← Back to list

Penipunya antara Baik atau Emang Nggak Ngerti EYD

Beberapa waktu lalu, saya mendapat panggilan interview kerja fiktif via email. Setelah membacanya dengan baik, saya jadi mikir, ini…

Irmalasari Yuningsih · 2025-09-22 07:20 · 1 claps · 4.8 min read
#loker #loker-fiktif #penipu #penipu-loker
Open on Medium ↗

Penipunya antara Baik atau Emang Nggak Ngerti EYD

Beberapa waktu lalu, saya mendapat panggilan interview kerja fiktif via email. Setelah membacanya dengan baik, saya jadi mikir, ini penipunya emang nggak ngerti EYD atau cuma baik aja ngasih tanda-tanda penipuan?

Cerita ini berawal saat saya sedang gencar-gencarnya mencari loker. Instagram, LinkedIn, Jobstreet, Glint, Indeed, dan lain-lain tidak lepas dari pantauanku setiap hari.

Saat sedang berselancar di Instagram, saya menemukan flyer loker sebuah perusahaan ternama. Persyaratan dan jobdesknya sesuai dengan kemampuanku. Langsung gas ngedit dan submit CV di link Google Forms yang tercantum di flyer.

Bodohnya saya saat itu, tidak mengecek info lokernya langsung di website resminya atau akun Instagram officialnya. Tidak terpikir kalau ada orang jahat yang punya waktu luang untuk mengedit flyer loker sebagus itu.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat notifikasi email panggilan interview. Ah, rasanya senang sekali. Setelah berkali-kali mengirim CV, akhirnya ada yang nyantol juga.

Saya baca sekilas surat panggilan interviewnya. Jadwalnya dua hari lagi. Pesertanya ada 24 orang. Semuanya wajib konfirmasi kehadiran via SMS ke HRD paling lambat pukul 20.00 WIB hari itu juga. Emailnya saat itu masuk pukul 10.58 WIB.

Lokasi wawancaranya di Jl. Melawai, Jakarta Selatan. Pihak perusahaan menanggung tiket pesawat dan penginapan. Tapi dengan metode reimbursement. Pengembalian dananya, sejam sebelum wawancara berlangsung.

Untungnya, Si Penipu Tidak Menulis sesuai EYD

Soal reimbursement itu, saya belum curiga kalau ini penipuan. Beberapa event yang pernah saya ikuti memang menggunakan sistem reimbursement. Saya baru curiga ketika membaca emailnya dengan baik. Ada beberapa hal yang membuat dahiku mengkerut.

Pertama, badan emailnya sangat tidak profesional. Penulisnya seakan-akan malas menuliskannya. Badan emailnya cuma kayak gini “Lampiran Surat Panggilan Seleksi PT… Silahkan Di Pelajari Untuk Informasi Selanjutnya.”

Kalimatnya udah seuprit, salah penulisan pula. Hadeeeh! Masa iya, staf perusahaan sebesar itu tidak bisa membedakan penulisan di- dipisah dan dirangkai. Ta pi, saya mengabaikan badan email itu. Mungkin saja, yang menulisnya adalah anak magang yang kebetulan tidak mengerti EYD.

Kedua, format surat panggilan interviewnya itu rata tengah. Seingatku, saya tidak pernah mendapat surat formal seperti itu. Biasanya menggunakan rata kiri-kanan. Ah, mungkin itu gaya khasnya mereka. Saya masih mencoba berprasangka baik.

Tapi lagi-lagi, di penulisan suratnya, bertebaran kesalahan EYD. Huruf yang tidak seharusnya dikapitalkan, malah dikapitalkan. Begitu pula sebaliknya.

Jangan tanya lagi soal penulisan di- dipisah dan dirangkai. Yakin dan percaya, kalau dospem yang baca, kertasnya auto full coretan. Saya saja sebagai pemerhati bahasa amatiran, cukup terganggu dengan itu.

