschichte, yaitu kesadaran akan sejarah yang bekerja dalam diri penafsir. Gadamer menekankan bahwa pemahaman manusia selalu dibentuk oleh sejarah. Cara seseorang melihat teks, tradisi, atau bahkan agama lain tidak pernah terlepas dari pengalaman sejarah yang melatarbelakanginya.[6] Dalam dialog antaragama, kesadaran ini menjadi sangat penting karena hubungan antaragama sering kali dibentuk oleh sejarah panjang melipti sejarah konflik, kolonialisme, maupun koeksistensi yang damai. Tanpa kesadaran terhadap sejarah yang bekerja tersebut, dialog mudah terjebak dalam ilusi netralitas yang sebenarnya tidak pernah ada.
Menuju Hermeneutika Antaragama
Jika kerangka hermeneutika Gadamer diterapkan dalam konteks dialog antaragama, maka ia dapat diterjemahkan ke dalam beberapa prinsip praktis. Praktis ini terdapat pada buku Interrelegious Hermeneutics karya Catherine Cornille dan Cristhopher Conway, dnegan hermeneutika Paul Ricour sebagai dasar dari sebagian pembahasannya.
Pertama adalah retrieval of internal resources, yaitu upaya menemukan sumber-sumber dari dalam tradisi sendiri yang memungkinkan keterbukaan terhadap yang lain. Setiap agama pada dasarnya memiliki perangkat etis dan teologis yang dapat menjadi dasar penghargaan terhadap keberagaman.[7] Dalam tradisi Islam, misalnya, konsep rahmah, keadilan, dan pengakuan terhadap pluralitas manusia dapat menjadi titik tolak bagi dialog yang konstruktif. Pendekatan ini penting karena keterbukaan terhadap agama lain tidak harus selalu berasal dari luar tradisi, tetapi dapat ditemukan dari dalam kerangka iman itu sendiri.
Kedua adalah pemahaman terhadap yang lain secara epistemologis.[8] Dalam banyak kasus, agama lain sering dipahami melalui kategori-kategori milik tradisi sendiri.[9] Akibatnya, makna yang dimiliki oleh tradisi tersebut sering kali “diterjemahkan secara sepihak”. Hermeneutika antaragama menuntut upaya serius untuk memahami agama lain sebagaimana ia dipahami oleh para penganutnya, dengan cara tawaran hospitalitas lingusitik Paul Recoeur.[10] Dengan kata lain, dialog tidak boleh menjadi bentuk kolonialisasi makna, di mana satu tradisi memaksakan kerangka konseptualnya kepada tradisi yang lain.
Ketiga adalah apropriasi dan reinterpretasi. Perjumpaan dnagan tradisi religius lain dapat membuka kemungkinan bagi reinterpretasi praktik keagamaan sendiri. Unsur-unsur tertentu dari tradisi lain misalnya praktik meditasi, etika sosial, atau spiritualitas tertentu dapat memberi inspirasi baru bagi kehidupan religius seseorang tanpa harus mengaburkan identitas agamanya.[11] Dalam hal ini, dialog antaragama menjadi ruang di mana tradisi-tradisi religius saling memperkaya secara kreatif.
Mengapa Wirkungsgeschichte Dibutuhkan Hermenutika Antaragama?
Salah satu problem mendasar dalam banyak model dialog antaragama adalah kecenderungannya untuk hanya berfokus pada teks-teks teologis atau pada interaksi dialogis yang terjadi pada saat ini. Pendekatan semacam ini sering mengabaikan fakta bahwa setiap penafsir membawa beban sejarah ketika ia memasuki ruang dialog.
Hubungan antaragama tidak pernah berlangsung dalam ruang kosong. Ia selalu dibentuk oleh pengalaman sejarah yang panjang, termasuk pengalaman konflik, trauma kolektif, maupun relasi kekuasaan yang tidak seimbang. Tanpa kesadaran terhadap dimensi historis ini, dialog antaragama berisiko menjadi sekadar formalitas yang berlangsung di permukaan, tanpa benar-benar menyentuh akar persoalan.
