← Back to list

“I wish, I could save you. It’s getting late, I love you, always. “

Kang Taeju dan Cha Siyoung adalah dua sejoli semasa SMA, namun, semua berubah karena hal yang mereka tidak inginkan.

kavi · 2026-05-18 10:27 · 2 claps · 6.4 min read
#angst #yaoi
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

“I wish, I could save you. It’s getting late, I love you, always. “

Kang Taeju dan Cha Siyoung adalah dua sejoli semasa SMA, namun, semua berubah karena hal yang mereka tidak inginkan.

Mereka bukan pasangan yang romantis, melainkan sebuah pasangan yang saling melengkapi kekurangan masing-masing. Taeju selalu membantu Siyoung dalam hal belajar, dan Siyoung membantu Taeju dalam masalah ekonomi.

Malam, adik Taeju menangis, meringis kesakitan. Mamanya baru saja pergi kerja. Tak punya pilihan lain, ia pun bergegas lari dalam keadaan hujan deras sambil menggendong adiknya yang sakit dan setengah sadar itu.

Tak lama ia berlari, ia melihat sebuah mobil Jeep yang sedang berhenti dan melihat ibu-nya didalam berduaan dengan lelaki yang dia tidak ketahui siapa itu. Setelah melihat lebih jelas, ternyata ia lah ayah Cha Siyoung. Kesal, emosi, kecewa bercampur aduk menjadi satu.

Besoknya ia pergi sekolah dalam keadaan yang buruk, kurang tidur, emosi, kecewa. Ia melihat Cha Siyoung di gerbang, melainkan ia sapa, ia lewati saja. Tanpa basa-basi, tanpa sapa, hanya lewat seperti melihat angin.

Diam, sunyi.

Saat istirahat tiba, ia juga tidak ke kantin. Ia hanya memikirkan kejadian tadi malam yang membuatnya hancur bekeping-keping.

Mereka hanya diam, bisu seribu kata. Tak ada tegur-sapa. Jika pas-pasan, maka mereka melewati satu sama lain, bagaikan angin yang lewat. Hingga lulus.

No goodbyes, no proper farewell, just gone.

Taeju kini menjadi detektif. Berhasil melupakan semua kejadian di masa kelam. Adiknya menjadi guru, so life’s has been great with him.

Sampai…

“Kang Taeju, lama tak berjumpa.” Sontak membuat Taeju mendongakan kepala dan melihat Cha Siyoung yang usil, gagah dan tingkat kepercayaan diri melebihi langit ke tujuh tersebut.

Mata sinisnya muncul, dari sekian banyak kemungkinan yang aku miliki, kenapa harus bertemu lagi?

“Hei, sudahlah. Tak usah kau menatapku sampai selama itu. Ku dengar kau populer sekarang ini.” Ucap Siyoung.

“ Ku dengar kau semakin menyebalkan. Buat apa kau kemari?” Sinis Taeju.

Siyoung terkekeh kecil, membuat insting dingin Taeju runtuh. Ia mengingat kembali masa kelam mereka yang sangat bahagia dan hangat itu.

“Tenanglah, aku kemari membawa berkas. Aku adalah pengacara korban yang sedang kau kerjakan itu.” Ucap Siyoung.

“Bersantailah kawan, bukankah dulu kita dekat?” Lanjutnya.

Kalimat itu membuat rahang Taeju mengeras.

“Aneh ya?” Celetuk Siyoung tiba-tiba.

Taeju melihat kembali ke Siyoung, “Apa maksudmu?” Tanya Taeju kebingungan.

“Tidak, dulu kita pernah berhubungan. Anehnya kau menjauh dariku. Diam, dingin, sulit untukku prediksi.” Ucap Siyoung dengan senyum tipis. “Memulai hubungan tanpa menyelesaikannya sungguh sakit. Apa kau tidak merindukanku?” Lanjutnya sambil menggoda Taeju.

