ASRAMA HAJI
Fajar ke Padang. Kota ini menjadi rangkaian tournya di Sumbar. Rombongan rekan gurunya menginap di asrama haji. Maka, saya pun mendatangi…
ASRAMA HAJI
Fajar ke Padang. Kota ini menjadi rangkaian tournya di Sumbar. Rombongan rekan gurunya menginap di asrama haji. Maka, saya pun mendatangi tempat penginapannya yang tidak jauh dari rumah. Agak dua sampai lima kali pilin gas sudah nyampe di sana. Di wa pakai share loc. Aneh saja. Kayak tidak tahu pula saya dengan asrama haji.

First impression bersua dengan teman lama ini adalah dia masih takah dulu. Masih sangat ori. Perawakan, dimensi tubuh, dan langkah jalan masih seperti di zaman mahasiswa. Sama persis 20 tahun yang lalu. Hal ini termasuk keajaiban dunia. Cuma di jenggotnya sebagai pembeza meskipun jarang-jarang.
Fajar membawa serta satu anggotanya, si sulung. Kayaknya si Laut. Malam itu abak dan anak mengajak saya makan nasi goreng. Saya sebenernya lebih tertarik sate fenomenal bla-bla-bla di tabiang. Namun, dua kombo ini lebih memilih nasi goreng.

Tidak jauh dari penginapan, kami sudah merapat di bofet nasi goreng tepi jalan labuh. Pesan dua saja. Saya cukup kopi pahit sekerat. Fajar teh manis. Pesan teh manis bentuk orang demam saja. Sembari makan, kami mengobrol ngalor ngidul layaknya politisi papan cucian si vesti. Cerita kembali tentang keinginan fajar yang ingin pindah dinas ke Pekanbaru. Mimpinya menyekolahkan anak di Pesantren Abu Dardak. Lalu saya terkesiap saat di topik mengenai si fajar ini yang belum keluar gaji Oktobernya. Sungguh aneh. Walaupun gajinya tinggal tak seberapa, hal ini menjadi kabar yang sensasional, tak rasional, dan kasihanional bagi saya.
“Ang bayia tu ha!” ujar fajar seperti ketua ormas.
Kami kembali ke asrama karena anaknya berkali-kali minta balik. Agaknya Laut sudah bosan mendengar cilotehan duo bapak di sampingnya.
Obrolan kami lanjutkan di tempat duduk dekat penginapan. Meneruskan cerita tentang sekolahnya yang masuk 6.45, tentang belum valid info gtk, dan rute destinasi selanjutnya. Tak lama berselang, datang rekan gurunya. Ikut nimbrung bersama kami. Rekan guru si fajar ini multietnis. Ada orang jawa, riau, dan minang. Dari cerita-cerita, banyak dari guru di Siak ini juga menyambi sebagai petani sawit. Berhektar-hekter pula. Bahkan, si mas fren (fajar memanggilnya fren) bisa menanggguk 5 juta sebulan. Terkesima saya. Itu sebuah pemasukan yang piti masuk yang luar biasa. Namun, sangat disayangkan si fajar tidak ikut serta punya aset sawit tersebut. Kalau punya, insya Allah sudah jadi juragan sawit dia sekarang.
Kira-kira pukul 11 saya pulang. Tidak lupo foto dulu. Pakai cameraphone si mas fren karena kualitas kemera saya kurang bagus. Setelah dilihat hasilnya, kayaknya sama saja.

Jalanan masih ramai. Mungkin karena malam minggu. Insya Allah bersua lagi di lain waktu.
메타데이터
- post_id
- 6c0f05ef5ff6
- slug
- asrama-haji-6c0f05ef5ff6
- url
- https://medium.com/@hafizulahda/asrama-haji-6c0f05ef5ff6
- canonical_url
- https://medium.com/@hafizulahda/asrama-haji-6c0f05ef5ff6
- author_url
- https://medium.com/@hafizulahda
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-24 11:06:28