← Back to list

Musikal Perahu Kertas — Hidupkan Lagi Mimpi-mimpi

Dunia berjalan terlalu cepat. Dan ini adalah tulisan tidak singkat tentang musikal terbaik yang pernah ada.

A.F. Auzan · 2026-02-24 14:41 · 33 claps · 7.2 min read
#musikal #perahu-kertas #dee-lestari #adaptasi #novel
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

Musikal Perahu Kertas — Hidupkan Lagi Mimpi-mimpi

Poster Musikal Perahu Kertas (gambar milik pribadi)

Poster Musikal Perahu Kertas (gambar milik pribadi)

Dunia berjalan terlalu cepat Tiada lagi pilihan selain ‘tuk bertahan Dunia menuntut terlalu keras Hampa ini terasa begitu menyakitkan Debu semesta, apa artinya?

Tiap kali mendengar kata ‘perahu kertas’, ingatanku terlempar ke 14 tahun silam. Saat itu, Perahu Kertas berlayar di bioskop. Kali itu menjadi kali pertamaku ‘bertemu’ dengan karya Kak Dee. Bukannya aku tidak pernah mendengar nama Kak Dee — hanya saja, aku lebih familiar dengan lagu-lagu yang diciptakan Kak Dee ketimbang dengan novel-novelnya.

Barangkali, jika Perahu Kertas diibaratkan manusia, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kugy — juru dongeng yang rela menempuh jalan berputar untuk menjadi diri sendiri. Keenan — tukang lukis yang berusaha menyibak awan yang menutupi langit demi mencari satu bintang inspirasi. Aku jatuh cinta, pada tokoh dan para pemainnya. Jadi, saat mengetahui Perahu Kertas akan diadaptasi menjadi sebuah musikal, jelas aku luar biasa tertarik.

Seperti apa Kugy dan Keenan ketika diterjemahkan di atas panggung?

Poster Musikal Perahu Kertas (via instagram ruang.seni.pertunjukan)

Poster Musikal Perahu Kertas (via instagram ruang.seni.pertunjukan)

Pertunjukan istimewa di tanggal istimewa

Sewaktu memilih tanggal, aku dan seorang teman sempat bingung, karena… kami cungpret (tertawa seperti anak buah Mas Remi). Kami tidak punya pilihan selain nonton di akhir pekan, tapi akhirnya kami sepakat untuk nonton pada 14 Februari, berharap akan ada sesuatu yang istimewa pertunjukan yang dilayarkan pada tanggal tersebut. Dan ternyata, intuisi kami tidak salah.

Pertunjukan malam itu dibuka langsung oleh Kak Dee!

Sejak berkenalan lewat Perahu Kertas dulu, aku resmi menobatkan diriku sendiri menjadi Agen Neptunus dan Addeection (sebutan untuk penggemar Dee). Aku membaca hampir semua karyanya dan mendengarkan lagu-lagu yang beliau tulis. Jadi… melihat Kak Dee secara langsung, dari jarak sedekat itu, dan mendengarkan Kak Dee membawakan Perahu Kertas di atas panggung, rasanya hatiku penuh.

[embed]Cuplikan saat Kak Dee menyanyikan Perahu Kertas (video milik pribadi)

Sebuah kehormatan menyaksikan panggung itu. Penulis favoritku, membawakan lagu favoritku, di musikal yang kini menjadi musikal favoritku!

Antara tokoh novel, film, dan musikal

Hampir semua orang yang ditemui Kugy berkata bahwa lembar buku sastra tak akan bisa memberi lembar uang. Menjadi juru dongeng takkan membuat Kugy mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Sementara itu, Keenan sang tukang gambar terpaksa harus berjalan di atas karpet yang telah digelar sang ayah. Meski begitu, Keenan tak ingin hanya mengikuti formula.

Kedua manusia itu pun bertemu — menciptakan dongeng yang membawa keajaiban di hati mereka yang percaya.