“Andai kau tau alasanku.” gumam kecil Taeju yang terdengar oleh Siyoung. “Aku tau, aku juga melihat mereka. Tapi apakah hanya itu yang membuat kita tidak bisa melanjutkannya?” Tanya Siyoung menekan.

“Aku butuh keluar sebentar, besok saja kau datang kembali. Nomorku masih sama seperti dulu jika kau membutuhkan ku. Maafkan aku, aku harus pergi.” Ucap Taeju terburu-buru setelah mendengar ucapan Siyoung.

Siyoung menghela nafas panjang sambil melihat Taeju pergi meninggalkannya kembali. “Sial, aku begitu merindukanmu tetapi sepertinya kau sudah melupakanku.”

Taeju mengelilingi kota dengan pemandangan sunset yang indah. Semua terlalu cepat hingga membuat kepala Taeju pusing hinga hampir menabrak sebuah anjing di sekitar jalan. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak dan menikmati senja yang begitu indah. “Siyoung-a, aku sebenarnya tak bisa melupakanmu, namun kau harus tau, bahwa kita sudah tidak pantas untuk bersama.” lirih-nya sambil melihat senja

ting

Taeju merogoh saku jaketnya, jantungnya berdegup lebih cepat saat ia melihat layar ponsel. Nama pengirim tidak muncul, hanya deretan angka asing yang tidak ia kenal. Dengan hati-hati, ia membuka pesan itu.

“Kau masih ingat janji kita dulu? Aku butuh kau sekali ini saja. Tolong, kau tidak sendiri dalam semua ini.”

Taeju memejamkan mata sejenak, napasnya tertahan. Ia tahu, sekali lagi, ia terjebak di antara kenangan yang belum selesai.

Ia menghela napas panjang, menekan ponsel, dan memutuskan untuk kembali ke kantor, meski ia tahu, sekali lagi, jalan yang ia tempuh mungkin tidak akan pernah membawa jawaban yang ia cari.

Taeju membawa mobilnya tanpa tujuan jelas.

Lampu kota berpendar samar di kaca depan, bercampur dengan pikirannya yang kacau dan terlalu berisik.

Sial.

Dari sekian banyak kasus yang pernah ia tangani, kenapa justru kasus ini yang mempertemukannya kembali dengan Cha Siyoung?

Tangannya mengetuk setir pelan.

Ia lelah.

Lelah mengingat. Lelah membenci. Dan paling lelah karena sebagian dirinya masih berharap.

Namun Taeju tidak memiliki pilihan.

Kasus pembunuhan berantai itu sedang menjadi perhatian besar kantor kepolisian. Jika berhasil menyelesaikannya, namanya akan naik. Jabatannya bisa dipromosikan. Masa depannya akan jauh lebih baik.

Dan Taeju membutuhkan itu.

Ia membutuhkan sesuatu untuk membuktikan bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berantakan.

Meski artinya ia harus kembali bekerja sama dengan satu-satunya orang yang selalu berhasil menghancurkan pertahanannya.

Cha Siyoung.

Mobil Taeju akhirnya berhenti di parkiran kantor.

Ia menghela napas panjang sebelum turun.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kang Taeju memutuskan untuk berhenti lari.

Saat pintu ruang investigasi dibuka, Cha Siyoung masih ada di sana. Duduk santai sambil membaca berkas seolah dunia tidak pernah menghancurkan mereka sebelumnya.

Siyoung mengangkat kepalanya pelan. Tatapan mereka bertemu beberapa detik. Lalu lelaki itu terkekeh kecil.

“Kau kembali juga.”

Taeju mendecakkan lidah pelan sebelum melempar map ke meja.

“Jangan besar kepala.” Gumamnya dingin. “Aku cuma butuh pekerjaan ini.” Siyoung tersenyum tipis.

Dan sialnya, Kang Taeju masih membenci bagaimana jantungnya tetap berantakan hanya karena hal sesederhana itu.

Ruangan kembali sunyi, tetapi penuh dengan keteganggan yang menggangu.

