Jogjaku di Penghujung 2025
Part 1: Jogja bukan milikku, tapi milik siapa yang ingin memilikinya.
Jogjaku di Penghujung 2025
Part 1: Jogja bukan milikku, tapi milik siapa yang ingin memilikinya.
Di penghujung 2025, aku melakukan sesuatu yang terasa janggal bagi diriku sendiri: merelakan uang “agak banyak” versiku hanya demi travelling. Padahal, di tahun-tahun sebelumnya, aku kadang tidak mudah mengiyakan ajakan pergi.
Teman-teman dekatku pernah mengajakku ke Lombok, namun aku tolak, padahal sebenarnya aku punya uang yang “cukup”, meski tidak banyak, untuk ke sana. Aku juga pernah menolak ajakan teman yang lain untuk berkumpul di Jakarta, bahkan ketika aku sudah dibiayai pesawat dan vila dan berakhir mereka kecewa huhu.
Dari serangkaian traveling yang gagal atau masih berbentuk wacana itu bukan berarti aku sama sekali tidak pernah pergi. Aku juga sudah sering jalan-jalan ke luar kota; ke pantai, ke bukit, ke tempat-tempat wisata, dan seterusnya. Namun tentu tidak sesering itu, sampai terlihat seolah aku punya banyak uang yang dihambur-hamburkan demi berkedok di kata healing atau cari angin.
Tetap saja, semua itu cukup untuk sesekali mengisi feed Instagram. Lalu datanglah komentar-komentar dari beberapa teman, “Kamu jalan-jalan terus, ya.”
Padahal mereka tidak tahu, sungguh tidak tahu berapa lama aku rebahan, berapa minggu, berapa bulan aku tidak keluar rumah. Mereka tidak tahu seberapa sering aku merasa enggan mempersiapkan diri menghadapi kata “hangout” dan “liburan.” Tapi tak mengapa, mereka hanya berkomentar, aku-pun tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang menyakitkan.
Belakangan, dari semua yang tampak oleh orang lain di media sosial, aku sadar bahwa aku sudah jarang mengunggah foto jalan-jalan karena tidak punya yang terbaru. Namun ternyata, itu bukan satu-satunya alasan. Jauh sebelum Desember 2025, entah sejak bulan apa — aku tak ingat tepatnya, hatiku semakin menggemakan kalimat ini berulang-ulang, “Jogja pas liburan Desember.”
Aku ingin menikmati jogja bukan sebagai penumpang bus saat ikut agenda sekolah Ibuk bersama murid-muridnya. Juga bukan seperti saat tahun 2024 aku menjadi guru dan pergi beberapa hari bersama mereka. Bagiku, Jogja yang seperti itu hanya terkesan angin lalu, bukan perjalananku sendiri yang bisa berarti lebih.
Sepanjang tahun 2025, beberapa kali teman-teman bertanya, ingin liburan ke mana. Aku menjawab, “Jogja,”. Jawaban itu selalu datang bersamaan dengan rasa ragu: Apakah aku akan rela menghabiskan uang yang sebenarnya bisa kujadikan tambahan untuk membeli handphone baru, mengingat aku baru sadar hapeku sudah berumur empat tahun wkwk.
Namun, di titik tertentu, ragu itu kalah.
Sekitar sebulan sebelum Desember, aku akhirnya membeli tiket kereta api Sri Tanjung yang jelas kupilih karena harganya paling murah. Konsekuensinya, saat ke stasiun keberangkatan aku harus pergi dulu ke Wonokromo hahaha. See? Kurang kerjaan, ya?
Padahal sebenarnya aku punya uang untuk membeli tiket kereta yang lebih mahal. Tapi aku adalah kaum mendang-mending. Mending uangnya aku gunakan saat jalan-jalan di Jogja. Siapa tahu saat naik kereta aku bertemu cowok cakep wkwk meski tentu saja tidak serta merta aku klaim itu jodohku, ya. Hahaha. Atau setidaknya, aku bisa bertemu banyak orang di dalam kereta karena selama berbulan-bulan, bahkan setahunan ini, aku sering hanya berada di rumah saja.
Sayangnya, aku terlambat membeli tiket kereta Singosari-Wonokromo yang memang hanya tersedia sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Yang tersisa hanyalah tiket berdiri. Setelah mengklik tombol bayar tiket kereta dua belas ribu itu, aku langsung membayangkan saat dulu sering memesan tiket tanpa kursi sewaktu masih kuliah di Surabaya. Rasanya seperti kembali ke masa itu, namun dengan versi diriku sekarang yang sudah cukup.
Makna cukup di sini adalah barang bawaan. Aku merasa jauh lebih ringan sekarang. Dulu, aku sering membawa barang-barang yang tidak perlu, misalnya beberapa buku pelajaran saat SMA. Konsekuensinya, perjalanan dari stasiun menuju kampus atau kos terasa berat dan melelahkan. Sekarang aku justru bertanya-tanya, kenapa dulu aku membawa barang-barang yang pada akhirnya tetap kubawa kembali ke Malang, padahal tidak terlalu, bahkan ada yang sama sekali tidak aku pakai saat di Surabaya.
Aku merasa menjadi “new me” ketika menertawakan diriku sendiri dalam hati atas tingkah lakuku dulu. Beban berat itu terasa lagi dalam ingatan, saat aku dulu membawa tas jinjing dan tas ransel menuju ojek online. Capek wkwk. Kasian juga dengan versiku yang dulu. Namun aku bersyukur karena versiku yang dulu sedang belajar memilih mana yang penting untuk dibawa oleh dirinya sendiri.
Bedanya dengan liburan ke Jogja ini adalah semua barang yang kubawa benar-benar kugunakan, namun ada satu baju batik yang tidak pernah aku sentuh sama sekali selama liburan hahaha. Tapi tentu ada alasannya. Tunggu di part selanjutnya, semoga masih sanggup bercerita wkwk.
Akhirnya aku benar-benar berangkat! Speechless. Aku sempat merasa seperti, “Hah? Seriusan aku liburan? Wkwk.” Aku berangkat jam dua belas siang dari rumah, jam tiga dari Surabaya, lalu tiba di Jogja sekitar jam tujuh malam. Temanku menjemput di depan pintu keluar stasiun. Aku beranjak. Ada perasaan bebas, akhirnya aku keluar. Ada perasaan lain, penuh. Hatiku yang sempat kosong karena lama tidak bersinggungan dengan manusia, tiba-tiba terasa hangat melihat manusia memenuhi jalan keluar stasiun.

fotonya asal jepret ih jelek tp gpp🤭😋
Jogja milikku di hari pertama adalah tentang keramaian. Justru episode inilah yang ternyata aku nanti; sendiri, tapi tidak merasa sepi.
메타데이터
- post_id
- 6ba2aca28efd
- slug
- jogjaku-di-penghujung-2025-6ba2aca28efd
- url
- https://medium.com/@petikcercah/jogjaku-di-penghujung-2025-6ba2aca28efd
- canonical_url
- https://medium.com/@petikcercah/jogjaku-di-penghujung-2025-6ba2aca28efd
- author_url
- https://medium.com/@petikcercah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 21:34:33