Eksistensial Cinta Amerta
Cinta amerta bukanlah rantai yang mengikat, melainkan ikatan tanpa tali yang membebaskan untuk saling terbang namun tahu jalan pulang.
Eksistensial Cinta Amerta
Cinta amerta bukanlah rantai yang mengikat, melainkan ikatan tanpa tali yang membebaskan untuk saling terbang namun tahu jalan pulang.

Di langit tertinggi sekalipun, rindu jatuh bagai gerimis yang menuntun kita kembali pada bait-bait suci sang Guru (Almustofa),
“Berpasangan engkau telah diciptakan, dan selamanya engkau akan berpasangan. Bersamalah dikau tatkala sang maut merenggut umurmu. Ya, bahkan bersama pula kalian, dalam ingatan sunyi tuhan. Namun biarkan ada ruang antara kebersamaan itu, tempat angin surga menari-nari di antaramu. Berkasih-kasihlah, namun jangan membelenggu cinta, biarkan cinta itu bergerak senantiasa, bagaikan air hidup, yang lincah mengalir antara pantai kedua jiwa. Saling isilah piala minumanmu, tetapi jangan minum dari satu piala, saling bagilah rotimu, tetapi jangan dari pinggan yang sama. Bernyanyi dan menarilah bersama, dalam segala sukacita, hanya biarkanlah masing-masing menghayati ke-tunggalannya. Berikan hatimu, namun jangan saling menguasai, sebab hanya tangan kehidupan yang akan mampu mencakupnya.” -The Prophet-
Kini kita mengecap makna cinta lewat bait-bait suci sang Guru (Almustofa) dalam kitab The Prophet karya Khalil Gibran.
Sebuah hakikat cinta yang menjelma laksana bumi dan bulan, sepasang takdir yang setia mengorbit matahari. Di panggung semesta ini, kita belajar merayakan perbedaan tarian yang meski gerakannya tak sama, detaknya tetap seirama. Walau bait melodinya berbeda, nadanya selalu berlabuh pada muara yang serupa. Jemari kita bertaut erat di kala badai meraba, serupa akar yang memeluk bumi secara mesra tanpa menorehkan luka. Di pelukan syandakala, kita saling merangkul mesra sembari menghayati bisikan renjana, lara, dan mimpi yang kebal terhadap angin jenuh yang mendinginkan jiwa, tanpa takut suara karam dalam keheningan. Kita saling melengkapi bagai siang dan malam yang saling rindu tanpa takut ditolak bumi. Di bentangan semesta ini, kita tak lagi perlu pura-pura kuat bak Dewa Atlas yang menopang langit, cukuplah menjadi sepasang angsa rapuh yang terus bersama. Kita saling merayakan kehadiran jiwa tanpa terbelenggu, hingga akhirnya tiba altar ketenangan yang paling murni; yang amerta.
메타데이터
- post_id
- 6caf29e33db6
- slug
- eksistensial-cinta-amerta-6caf29e33db6
- url
- https://medium.com/@Nrsky/eksistensial-cinta-amerta-6caf29e33db6
- canonical_url
- https://medium.com/@Nrsky/eksistensial-cinta-amerta-6caf29e33db6
- author_url
- https://medium.com/@Nrsky
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49