Listen Like a Dog? Mendengarkan Orang Lain Seperti Seekor Anjing? Kita Kan Bukan Hewan
[Part 2]

Sumber: Pexels
Listen Like a Dog? Mendengarkan Orang Lain Seperti Seekor Anjing? Kita Kan Bukan Hewan
[Part 2]
Setelah belajar prinsip tali kekang dan mengurangi penggunaan teknologi digital saat berbicara dengan orang lain, kali ini kita belajar melibatkan segenap tubuh dan perasaan kita ketika mendengarkan seseorang. Hal ini merupakan tanda bahwa kita benar-benar memberikan perhatian secara total.
Seekor anjing dalam mendengarkan majikannya, selalu memberikan perhatian secara total yang dapat kita lihat melalui gerakan telinga, kibasan ekor, tatapan matanya, dan gerakan tubuh lainnya.
Bisa kita lihat bagaimana totalitasnya seekor anjing dalam mendengarkan dan menorehkan kesan yang sangat kuat sehingga bagi kebanyakan orang seekor anjing dianggap sebagai salah satu bagian terpenting dalam hidupnya. Kemampuan ini bisa juga kita tiru dengan menerapkan beberapa hal, yaitu:
Pertama, kita harus memiliki komitmen untuk mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Semua aktivitas mental kita akan berhenti apabila kita memiliki komitmen untuk mendengarkan orang lain.
Kedua, libatkan mata dan hati kita. Mengapa mata dengan hati? Karena mendengarkan dengan telinga saja tidak cukup untuk membuat kita benar-benar terhubungan dengan lawan bicara. Melibatkan kontak mata dan perasaan akan membuat orang lain merasa lebih diperhatikan dan benar-benar merasa didengar.
Ketiga, libatkan seluruh panca indera kita ketika sedang mendengarkan. Kita bisa menunjukkan perhatian kita melalui gerakan tubuh yang otentik dan tidak dibuat-buat. Sebagai contoh sederhana adalah melipat kedua tangan dan tidak mengalihkan pandangan dari lawan bicara.
Selain mendengarkan secara totalitas di atas, kita juga bisa belajar membangun komunikasi yang bermakna dengan orang-orang baru.
Bagaimana caranya?

Sumber: Kompas/Shutterstock/Yekatseryna Netuk
Kita bisa membayangkan bagaimana cara seekor anjing bertemu dengan anjing lainnya. Apa yang mereka lakukan? Yap, mengendus.
Tapi bukan mengendus orang lain yaa..
Pernah melihat dua ekor anjing tengah mengendus satu sama lain? Itu dinamakan dengan perkenalan. Setiap anjing baru yang ditemui pasti memperoleh banyak informasi mengenai anjing tersebut. Maka dari itu, kita bisa belajar untuk berani membuka komunikasi dengan orang-orang baru di mana pun dan kapan pun.
Jangan takut untuk mencoba!
Tapi, kebanyakan dari kita sudah ada rasa takut untuk memulai. Kenapa? Kita takut terhadap anggapan orang lain jika mereka tidak suka dengan kita. Betul tidak? Kita semua merasakan hal yang sama.
Namun sebenarnya, menginisiasi sebuah percakapan yang bermakna dengan orang-orang baru akan mendatangkan banyak hal positif baik bagi diri kita maupun orang lain.
Tidak perlu obrolan berat. Percakapan kecil pun meninggalkan kesan yang kuat seperti percakapan sederhana, santai dan bermakna dengan orang-orang baru akan memberikan kita berbagai peluang dan juga pengetahuan baru.
Tapi ingat, percakapan kecil membutuhkan waktu. Pergunakan waktu jeda dan keheningan saat mendengarkan orang lain dengan tulus dan penuh perhatian.
Apakah teman-teman tahu, bahwa seekor anjing dapat diuji ketulusannya? Seperti cerita seekor anjing Jepang, Hachiko? Seekor anjing yang diadopsi olehyang setia menunggu kedatangan Hidesaburo Ueno, profesor dari Universitas Kekaisaran Tokyo.