“Korban ketiga ditemukan sekitar jam dua pagi.” Gumam Taeju sambil membuka map. “Luka tusuknya identik dengan dua korban sebelumnya.”

Siyoung menyandarkan dagu pada tangan.

“Mhm.”

“Dan sebelum kau bertanya, belum ada sidik jari.”

“Aku bahkan belum bicara.”

“Wajahmu berisik.”

Siyoung terkekeh kecil lagi.

Sial.

Taeju membenci fakta bahwa suara itu masih terasa familiar.

“Pelaku kemungkinan mengenal para korban.” Lanjut Taeju cepat, berusaha mengalihkan pikirannya sendiri. “Cara dia meninggalkan pesan terasa terlalu personal.”

“Do you regret loving the wrong person?”

Taeju terdiam sesaat saat Siyoung mengucapkan kalimat itu pelan.

Entah kenapa, cara lelaki itu membacanya terdengar terlalu menyakitkan.

“Context? Lu ga liat ini kita lagi kerja?” Kesal Taeju. “Chill, I was just asking.” Balas Siyoung yang ke bablasan “lanjut”

Siyoung nyender santai di kursinya sambil muter pulpen di jari.

Sedangkan Kang Taeju masih sibuk natap layar laptop dengan rahang mengeras seperti orang yang tiap detik nahan emosi.

“Kalau lo lanjut ganggu gue, gue pindah meja.” Gumam Taeju dingin.

Siyoung terkekeh kecil. Suara tawanya masih sama. Pelan, tapi selalu berhasil bikin kepala Taeju makin ribut.

“Lo dari dulu emang gampang kesal ya.”

“Dan lo dari dulu emang terlalu banyak ngomong.”

“Hm.” Siyoung mengangguk pelan. “Tapi dulu lo masih tahan dengerin.”

Kalimat itu jatuh begitu aja di antara mereka.

Biasa.

Santai.

Tapi cukup buat suasana kantor mendadak terasa sempit.

Tangan Taeju berhenti di atas keyboard.

Sialnya, Siyoung benar.

Dulu Taeju bisa duduk berjam-jam cuma buat denger Siyoung ngomongin hal random yang bahkan nggak penting. Tentang hujan. Tentang orang-orang aneh di halte. Tentang bagaimana hidup terlalu panjang buat dijalanin sendirian.

Sekarang mereka bahkan nggak bisa ngobrol lima menit tanpa saling nyakitin.

Lucu.

Atau mungkin menyedihkan.

“Detektif Kang.”

Suara salah satu junior bikin Taeju langsung nengok.

“Chief minta kalian ke ruang briefing.”

“Kalian.”

Taeju benci kata itu sekarang.

Karena artinya dia dan Cha Siyoung benar-benar akan kerja bareng mulai hari ini.

Dan lebih buruknya lagi—

mereka terlihat cocok saat berdiri berdampingan.

Satu dingin seperti pisau.

Satu tenang seperti racun lambat.

Di ruang briefing, lampu redup dan bau kopi memenuhi ruangan.

Foto korban terpampang di layar.

Siyoung langsung berubah serius. Semua nada bercandanya hilang secepat saklar dimatikan.

Taeju diam-diam memperhatikan itu.

Cha Siyoung memang selalu seperti itu.

Main-main di luar. Rusak di dalam.

“Korban ketiga ditemukan tadi pagi.” Ucap chief sambil melempar map ke meja.

“Dan mulai sekarang kasus ini resmi ditangani Detektif Kang Taeju bersama Pengacara Cha Siyoung.”

Ruangan hening sesaat.

Siyoung cuma buka map tanpa protes.

Sedangkan Taeju menatap lurus ke depan sambil menghela napas pelan.

Tidak ada pilihan.

Dia butuh kasus ini selesai.

Dia butuh jabatan lebih tinggi.

Dan sayangnya, jalan tercepat menuju itu sekarang justru melewati Cha Siyoung lagi.