Novel Perahu Kertas, kalau boleh kubilang, terasa lebih berat dari teenlit, tetapi lebih ringan dari Metropop. Berkisah tentang dua manusia yang rela menempuh jalan berputar demi menjadi diri sendiri, kurasa aku bertemu dengan karya ini di waktu yang tepat. Saat aku sempat khawatir mengenai jalan yang kupilih, novel dan film Perahu Kertas hadir, membuatku percaya dengan kekuatan mimpi.

Hidupkan lagi mimpi-mimpi — sebuah tagline yang menggelitik. Sebagai pembaca novel dan penonton film Perahu Kertas, tentu aku punya ekspektasiku sendiri. Maudy Ayunda dan Adipati Dolken memerankan Kugy dan Keenan dengan sangat apik — uniknya Kugy mampu diterjemahkan dengan baik. Gelisah Keenan mampu dibawakan dengan tepat.

Akan seperti apa kedua tokoh utama kita saat diterjemahkan di atas panggung?

Begitu tirai terangkat, hal yang pertama terlintas dalam pikiranku hanya satu; Alya Syahrani adalah Kugy — melompat keluar dari lembaran kertas. Aneh-nya Kugy, unik-nya Kugy, nyeleneh-nya Kugy, semua berhasil diterjemahkan dengan baik. Kugy begitu hidup di atas panggung. Begitu luwes bergerak dan bercerita. Jika aku tidak menonton film Perahu Kertas, mungkin citra Alya sebagai Kugy akan terus melekat di kepala. Sebagai orang yang juga menonton film Perahu Kertas, baik Alya maupun Maudy berhasil membawakan Kugy dengan cara mereka masing-masing, untuk medium yang sesuai, tanpa membayangi satu sama lain.

Satu hal yang membuat telingaku dimanjakan sepanjang musikal — Alya memiliki kemiripan suara dengan Sherina! (Aku tidak sabar menonton musikal Alya yang lain!)

Zaqqi memberikan rasa tersendiri bagi Keenan di atas panggung. Aku selalu menganggap Adipati adalah sosok Keenan yang kaku — laki-laki yang hanya tahu melukis dan hidup sesuai formula. Cukup mirip dengan bayanganku akan Keenan dalam buku. Namun, Zaqqi berhasil menunjukkan sisi lain dari Keenan — rasanya menyenangkan bisa melihat sosok Keenan yang lebih ceria dan lebih luwes.

Satu hal yang mencuri perhatianku sepanjang musikal — suara Zaqqi mirip dengan suara Adipati!

Aku juga suka bagaimana Christoffer Nelwan menghidupkan tokoh Remi. Sangat berbeda dengan film, Remi versi musikal terasa lebih santai, lebih mudah didekati, lebih ceria, dan lebih supel. Benar-benar seperti rekan kerja di kantor yang sangat, amat ramah. Rasanya, Remi versi musikal adalah Remi yang paling mendekati Remi dalam buku — hutan amazon berjalan. Salut untuk Christoffer Nelwan!

Oh, bagi kamu yang tergabung dalam Tim Luhde, jangan khawatir. Luhde dalam musikal sangat… indah. Aku merasa, tokoh Luhde dalam musikal menjadi tokoh yang menarik rasa iba dari penonton dalam porsi yang pas. Sebagai penonton, tentu aku bisa merasakan sakit yang dirasakan Luhde saat harus merelakan Keenan. Namun, di sisi lain, aku senang karena ada satu adegan yang didedikasikan khusus untuk Luhde, lengkap dengan lagu yang tak kalah menyayat hati dari Cinta yang Tak Mungkin, yang dibawakan oleh Elyzia Mulachela, pemeran Luhde dalam film. Suara Marsha Lavinia cantik sekali!

Oh, ya. Entah itu novel maupun film, Eko dan Noni, sepupu Keenan dan sahabat Kugy, memberikan bumbu komedi tersendiri.

Eko dan Noni versi musikal mungkin tidak diperlihatkan dengan gamblang sebagai tokoh yang memainkan peranan penting dalam ‘jadinya’ Keenan dan Wanda, tetapi Eko dan Noni versi musikal menjadi karakter penting yang mencuri perhatian penonton. Kemunculan mereka membawa angin segar, menurunkan ketegangan dengan memancing gelak tawa. Bagiku, Eko dan Noni dalam musikal adalah penokohan Eko dan Noni terbaik dari tiga medium yang ada!

