Eid Mubarak and free Palestine!
Hari ini adalah salah satu sholat Eid terindah yang pernah ku rasakan. Bagaimana tidak? Di tengah lapangan hijau yang terhampar luas…
Eid Mubarak and free Palestine!

Hari ini adalah salah satu sholat Eid terindah yang pernah ku rasakan. Bagaimana tidak? Di tengah lapangan hijau yang terhampar luas, terlihat berbondong-bondong orang menuju Tuhan yang satu.
Sebelum memulai sholat, imam mengimbau kita untuk benar-benar merapatkan barisan. Dan kagetnya, semua benar-benar mengondisikan. Ibu-ibu terlihat maju memenuhi shaf depannya, merapat agar shalatnya lebih sah. Kecuali adik kecil di kananku yang tak begitu menggubris omonganku. “Dek, sini geser ke kiri”. Sepertinya ia enggan meninggalkan sajadahnya, gesernya sebatas formalitas saja.
Setelah shalat, khatib membeberkan pesan-pesan keumatan.
“Umat akan kuat kalau kita bersatu.”
“Semua landasan dari kekuatan umat adalah pendidikan.”
Dan bahasan-bahasan lain tentang geopolitik, kekuatan umat, kemandirian, perkembangan IPTEK serta lainnya.
Ah indahnya. Menjadi kemagisan tersendiri bagiku, jika pembahasan yang penting diletakkan pada tempatnya. Jengah rasanya mendengar hiruk pikuk perdebatan. Terlebih, umat sudah disibukkan dengan hal-hal kontra produktif. Mazhabisme, gaya hidup Barat, konsumerisme dan banyak behaviour lain yang semakin mengaburkan muslim dari identitas sejatinya. Kita lahir dari perut peradaban yang hidup dengan arahan Pemilik Semesta, sementara dunia hari ini dirajut dengan kegemilangan fisik untuk memenuhi nafsu semata. Jika dorongannya saja jauh berbeda, bagaimana mungkin bisa setara?
Kalau saja ada hal yang bisa aku tambah dari shalat Eid pagi ini, mungkin aku berharap khatib mau membahas keadaan Masjidil Aqsha yang telah dipaksa tutup sejak 11 Ramadhan lalu. Sebab janggal rasanya, ketika pembahasan perang Iran-Amerika & Israel disematkan, namun kita tak menyinggung masalah esensinya. Ya, terjajahnya Masjidil Aqsha.
Belakangan ini umat lupa, bahwa masjid miliknya sedang terjajah begitu dalam. Terlalu dalam hingga apatisme ini menyeruak dan bersemi di tengah-tengah pemikiran umat. Acuhnya kita terhadap kondisi di sana menegaskan bahwa kita telah — sedikit banyak — berpikir dengan cara penjajahnya. Sebab, secara logika, apa yang paling diinginkan oleh penjajah? Tentu saja umat Muslim yang tak mengingat kiblat pertamanya, hingga mudah bagi mereka untuk merebutnya.
Melupakan kiblat pertama, menyenyapkan kemeriahan masjid suci, memagari ruang gerak hingga kiranya hanya berjabat tangan lah satu-satunya jalan perdamaian, menggiring umat menuju agendanya, dan merebut tanah suci itu sendiri. Begitu lah kira-kira upaya kolonialis mereka.
Kalau hari ini kita melihat Masjidil Aqsha dan umat Muslim yang dinodai begitu dalam, dirampas haknya, dan diinjak-injak harga dirinya. Maka, akan tiba saatnya kita berangsur bangkit.
Selama mata ini tidak dibiarkan tertutup, dan hati tak didiamkan mengeras. Selama kita masih memikirkannya, mempelajarinya, memberitakannya, memperjuangkannya, maka tak ada masa depan lain selain menang di atas agamaNya.
Allahumma inna nas’aluka shalatan fil Masjidil Aqsha wa huwa hurrun aziiz.
Ya Allah, izinkan kami shalat di Masjidil Aqsha dalam keadaan terbebas dan terhormat.
Eid Mubarak and I’ll see you in a free Al-Aqsha.
Shawwal, 2026.
메타데이터
- post_id
- 6c1489d3ece2
- slug
- eid-mubarak-and-free-palestine-6c1489d3ece2
- url
- https://medium.com/@denaahaura/eid-mubarak-and-free-palestine-6c1489d3ece2
- canonical_url
- https://medium.com/@denaahaura/eid-mubarak-and-free-palestine-6c1489d3ece2
- author_url
- https://medium.com/@denaahaura
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-11 20:25:18