Ingatanku soal administrasi saat bergabung di organisasi mahasiswa membantah pikiranku tadi. Kalaupun yang menulis adalah magang, biasanya ketua tidak akan menandatangani jika ada penulisan atau konteks kalimat yang tidak sesuai. Lah? Kok ini bisa lolos pantauan sih? Kalau kesalahannya minim, ya wajar-wajar saja. Tapi ini kesalahannya banyak sekali.

Kesalahan EYD sepertinya Memang Ciri Khas Penipu Loker Fiktif

Di tengah pergulatan itu, saya teringat dengan cerita temanku yang mendapat panggilan interview ke Jakarta tahun lalu. Saya langsung chat dia via WhatsApp.

“Eh, awal tahun lalu kau dapat panggilan interview ke Jakarta, kan? Itu gimana?” Tanyaku. Jawabannya? “Owh itu penipuan ternyata weh.”

Ia cerita kalau pihak perusahaan (red: Penipu) meminta peserta mengirim sejumlah uang untuk tiket pesawat dan penginapan. Astaga, tadinya saya nangkapnya, tiket pesawat dan penginapan itu dipesan sendiri oleh peserta. Ini sistem reimbursementnya agak lain ternyata!

Saya lantas meminta surat panggilan interview dan screenshot badan emailnya. Dan ya, polanya persis banget. Cara penulisannya dan alur wawancaranya udah kayak template penipuan. Mungkin orangnya sama, atau penipu memang rata-rata tidak mengerti EYD. Entahlah.

Setelah mendengar cerita temanku, saya bertanya-tanya sendiri, kok bisa sih, si penipu itu mengirim panggilan interview via email resmi perusahaan? Setelah saya perhatikan baik-baik, ternyata huruf (i) ia ganti menjadi (l). Ada-ada aja idenya, ya Tuhan.

Untung saja, saya cukup terganggu dengan penulisan bahasa Indonesia yang keliru. Kalau tidak, bisa masuk jebakan batman. Sejak dulu, senior-seniorku memang selalu mewanti-wanti, semua event/pekerjaan yang meminta uang itu biasanya penipuan. Saat pihak perusahaan meminta transfer ke rekeningnya, saya bisa saja sadar kalau itu penipuan.

Tapi, konfirmasi kehadiran via SMS itu butuh pulsa. Sejak menggunakan WhatsApp, saya jarang sekali punya pulsa mengendap. Saya sungguh tidak ikhlas mengorbankan uang 7 ribu beli pulsa untuk SMS si penipu itu wkwkwk. Mending uangnya saya masukkan ke celengan rumah ibadah saja. Lebih bermanfaat.

Masa Mau Nyari Uang, Kudu Bayar Dulu?

Cerita ini sempat saya bagikan di Instastory. Salah seorang teman, sebut saja A, membalasnya dan berbagi cerita. Katanya, salah seorang kerabatnya pernah tertipu dengan modus serupa.

Hari itu harga tiketnya 4 jutaan. Kerabat si A telah mentransfer setengahnya. Saat mau pelunasan, ia mau pinjam duit ke A. Si A menanyakan perusahaan dan meminta surat panggilan interviewnya. Setelah mencari tahunya dengan baik, A berkesimpulan kalau itu loker palsu.

Astaga, orang mau cari kerja buat nyari uang, ini malah kena tipu. Uang 2 juta melayang begitu saja. Ini kayak pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, ketumpahan cat pula.

Jadi, buat teman-teman yang sedang mencari loker, perhatikan loker yang kamu mau lamar. Tidak semua info loker yang bertebaran di medsos dan aplikasi pencari kerja itu benar. Banyak yang tipu-tipu juga. Biasakan cek website resmi atau akun medsos officialnya.

Dan jangan lupa, perusahaan-perusahaan itu tidak mungkin menulis panggilan interview dengan kesalahan EYD di mana-mana. Konon, saat mau mempublikasi sesuatu, mereka harus melakukan cross check berkali-kali. Jadi, kemungkinan typo itu sangat kecil.

