Hidup Sebagai Peran Antagonis
#6YANGPENTINGNULISS
Hidup Sebagai Peran Antagonis
6YANGPENTINGNULISS

Arsip from 2020
Kalau kau ditakdirkan menjadi seorang penjahat, bagaimana? Lahir dan besar di lingkungan yang tak menerima satu pun cela telah membuat banyak orang terobsesi untuk menjadi yang paling suci. Konon katanya, siapa pun dari hamba-Nya yang paling suci akan dimasukkan ke surga-Nya. Tak tanggung-tanggung, surga yang dijanjikan oleh golongan terkemuka dari mereka selalu diiming-imingi oleh kata yang berujung “bidadari cantik” (tak adakah bidadari tampan? aku tidak tertarik). Definisi surga temporer yang sedikit sempit menurutku.
Namun, bagaimana jika kau sedikit menyimpang dari standar “tanpa cela” itu? Lantas perlahan, semua perkataan dan perbuatanmu pun dicap sebagai kejahatan.
Obsesi pada kesucian ini mengingatkanku pada salah satu syarat untuk menjadi permaisuri raja di Goryeo dahulu. Seorang wanita haruslah memiliki badan seputih susu, dengan kulit sebening sutra, dan tentu saja tanpa adanya satu pun bekas luka di sekujur tubuhnya. Semua orang seakan terobsesi pada kesempurnaan yang kaku. Namun, sebenarnya yang manakah standar kebenaran tertinggi yang membawahi semua standar yang ada?
Sering kali aku bertanya dalam lamunanku, kenapa semua orang begitu gigih menganggap dirinya benar dan tak ingin disalahkan? Apa hanya aku di sini yang terus-menerus dipaksa menerima bahwa aku salah, hingga perlahan aku percaya bahwa diriku memang salah?
Ketakutan akan cela ini pun merambah hingga ke bawah alam sadarku. Ambil saja contoh dari pernyataan mereka yang mengaku tidak akan pernah memaafkan orang yang telah selingkuh. Aku menjadi penasaran dengan sudut pandang dari individu yang melakukannya. Bagaimana jika salah satu dari mereka memang menyesalinya, namun yang ia dengar hanyalah penghakiman tanpa henti yang tak membuka pintu maaf? (tuhankah mereka?). Kurasa perjalanan untuk memaafkan dirinya sendiri akan memakan waktu seumur hidup.
I mean, they will hate themselves forever? How terrible it is.
Seolah-olah, sekali saja kau menggoreskan cela pada kanvas kehidupan, kau dikutuk menjadi antagonis selamanya.
Dalam kebimbangan akan standar dunia itu, aku teringat pada kutipan favoritku dari Diogenes, sang filsuf absurd, yang pernah berkata, “Kalau kamu ingin merasakan kebahagiaan sejati, maka kamu harus rela untuk merevisi setiap keinginanmu.” Mungkin, termasuk merevisi keinginan untuk diterima oleh mereka yang merasa suci.
Di dunia yang kini penuh gonjang-ganjing ini, pastikan sumber kebahagiaanmu tidak hanya dari satu tempat. Tumbuhlah dengan liar, ketika terinjak, kembalilah tumbuh lebih lebat. Karena dunia tak butuh tangismu, dan nyatanya, tak ada yang benar-benar peduli. Maka, jadilah satu-satunya orang yang memeluk dan peduli pada dirimu sendiri sampai akhir.

little wild me
메타데이터
- post_id
- 6b0bcaf281ca
- slug
- hidup-sebagai-peran-antagonis-6b0bcaf281ca
- url
- https://medium.com/@aureliasalsabilla18/hidup-sebagai-peran-antagonis-6b0bcaf281ca
- canonical_url
- https://medium.com/@aureliasalsabilla18/hidup-sebagai-peran-antagonis-6b0bcaf281ca
- author_url
- https://medium.com/@aureliasalsabilla18
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 15:12:33