Kau Tidak Mencintai, Kau Hanya Gemar Mengoleksi Hati
Aku tak menerima sisa.
Kau Tidak Mencintai, Kau Hanya Gemar Mengoleksi Hati
Foto oleh runda choo di Unsplash
Mula-mula aku mengira kau adalah pohon. Tempat seekor burung boleh pulang tanpa takut rantingnya dipinjamkan kepada musim lain. Ternyata kau hanyalah taman kota. Siapa saja boleh singgah, memetik teduhmu, meninggalkan jejak, lalu datang lagi dengan nama yang berbeda. Dan bodohnya, aku pernah percaya bahwa bangku yang kududuki adalah milikku seorang. Semesta rupanya punya selera humor yang buruk. Ia terus mengirimkan wajah-wajah yang tak pernah kuminta. Potretmu bersama perempuan-perempuan itu tumbuh di layar ponselku seperti jamur selepas hujan. Liar, lembap, dan memuakkan. Bahkan algoritma tahu bahwa kau gemar menanam harapan di lebih dari satu halaman. Aku tak perlu menjadi detektif. Kebohonganmu terlalu rajin memperkenalkan diri. Kau tahu apa yang paling lucu? Bukan kenyataan bahwa kau memiliki perempuan lain. Melainkan caramu menyajikan kasih seperti prasmanan.
Semua orang boleh mengambil seperlunya, lalu kau berdiri di ujung meja, tersenyum seolah kemurahan hati adalah bentuk cinta yang paling mulia. Tidak. Itu hanya cara paling sopan untuk menyebut kerakusan. Kau ingin dipuja oleh banyak mata, dicintai oleh banyak dada, lalu menyebutnya ketulusan. Padahal kau hanyalah pengemis yang kecanduan tepuk tangan. Kau mengumpulkan hati seperti kolektor mengumpulkan perangko. Disusun rapi. Dibanggakan. Tak pernah benar-benar dibaca. Dan aku...
Aku muak menjadi benda pajangan di museum egomu. Jangan salah mengira diamku sebagai kesetiaan. Diam hanyalah cara paling anggun untuk menguburkan jijik. Aku tidak akan berebut dengan perempuan mana pun. Serigala tidak pernah berebut bangkai dengan lalat. Sebab sejak awal mereka memang menginginkan makanan yang berbeda. Kalau memang dia yang kautuju, peluklah.
Jangan sisakan lenganmu untuk kembali mengetuk pintuku ketika musim bosan menggigitmu.
Aku tidak menerima cinta yang datang dengan bau tubuh orang lain. Aku tidak menerima kasih yang berpindah-pindah seperti mata uang receh. Aku tidak menerima sisa. Apalagi remah yang kausapu dari meja setelah pesta usai. Simpan saja semuanya. Bawalah seluruh kebiasaanmu mencintai banyak perempuan sekaligus. Bawalah mulutmu yang fasih mengucapkan kalimat serupa kepada telinga yang berbeda. Bawalah tanganmu yang tak pernah lelah berpindah alamat. Aku tidak sedang kalah. Aku hanya akhirnya sadar bahwa berlian memang tidak pernah diletakkan di etalase obral. Dan kau... Kau bukan kehilangan aku. Kau hanya kehilangan satu-satunya orang yang pernah menganggapmu lebih berharga daripada kenyataanmu sendiri.
Mulai hari ini, aku berhenti menjadi pelabuhan bagi kapal yang terlalu gemar menghafal koordinat laut lain. Pergilah.
Aku tidak akan menjadi perempuan yang berdiri di garis akhir hanya untuk memenangkan laki-laki yang bahkan tak sanggup memilih satu arah angin.
메타데이터
- post_id
- 6a900f49d71d
- slug
- kau-tidak-mencintai-kau-hanya-gemar-mengoleksi-hati-6a900f49d71d
- url
- https://medium.com/@zulfasalsabilamutia/kau-tidak-mencintai-kau-hanya-gemar-mengoleksi-hati-6a900f49d71d
- canonical_url
- https://medium.com/@zulfasalsabilamutia/kau-tidak-mencintai-kau-hanya-gemar-mengoleksi-hati-6a900f49d71d
- author_url
- https://medium.com/@zulfasalsabilamutia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13