← Back to list

Maruwah

Panjang umur tidak selalu menyenangkan. Jika tidak percaya, tanya saja ke Maruwah. Umurnya 85 tahun. Hidup 15 tahun lagi saja, ia genap…

ahbaskoro · 2020-11-24 04:18 · 3 claps · 1.8 min read
#cerpen #memoar #dhuafa-lansia #kemiskinan
Open on Medium ↗

Maruwah

ilustrasi. Foto: Rijal Kabar Panceng

ilustrasi. Foto: Rijal Kabar Panceng

Panjang umur tidak selalu menyenangkan. Jika tidak percaya, tanya saja ke Maruwah. Umurnya 85 tahun. Hidup 15 tahun lagi saja, ia genap seabad. Dan sekarang, belum ada tanda-tanda kematiannya.

Kira-kira, ada beberapa ketakutan umum yang dirasakan orang-orang dewasa yang mulai menginjak umur 50-an. Menjalani masa tua dalam kemiskinan, ditingalkan anak-anak mereka, atau hidup kaya tapi kesepian. Maruwah sudah merasakan semuanya. Tapi tentu saja minus kekayaan. Ia tidak pernah merasakan hidup berlimang harta, atau berkecukupan sekalipun.

Hidup Maruwah ibarat gambaran kenestapaan yang paripurna. Tua, tanpa keluarga, dan miskin. Setiap hari, Maruwah hanya bisa duduk di atas amben bambu di dalam sebuah rumah yang bisa diperdebatkan. Ya, apakah itu bisa disebut rumah atau hanya ruang kecil yang dibangun dari bambu-bambu. Beberapa tetangga bahkan mengatakan, ia hidup di kandang ayam. Persisnya, karena ada kandang ayam tak jauh dari rumahnya dan ayam-ayam itu bebas keluar masuk rumah Maruwah yang memang tidak punya pintu.

Buat apa juga pintu? Tidak ada perabotan apapun di dalamnya. Mentok, hanya sejumlah peralatan masak yang terserak di lantai tanah rumahnya. Menariknya, ada satu ayam yang setiap hari selalu ada di bawah amben bambu miliknya. Ayam itu jenis ayam jago yang harusnya gagah, tapi tidak. Sebab, salah satu kaki ayam itu cacat. Sehingga, ia tidak bisa berjalan gagah seperti seharusnya ayam jago. Sebab kenapa ayam itu tidak pernah pergi dari rumah Maruwah, adalah sang pemilik tidak pernah mencarinya. Mungkin, ia sudah dianggap tidak ada. Karena cacat dan tidak berharga.

Kondisi maruwah kurang lebih sama seperti ayam jago cacat yang menemaninya itu. Beberapa tahun lalu, ia sudah kehilangan penglihatannya. Matanya dimakan usia tua yang tak kenal ampun. Kakinya, juga sudah kehilangan daya untuk menahan beban tubuhnya. Maka, ia juga hanya bisa duduk dan tidur di atas amben bambu itu. Tanpa pernah beranjak kemana-mana.

Kemana keluarga Maruwah? Ini juga pertanyaan yang sulit. Tidak ada yang tua persis apa keluarga Maruwah masih ada dan meninggalkannya atau memang Maruwah adalah yang terakhir. Maruwah lahir sepuluh tahun sebelum Indonesia merdeka. Orang tua Maruwah kemungkinan sudah meninggal. Rumor yang beredar, Maruwah sebenarnya punya delapan saudara. Tapi semuanya sudah meninggal. Maruwah tidak sempat punya suami di usia mudanya. Soal ini, tidak ada yang tahu persis kenapa. Maka, sekarang ia hidup sendiri. Seorang diri. Beberapa orang yang sempat melewati rumahnya, sering mengaku mendengar Maruwah berdoa agar ia segera mati. Ia merasa seperti orang yang seharusnya sudah mati, tapi dibiarkan tetap bernafas. Orang-orang yang mendengarnya kadang menitikkan air mata. Tapi mereka tetap melangkah meninggalkan Maruwah.


메타데이터
post_id
6b244bcdb41c
slug
maruwah-6b244bcdb41c
url
https://medium.com/@ahbaskoro/maruwah-6b244bcdb41c
canonical_url
https://medium.com/@ahbaskoro/maruwah-6b244bcdb41c
author_url
https://medium.com/@ahbaskoro
status
ok
fetched_at
2026-07-28 17:01:39