Sabar Dulu
Percaya nggak, sih, kalau sesuatu itu kadang dikasihnya justru pas kita udah mau angkat tangan dan nyaris menyerah?
Sabar Dulu
Photo by Iva Rajović on Unsplash
Percaya nggak, sih, kalau sesuatu itu kadang dikasihnya justru pas kita udah mau angkat tangan dan nyaris menyerah?
Ada satu kisah menarik dari Roanne van Voorst, seorang antropolog asal Belanda, yang menulis buku berjudul Tempat Terbaik di Dunia—buku favorit saya.
Pada bab awal buku itu, Roanne bercerita soal rencananya meneliti respons manusia terhadap banjir untuk disertasinya. Dia berencana melakukan observasi dengan tinggal selama satu tahun di kawasan kumuh Jakarta yang kerap dilanda banjir.
Sayangnya, setibanya di Indonesia, warga dari setiap kampung yang berpotensi menjadi lokasi penelitian tampak keberatan dengan kehadiran Roanne. Dirinya sering disangka antek-antek asing. Pada titik ini, dia sempat berpikir untuk membatalkan penelitian dan pulang ke Belanda.
Usai serangkaian penolakan itu, Roanne naik bus yang dia sendiri nggak tahu arahnya mau ke mana. Dalam bus itu, dia bertemu seorang pengamen laki-laki yang mengajaknya ke kampungnya. Kampung itulah yang akhirnya jadi lokasi ideal untuk penelitiannya. Berkat si pengamen, Roanne bisa lebih mudah diterima di lingkungan itu.
Cerita Roanne ini bikin saya teringat pengalaman waktu nyari kosan yang sekarang saya tempati. Bedanya, saya nggak lagi bikin disertasi, cuma lagi butuh tempat buat tidur.
Demi dapat kosan yang lebih dekat dengan kampus, berhari-hari saya coba segala cara. Mulai dari cari lewat aplikasi sampai keliling naik motor memasuki gang demi gang. Hasilnya? Nihil. Semua kos lagi penuh.
Hingga keesokan harinya ada satu kos yang muncul di pencarian aplikasi dengan keterangan satu kamar tersedia. Dari gambar, kos tersebut tampak menjajikan. Akan tetapi, ketika saya survei langsung, tempatnya malah bikin merinding karena lebih mirip lokasi syuting uji nyali. Gelap, lembap, dan bau apek.
Pulang dari tempat horor itu, saya sudah mulai capek dan bingung harus ke mana lagi. Nyari kosan kok susahnya kayak nyari jodoh, pikir saya kala itu.
Seperti mendapat ilham, sepulang dari sana saya nggak langsung balik ke kos lama. Saya berhenti di pinggir jalan dan buka aplikasi Facebook. Begitu beranda terbuka, langsung muncul postingan teranyar dari grup info kos-kosan yang baru diunggah kurang dari 15 menit lalu. Isinya penawaran kos dengan lokasi strategis, fasilitas oke, dan harga sesuai budget.
Ketika saya datang langsung ke kos itu, ternyata tempatnya ciamik. Bersih, pencahayaan bagus, dan sirkulasi udaranya mumpuni. Bisa dibilang, ini merupakan kosan dengan sirkulasi udara terbaik selama saya berkiprah sebagai anak kos. Paru-paru saya akhirnya bisa kembang-kempis dengan penuh suka cita.
Dari situ saya sadar, Tuhan emang punya cara unik buat ngajarin sabar. Kadang kita disuruh kesel dulu, pusing dulu, capek dulu—sampai di titik nyaris menyerah—baru deh dikasih apa yang kita mau. Kadang dikasihnya malah lebih dari yang sudah kita doakan.
메타데이터
- post_id
- 6ca196316b71
- slug
- sabar-dulu-6ca196316b71
- url
- https://medium.com/@rizoles/sabar-dulu-6ca196316b71
- canonical_url
- https://medium.com/@rizoles/sabar-dulu-6ca196316b71
- author_url
- https://medium.com/@rizoles
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 06:48:50