Ngomong-ngomong, sekarang saya mengerti kenapa guru bahasa Indonesiaku dulu sering marah-marah kalau menulis tidak sesuai EYD. Ternyata ini ya, salah satu manfaatnya. Terima kasih ya, pak/bu!

Otak Pintar tapi Kurang Empati

Saya harus akui, penipu loker fiktif ini sangat kreatif. Buktinya, ia mampu membuat desain flyer yang oke. Taktik dan skema penipuannya mantap. Ini mengindikasikan ia menggunakan otaknya buat mikir. Otaknya pintar. Minusnya kurang empati doang.

Coba kalau skillnya itu ia gunakan untuk mencari uang yang halal? Misalnya bangun agensi desain grafis, agensi rekrutmen, atau event organizer.

Saya berasumsi, penipu juga punya skill komunikasi yang mumpuni. Kenapa? Beberapa cerita korban penipuan beredar di medsos. Katanya, ia datang wawancara ke ruko-ruko gitu. Terus pihak penipunya meminta uang administrasi sekian puluh ribu.

Meyakinkan orang mengeluarkan uang sekian puluh ribu itu menurutku butuh kemampuan komunikasi yang baik. Nah, skill komunikasi ini sangat penting untuk sebuah agensi. Pitching klien butuh kemampuan berbicara, iyakan? Tapi ya, itu tadi. Skillnya ada, cuma empati dan niatnya saja yang perlu disiram.

Saya ngomong ini buka karena saya sudah menjadi manusia paling baik sedunia. Bukan! Saya cuma membayangkan gimana tidak tenangnya jadi penipu. Saat melakukan kebohongan kecil saja, saya merasa gelisah. Misalnya, saat membeli barang online dan mamaku bertanya harganya berapa, saya biasanya menjawab “Harganya lebih 50 ribu, mak.” Padahal, lebihnya yang kumaksud itu, biasa sampai 2–4 kali lipatnya. Untungnya, beliau tidak pernah menanyakan berapa lebihnya.

Kebohonganku tidak merugikan mamaku. Toh, pake uang sendiri juga. Saya cuma menghindari kemurkaan beliau wkwkw. Tapi, rasanya kok tidak tenang ya. Lantas, gimana dengan penipu yang membuat orang lain rugi. Korbannya jobseeker pula. Apa tidak gelisah brutal?

Ditambah lagi, penipuan loker fiktif berpotensi mendapat hukum pidana kalau keciduk aparat. Bisa runyam kan kalau harus mendekam di penjara. Menurut pasal 378 KUHP, penipu mendapat pidana penjara paling lama 4 tahun.

Hmmm apa jangan-jangan, penipu ini yakin dan percaya ya kalau aparat tidak akan mengendus mereka? Atau mereka sangat percaya diri kalau tipu muslihat mereka aman terkendali? Entahlah.

Soal rasa gelisah saat berbohong ini pernah saya obrolin dengan temanku. Ia bilang kalau orang yang sudah terbiasa berbohong itu jadinya kayak biasa aja. Tapi, jauh di lubuk hati kecilnya tetap ada rasa bersalah.

Nah, kalau penipunya baca ini, saya cuma mau bilang, “Otakmu pintar, mbak/mas. Sayang banget kalau disia-siain. Coba cari kerja yang bener, siapa tahu rezekimu makin lancar. Semoga kamu bisa mendengarkan kembali suara dari lubuk hati kecilmu itu. “


메타데이터
post_id
6b7439b8e4ec
slug
penipunya-antara-baik-atau-emang-nggak-ngerti-eyd-6b7439b8e4ec
url
https://medium.com/@irmalasariynraa/penipunya-antara-baik-atau-emang-nggak-ngerti-eyd-6b7439b8e4ec
canonical_url
https://medium.com/@irmalasariynraa/penipunya-antara-baik-atau-emang-nggak-ngerti-eyd-6b7439b8e4ec
author_url
https://medium.com/@irmalasariynraa
status
ok
fetched_at
2026-07-17 09:04:15