Berasumsilah
Di pagi hari kota Jakarta, di dalam kamar yang sudah cerah namun lampu belum dimatikan. Sebab di atas kasur masih ada seorang yang sedang…
Berasumsilah
[embed]
Di pagi hari kota Jakarta, di dalam kamar yang sudah cerah namun lampu belum dimatikan. Sebab di atas kasur masih ada seorang yang sedang melamun panjang, lagi dan lagi ia memimpikan orang yang sama. Tanpa diminta.
Disana di dalam ruang kelas, dengan posisi dan keadaan diantara mereka yang saling dipahami. Mereka tau mereka sudah asing. Entah apa yang terjadi hingga Salsa hilang keseimbangan dan badannya.
“Than, tolongg!!” refleknya meminta tolong sebab hanya Fathan yang tiba-tiba di depan matanya
(bugh)*
Tanpa ada adegan di sinetron, Salsa langsung berdiri dan pergi sambil meminta maaf. Namun di kedua kalinya Salsa kembali hampir terjatuh dan ditangkap sengaja oleh Fathan.
Suasana sungguh canggung, Salsa pergi menunduk ke tempatnya, Fathan pun terpaku dengan apa yang baru saja terjadi.
Tetapi tidak lama dari akhirnya Salsa dapat mengembalikan emosinya yang bergejolak semenjak kejadian tadi. Tiba-tiba Fathan secara sengaja datang membawa satu cup ice cream rasa coklat yang ia bawakan ke depan mata Salsa.
Ia taruh ice cream itu di atas meja, dan sekian lama mata Salsa tidak berpindah dari ice cream itu. Entah apa yang terjadi? entah ini janji dulu yang pernah diucap atau hanya hal yang secara tiba-tiba datang.
Tak satupun kata keluar dari mulut Salsa, Fathan kembali mengambil sesuatu di dalam kantong celananya. Ia mengeluarkan satu keychain lucu.
“tadi aku lihat ini, kayaknya kamu suka”
Salsa masih tak berkata hanya menatap Fathan lama. Fathan meninggalkan keychain itu di samping ice cream dan pamit berlalu
Mungkin setengah jam di kepala Salsa hanya mimpinya semalam yang terus berputar. Ia diam terkapar di atas kasurnya dan terus memikirkan hal itu. Berusaha ia ingat apa yang terjadi semalam, rasanya tak ada ia temukan Fathan dimanapun semalam. Mengapa memimpikan lagi dan lagi? pikirnya.
Salsa selalu menyangkal apapun kemungkinan yang sering datang dimimpinya, sebab kenyataannya sejak saat itu tak ada lagi Fathan mendekatinya sedikit pun. Tidak mungkin mimpi-mimpi itu menjadi sebuah isyarat atau pertanda yang harus dipercayai.
Selama ini pun setiap ada cinta yang datang, tidak pernah pula berhasil sebab Salsa selalu merasa mengkhianati cinta nya yang sudah lama hilang itu. Padahal rasanya tak mungkin lagi ada rasa ingin tahu tentang Salsa dari Fathan diujung sana, sebab Fathan begitu merayakan cinta barunya ini.
Salsa pun mulai beranjak dari kasurnya dengan perasaan yang cukup mix feeling untuk minggu pagi ini. Ia berberes, mandi, bahkan pergi groceries shopping hari ini dengan hanya diam dan sedikit lagu mellow menemani perasaanya yang sering begitu.
Di sepanjang harinya ini di kepalanya semakin meluas tentang Fathan, segala kesalahan itu terus menghantui badannya. Selalu saja ada ‘coba aku tak begitu’, dipikirannya setiap Fathan muncul kembali. Menurutnya selalu percuma untuk memulai kisah baru jikalau yang ia tunggu selama ini hanya penerimaan maaf nya untuk Fathan.
Di sisi setelah dari rak buah dan sayur, Salsa pergi ke section daging dengan muka diamnya. Di antara itu ada rak berisi kecap, saos dan teman-temannya, matanya menangkap satu mata yang juga menangkap matanya. Raut wajah mereka sama-sama berubah dengan cepat, jantung Salsa pun berdetak begitu cepat diantara itu. Napasnya agak tersendat, tapi ia terus berjalan. Di depan matanya ada orang yang sedari tadi ia pikirkan, datang pula berbelanja dengan kekasih barunya.
Padahal salah satu dari lamunan Salsa berisi perandaian jika Fathan datang dan bilang bahwa semua hanya asumsi salah Salsa. Semua hanya overthinking Salsa yang salah. Dan Salsa pun ingin memberi tahu bahwa Fathan masih sering muncul dimimpinya hingga bahwa sampai detik ini Fathan belum pernah terganti.
Tapi setelah kejadian yang baru saja terjadi, tiba tiba air mengucur pelan tak sengaja dari mata kiri Salsa. ia seka air mata itu dan terus berjalan hingga lumayan jauh dari section yang ingin ia tuju tadinya. Ia pulang saja.
Meninggalkan Fathan yang mencari punggungnya.
Semua cepat berlalu, kini Salsa sudah ada kembali di kamarnya. Dan bumi sudah malam, dari semua yang terjadi dan sebelum tidur hanya satu kalimat yang mewakili semua Salsa tentang Fathan.
“mana mungkin aku benci”
Dan selanjutnya, Salsa memimpikan Fathan lagi.
메타데이터
- post_id
- 6ce49e8a275d
- slug
- berasumsilah-6ce49e8a275d
- url
- https://medium.com/@tiarawirman/berasumsilah-6ce49e8a275d
- canonical_url
- https://medium.com/@tiarawirman/berasumsilah-6ce49e8a275d
- author_url
- https://medium.com/@tiarawirman
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 19:41:50