Di sinilah konsep Wirkungsgeschichte menjadi sangat penting. Kesadaran akan sejarah yang bekerja dalam diri penafsir memungkinkan seseorang untuk menyadari bahwa prasangka terhadap agama lain sering kali bukan semata-mata hasil refleksi teologis, tetapi juga produk dari pengalaman historis yang diwariskan dari masa lalu. Dengan menyadari proses historis tersebut, dialog antaragama dapat berlangsung secara lebih jujur dan reflektif.
Kesadaran ini juga membuka kemungkinan bagi transformasi pemahaman. Ketika seseorang menyadari bahwa cakrawala pemahamannya dibentuk oleh sejarah, ia menjadi lebih terbuka untuk mengoreksi prasangka yang diwarisi dari masa lalu. Dalam pengertian ini, hermeneutika Gadamer tidak hanya menyediakan kerangka teoritis bagi dialog antaragama, tetapi juga menawarkan kesadaran reflektif yang memungkinkan dialog itu benar-benar transformatif.
Dengan demikian, dialog antaragama tidak lagi sekadar mencari kesamaan abstrak antartradisi, tetapi menjadi proses hermeneutik yang memungkinkan tradisi-tradisi religius yang berbeda saling memahami dalam kesadaran akan sejarah, perbedaan, dan kemungkinan perluasan cakrawala pemahaman manusia.
Daftar Pustaka
Adi, Brian Trinanda K. “The Perennialism Approach toward the Unity of Religions.” Jurnal Suarga 2, no. 2 (2023). https://doi.org/10.24090/suarga.v2i2.9635.
Cornille, Catherine., and Christopher. Conway. Interreligious Hermeneutics. Eugene: Cascade Books, 2010.
Gadamer, Hans-Georg. Truth and Method. New York: Continuum, 2004.
Kearney, Richard. Routledge History of Philosophy Volume VIII. New York: Routledge, 1994.
Muslih, Moh., Dewi Anggraeni, and Mochamad Iqbal Abdul Ghonii. “Harmony in Diversity: Exploring Religious Moderation Perspectives through Interfaith Dialogue.” Jurnal Penelitian 20, no. 2 (December 2023). https://doi.org/10.28918/jupe.v20i2.2275.
[1] Moh. Muslih, Dewi Anggraeni, and Mochamad Iqbal Abdul Ghonii, “Harmony in Diversity: Exploring Religious Moderation Perspectives through Interfaith Dialogue,” Jurnal Penelitian 20, no. 2 (December 2023), 171. https://doi.org/10.28918/jupe.v20i2.2275.
[2] Brian Trinanda K. Adi, “The Perennialism Approach toward the Unity of Religions,” Jurnal Suarga 2, no. 2 (2023), 10. https://doi.org/10.24090/suarga.v2i2.9635.
[3] Richard Kearney, Routledge History of Philosophy Volume VIII (New York: Routledge, 1994), 245.
[4] Hans-Georg Gadamer, Truth and Method (New York: Continuum, 2004), 273.
[5] Hans-Georg Gadamer, 305.
[6] Hans-Georg Gadamer, 299.
[7] Catherine. Cornille and Christopher. Conway, Interreligious Hermeneutics (Eugene: Cascade Books, 2010), 10–1.
[8] Cornille and Conway, 8.
[9] Cornille and Conway, 11.
[10] Cornille and Conway, 12–3.
[11] Cornille and Conway, 15.
메타데이터
- post_id
- 6a408e02db48
- slug
- dari-hermeneutika-filosofis-ke-hermeneutika-antaragama-6a408e02db48
- url
- https://medium.com/@ahmdroizz/dari-hermeneutika-filosofis-ke-hermeneutika-antaragama-6a408e02db48
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmdroizz/dari-hermeneutika-filosofis-ke-hermeneutika-antaragama-6a408e02db48
- author_url
- https://medium.com/@ahmdroizz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-15 00:52:38