[embed]Cuplikan adegan pernikahan Eko dan Noni dalam Musikal Perahu Kertas (video milik pribadi)

Maafkan suara tawa yang terdengar, tetapi in this economy, forever we will be EkoNoni! Salut untuk Fathur Ojak dan Putri Indam! (Omong-omong, Putri Indam juga turut berpartisipasi dalam musikal Chicago yang akan pentas April nanti! Kak, aku akan nonton lho!)

Buku setebal 444 halaman, film yang dibagi menjadi dua bagian, dan musikal berdurasi 3 jam

Bertahun-tahun lalu, aku ingat menonton video di belakang layar film Perahu Kertas. Mas Hanung Bramantyo selaku sutradara bercerita, bahwa awalnya, mereka berniat untuk mengangkat novel Perahu Kertas menjadi satu film saja. Namun, padatnya cerita membuat mereka tak punya pilihan selain membaginya ke dalam dua bagian agar tidak ada yang terasa hilang dalam film.

Aku merasa, sebagai penonton dan pembaca, memang adaptasi film Perahu Kertas harus dibagi menjadi dua bagian agar tak ada yang menggantung.

Saat menonton musikal, aku tentu tidak berharap alur yang sama persis dengan buku. Menurutku, adaptasi yang baik adalah adaptasi yang mampu menangkap esensi cerita dan menyampaikannya dengan tepat sesuai mediumnya. Aku tahu, akan ada beberapa hal yang diubah dan disesuaikan, entah karena kebutuhan teknis atau lainnya. Sebagai penonton dan pembaca, aku berusaha memahami itu.

Dalam novel dan film, kita diperlihatkan mengenai Kugy dan keluarganya, terutama Karel. Kita juga mengenal tokoh Ojos, Joshua, pacar Kugy. Namun, dalam musikal, kita sama sekali tidak diperkenalkan dengan keluarga Kugy. Tidak pula kita diperlihatkan sekelumit gambaran saat Ojos dan Kugy berkencan.

Dalam novel dan film, Keenan memiliki adik, Jerome namanya. Namun, dalam musikal, Keenan diceritakan sebagai anak tunggal. Dalam musikal, hubungan Lena — ibu dari Keenan — dan Poyan — pemilik galeri tempat Keenan tinggal di Bali — tidak dijelaskan lebih jauh. Dalam musikal, hubungan keduanya hanya dijelaskan sebagai sepasang mantan kekasih. Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai hubungan Wanda dan Keenan — hal ini hanya muncul sekian menit sebagai katalis untuk Keenan pergi ke Bali.

Sebagai pembaca novel dan penonton film, aku hampir mengingat seluruh urutan kejadian. Urutan penggusuran Sakola Alit dan perginya Luhde ke Jakarta juga ditukar dalam musikal. Keenan sempat digambarkan pulang ke Bali sebelum akhirnya Luhde ikut ke Jakarta. Penggusuran Sakola Alit terjadi jauh sebelum itu.

Meski begitu, menurutku, penukaran urutan kejadian hingga penghilangan beberapa tokoh dalam musikal justru sudah sangat tepat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana harus memasukkan detail sebanyak itu ke dalam musikal berdurasi 3 jam. Lagipula, tidak adanya tokoh dan penukaran urutan kejadian juga tidak membuat alur musikal terasa berantakan. Sebaliknya, dalam musikal ini, kita diajak untuk lebih fokus pada Kugy dan Keenan sebagai dua manusia yang berputar demi cinta dan cita.

Yang menyenangkan; kamu bisa melihat Pangeran Lobak dan Wortelina dalam wujud nyata! Dongeng yang ditulis Kugy dibawakan oleh Pasukan Alit, lengkap dengan boneka tangan. Boneka-boneka itu terlihat indah, lucu, dan untukku pribadi, membawa haru. Dalam film, kita tidak bisa melihat banyak mengenai wujud tokoh-tokoh dongeng yang ditulis Kugy. Namun, dalam musikal, kita bisa melihatnya dengan jelas.