Keluar dari ruang briefing, langkah mereka sama-sama melambat di lorong.

Sunyi.

Canggung.

Lalu Siyoung buka suara duluan.

“Jangan khawatir.”

Taeju melirik.

“Apa?”

“Aku juga nggak antusias kerja sama sama mantan.”

Taeju mendecak pelan.

“Kita bahkan nggak pernah resmi putus.”

Siyoung diam sebentar.

Kemudian tertawa kecil sambil menunduk.

“Lihat? Bahkan sekarang aja kita masih aneh.”

Taeju terdiam.

Lorong kantor sepi, hening. Lampu putih di atas membuat muka Siyoung pucat.

Atau… Dia sudah berubah?

Tujuh tahun bukan waktu yang lama. Hanya cukup membuat dua “mantan sejoli” ini asing.

“Lo masih suka kopi pahit?” Tanya Siyoung tiba-tiba sambil jalan di sebelahnya. Taeju mengernyit.

“Lo masih banyak nanya ya.”

“Berarti masih.”

“Gue udah nggak sesering dulu.”

Siyoung melirik cepat. Sedikit terkejut.

“Serius?”

“Lambung gue hampir rusak gara-gara begadang kerja.” Bibir Siyoung terangkat tipis.

“Wow. Character development.” Taeju mendecak malas, tapi tanpa sadar sudut bibirnya ikut bergerak sedikit.

Dan sialnya— Siyoung masih sadar hal kecil begitu.

“Kau barusan senyum?”

“Halusinasi.”

“Hm. Jadi tujuh tahun bikin lo makin pembohong.”

Setelah sampai di basement, langkah Siyoung berhenti sambil menatap Taeju. Taeju yang tersadar pun langsung menoleh dan mengatakan “Kenapa?”

“Chief suruh kita ke TKP.”

“….. Iya?”

“…”

“Mau apa?”

“Nebeng, aku engga bawa mobil.”

“Yang bener aja? Gojek kan bisa?”

“Jahat banget sama pacar sendiri.”

“Naik, lama aku tinggal.”

Tanpa sadar, Taeju tersenyum tipis karena tingkah lucu “mantan” nya itu.

“…. Lu nyebelin banget ya. ” Kata hati Taeju yang tanpa sadar terucap keluar.

“Dan kamu selalu ngalah”

Sontak membuat Taeju off-guard dan langsung membanting pintu mobil dengan kencang.

Sepanjang jalan, mereka diam, mungkin mereka menggunakan bahasa kalbu untuk berkomunikasi. Pelan, Siyoung memutar radio di mobil Taeju.

Satu Yang Tak Bisa Lepas — Reza Artamevia

“Lagu kita dulu.”

“….”

“Diem mulu?”

“Lagi fokus, bahaya. Hujan juga. Takut jalanan licin. Penumpang gw rawan lecet.”

“Masih bisa perhatian juga?”

“…”

“Masih insomnia?”

“Lu bisa ga sih, diem, nikmati aja perjalanan sama suara hujan atau radio? Ganggu gw nyetir tau ga?”

“Mata lu cape, gw khawatir.”

“… Terus?”

“Aelah, sama mantan sendiri ga boleh khawatir kah?”

“Ga sesering dulu. Terkadang iya.”

“hmm”

Siyoung tersenyum tipis.

Dan untuk pertama kalinya, mereka bisa sedikit lebih santai.

Sedikit.

  • TBC

메타데이터
post_id
6b5053f4e381
slug
i-wish-i-could-save-you-its-getting-late-i-love-you-always-6b5053f4e381
url
https://medium.com/@pretzelzlife/i-wish-i-could-save-you-its-getting-late-i-love-you-always-6b5053f4e381
canonical_url
https://medium.com/@pretzelzlife/i-wish-i-could-save-you-its-getting-late-i-love-you-always-6b5053f4e381
author_url
https://medium.com/@pretzelzlife
status
ok
fetched_at
2026-06-22 05:41:33