Sumber: Patung Hachiko di Shibuya (imgkid via aflowerinjapan.com)
Kesetiaan inilah yang membuktikan bahwa anjing merupakan hewan yang tulus.
Seekor anjing selalu menunjukkan ketulusan dan perhatian dalam setiap kesempatan kepada majikannya. Oleh sebab itu, seekor anjing tidak hanya disukai oleh para majikannya tetapi juga dicintai. Bahkan, kecintaan seorang majikan terhadap anjingnya melebihi kecintaannya terhadap makhluk mana pun di dunia.
Seperti seekor anjing, kita pun bisa belajar untuk bersikap tulus dan penuh perhatian ketika mendengarkan orang lain. Ketulusan dan perhatian yang murni tanpa dibuat-buat dapat dirasakan oleh orang lain sehingga mereka merasa terhubung dengan kita dan mereka pun akan menyukai kita.
Untuk menjadi seseorang yang tulus dan penuh perhatian, kita bisa lebih mementingkan orang lain lebih dulu dibandingkan dengan diri kita sendiri. Kita juga bisa belajar lebih banyak memberi dibandingkan menerima.
Tapi bagaimana dengan orang lain yang egois? Apa kita harus tetap mendengarkan mereka?
Tidak ada salahnya kita dengarkan saja. Manusia tidak lepas dari yang namanya ego. Keegoisan mereka berada di luar kendali kita. Kita hanya bisa mengendalikan diri sendiri dengan selalu berusaha untuk menjadi diri sendiri, tidak memiliki maksud tersembunyi, selalu berempati, dan senantiasa berbaik hati.
Ketulusan dan perhatian yang kita berikan ketika mendengarkan orang lain akan menjadikan kita sosok yang disukai oleh banyak orang. Kita pun akan mendapatkan banyak balasan dan keuntungan dari hal ini baik dalam urusan bisnis, profesional maupun pribadi meskipun kita tidak mengharapkannya sama sekali.
Selain ketulusan dan perhatian, kita juga bisa memberikan waktu jeda dan sedikit keheningan ketika berinteraksi dengan orang lain. Seperti seekor anjing yang selalu diam ketika mendengarkan majikannya berbicara dan hanya menggonggong ketika ada sesuatu. Tidak ada salahnya kita mencobanya.
Seringkali, bicara tanpa henti agar dianggap seorang ahli bukanlah cara yang tepat agar kita disukai. Berbeda dengan diam dan mendengarkan lalu berbicara sesuai kebutuhan yang jauh lebih efektif. Hal ini agar apa yang kita sampaikan lebih penting, berbobot, dan bisa tepat sasaran.
Di dunia yang semakin berisik, sedikit jeda dan keheningan dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. Ada beberapa manfaat dari waktu jeda dan keheningan ketika kita berbicara dengan orang lain. Diantaranya adalah sebagai berikut.
- Mengembalikan fokus dan perhatian
- Membantu dalam proses kreatif
- Memberikan kesempatan pembicara untuk berpikir
- Memberikan kesempatan bagi pendengar untuk menelaah informasi
- Menekankan bagian terpenting dalam pembicaraan
Kita lanjut di next Postingan yaa..
Salam manis, Meng!
메타데이터
- post_id
- 6bcf83a9606a
- slug
- listen-like-a-dog-mendengarkan-orang-lain-seperti-seekor-anjing-kita-kan-bukan-hewan-6bcf83a9606a
- url
- https://medium.com/@rningtyas93/listen-like-a-dog-mendengarkan-orang-lain-seperti-seekor-anjing-kita-kan-bukan-hewan-6bcf83a9606a
- canonical_url
- https://medium.com/@rningtyas93/listen-like-a-dog-mendengarkan-orang-lain-seperti-seekor-anjing-kita-kan-bukan-hewan-6bcf83a9606a
- author_url
- https://medium.com/@rningtyas93
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 07:31:21