Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai
Editor: Nadya Tutor
Potret Diri yang Kutemukan dalam Bingkai
Editor: Nadya Tutor

Lukisan Karya Basoeki Abdullah (Foto: Radar Jogja)
Langkah kakiku bergema pelan di antara lantai museum yang sunyi. Di kanan dan kiriku, puluhan karya seni memajang ceritanya masing-masing, memancarkan pesona estetika yang mengagumkan. Namun, langkahku mendadak terhenti ketika aku tiba di depan satu bingkai emas yang kokoh, aku berdiri memandangi lukisan tersebut dengan penuh arti.
Mataku terpaku, dan seluruh riuh di kepalaku seketika senyap saat menatap lukisan Kakak dan Adik karya maestro Basoeki Abdullah ini. Ada kekuatan magis yang tidak kasat mata dari lukisan tersebut, sebuah tarikan emosional yang membuatku tidak bisa berpaling. Sejujurnya, saat itu ada perasaan ingin menangis yang aku tangkis.
Sebagai seorang kakak perempuan, berdiri di depan kanvas itu rasanya seperti sedang dihadapkan pada sebuah cermin waktu. Aku tidak sekadar melihat goresan cat minyak di atas kain, melainkan melihat potongan jiwaku sendiri yang sedang digambarkan di sana.
Aku memperhatikan detailnya dengan saksama. Di sana ada sosok adik kecil yang digendong erat. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan binar kepolosan yang begitu murni. Tatapan yang tanpa beban, tanpa rasa takut, dan penuh rasa aman. Sebuah ketenangan yang hanya bisa dimiliki oleh seorang anak yang tahu bahwa ada punggung kokoh yang sedang menyangganya dari belakang. Ia tahu, apa pun yang terjadi di luar sana, ia berada di tempat teraman.
Lalu mataku beralih menyusuri raut wajah si kakak perempuan. Di sinilah dadaku terasa bergetar hebat. Tatapan matanya begitu dalam dan bercerita banyak hal. Ada binar ketulusan yang luar biasa, tetapi di saat yang sama, ada gurat kedewasaan yang tumbuh melampaui usianya.
Wajahnya memancarkan rasa tanggung jawab, sebuah kesadaran dini bahwa ada jiwa kecil yang keseluruhannya sedang bergantung pada pundaknya. Genggaman tangannya pada kain pengikat bukan sekadar pegangan mekanis, melainkan sebuah manifestasi dari janji bisu: “Selama ada Kakak, kamu akan baik-baik saja.”
Seketika memori dan seluruh rasaku sebagai kakak perempuan membuncah di dalam keheningan ruang pameran itu. Menjadi kakak perempuan adalah sebuah seni mengalah yang dipelajari sejak dini.
Itu adalah tentang bagaimana pundak kita dilatih untuk menjadi kuat sebelum waktunya, memasang badan paling depan untuk menghalau badai, dan memastikan jalan yang dilewati sang adik menjadi lebih rata dan aman untuk langkah kecilnya. Sering kali, kita menaruh lelah kita paling belakang, melipat erat-erat semua keluh, demi menjaga agar senyum di wajah adik kita tidak pudar.
Kain gendongan dalam lukisan itu seolah menjelma menjadi simbol tak kasat mata yang selama ini aku bawa di duniaku.
Aku berdiri di sana dalam waktu yang lama, membiarkan diriku tenggelam dalam dialog bisu dengan lukisan tersebut. Pertemuan di museum hari itu akhirnya bukan lagi sekadar kunjungan seni biasa, melainkan sebuah ruang kontemplasi yang intim.
Lewat karya indah ini, aku merasa divalidasi. Aku merasa perjuangan, rasa sayang, dan seluruh tanggung jawab yang kupikul sebagai kakak perempuan selama ini telah diabadikan dengan begitu terhormat di atas kanvas. Sebuah pengingat yang menyentuh hati, bahwa menjadi tempat bersandar adalah peran yang melelahkan, namun sekaligus menjadi salah satu takdir paling indah yang pernah dititipkan di atas pundakku.
Sabtu, 6 Juni 2026.
메타데이터
- post_id
- 6c6fc2b6da7e
- slug
- potret-diri-yang-kutemukan-dalam-bingkai-6c6fc2b6da7e
- url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/potret-diri-yang-kutemukan-dalam-bingkai-6c6fc2b6da7e
- canonical_url
- https://medium.com/perspektif-perempuan/potret-diri-yang-kutemukan-dalam-bingkai-6c6fc2b6da7e
- author_url
- https://medium.com/@jurnalkia
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 12:17:11