Tata panggung untuk musikal ini juga cantik sekali. Aku tidak tahu istilah yang tepat, tetapi set akan berputar untuk setiap adegan. Satu waktu, kamu melihat Sakola Alit. Set berputar, dan kamu akan melihat Advocado. Terus saja begitu. Bagiku, tata panggungnya benar-benar jenius!

OH! Hampir terlupa. Tahu Diri — soundtrack legendaris dari film Perahu Kertas — dibawakan dalam musikal versi duet! Kalau dulu, Tahu Diri adalah ‘lagu patah hatinya Kugy,’ kini Tahu Diri berubah menjadi ‘lagu pertemuan menyakitkan antara Kugy dan Keenan.’ Aku berharap lagu ini dirilis secara resmi, karena… versi mereka indah sekali. Bukan hanya sebagai pelengkap cerita, tetapi sebagai lagu yang ingin kamu dengarkan di waktu luang.

Jika ada satu hal yang sedikit kusayangkan, itu adalah lukisan Keenan. Sejujurnya, saat menonton musikal ini, aku berharap menemukan lukisan Jenderal Pilik. Lukisan itu sempat menjadi latar layar laptopku selama bertahun-tahun. Sayangnya, bukan lukisan itu yang muncul. Barangkali, karena memang ada banyak kolaborasi yang melibatkan seniman lain dalam musikal ini. Aku tidak protes, hanya saja, sebagai penonton film, hal ini sedikit disayangkan.

Lukisan Jenderal Pilik (via ITBSS)

Lukisan Jenderal Pilik (via ITBSS)

Lukisan yang ditampilkan sebagai lukisan Keenan dalam musikal (gambar milik pribadi)

Lukisan yang ditampilkan sebagai lukisan Keenan dalam musikal (gambar milik pribadi)

Ada keajaiban di hati yang percaya

Musikal Perahu Kertas mungkin memang menargetkan Agen Neptunus sebagai penontonnya. Bagiku pribadi, musikal ini menjadi pemantik — membangkitkan kembali mimpi-mimpi yang pernah mati. Musikal Perahu Kertas terasa magis, terlebih untukku yang membaca novelnya dan menonton filmnya.

Mimpiku untuk bertemu Kak Dee terwujud! Aku sempat berswafoto dengan Kak Dee, meski tidak sempat minta tandatangan karena bukuku tertinggal… yang juga kusampaikan langsung pada Kak Dee. “Kak, aku tadinya mau bawa buku juga, tapi bukuku ketinggalan.” Gemetar, deg-degan, sekaligus senang bertemu penulis idola — rasanya campur aduk. Jadi, aku memaafkan diriku yang bersikap bodoh begitu di depan Kak Dee…

Namun, Kak Dee sempat membalas komentarku soal itu. Kak Dee bilang, (kemungkinan) tahun depan, musikal Perahu Kertas akan berlayar lagi!

Untukmu yang mungkin tidak sempat menonton, mari berharap semoga Musikal Perahu Kertas benar-benar berlayar lagi tahun depan. Sementara itu, untukmu yang mungkin belum teryakinkan untuk menonton setelah membaca tulisanku

Hati itu dipilih, bukan memilih/10

Dan di antara miliaran manusia Ada keajaiban di hati yang percaya Hidup bagai lukisan dan kejutan Kuharap kita saling menemukan


메타데이터
post_id
6ac81be50959
slug
musikal-perahu-kertas-hidupkan-lagi-mimpi-mimpi-6ac81be50959
url
https://medium.com/@bookduce48/musikal-perahu-kertas-hidupkan-lagi-mimpi-mimpi-6ac81be50959
canonical_url
https://medium.com/@bookduce48/musikal-perahu-kertas-hidupkan-lagi-mimpi-mimpi-6ac81be50959
author_url
https://medium.com/@bookduce48
status
ok
fetched_at
2026-08-06 08:03:48