Death was always kind to me
before you.
Death was always kind to me
before you.

Death was always kind to me (2026)
Dulu, maut itu santun. Ia melipir, tak pernah berani mengetuk pintu masa kecilku. Aku tumbuh dibuai kemewahan bernama “ketidaktahuan akan kehilangan”. Justru karena itulah, aku menjadi manusia paling rapuh saat kau diambil paksa.
Terlambat. Semuanya terlambat. Pelajaranmu belum tamat. Rekaman suaramu di kepalaku belum cukup durasinya. Dan kini, Hening adalah guru yang paling kejam.
Aku adalah seorang penakut. Dulu, gelap dan arwah adalah teror bagiku. Tapi demi Tuhan, jika hantu yang mengetuk itu adalah kau, akan kubongkar engsel pintu ini agar terbuka selamanya.
Ketakutan purba pada “yang tak terlihat” kini kalah telak oleh ngeri pada “yang tak kembali”. Gelap tak lagi menakutkan karena ada yang mengintai, melainkan karena aku tahu: tak ada siapa-siapa di sana.
Mulutku terkunci jarak. Maka biarkan tulisan ini menjadi pengganti raungan. Ketahuilah, telah kucabik paksa sekerat jiwaku sendiri. Kubungkus tubuh dinginmu dengan perihku. Agar kau tetap hangat di sana. Setidaknya, sampai giliranku tiba untuk datang dan memelukmu sendiri.
*8 Februari, 2026. Oseanea, sampai jadi debu* yang sudah terputar ribuan kali di kepala.
메타데이터
- post_id
- 6b48cb70ba1e
- slug
- death-was-always-kind-to-me-6b48cb70ba1e
- url
- https://medium.com/@oseanea/death-was-always-kind-to-me-6b48cb70ba1e
- canonical_url
- https://medium.com/@oseanea/death-was-always-kind-to-me-6b48cb70ba1e
- author_url
- https://medium.com/@oseanea
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-31 01:59:15