Mundurnya Sepakbola Afrika Timur
Ada apa dengan sepakbola Afrika Timur?
Mundurnya Sepakbola Afrika Timur

Jauh dari intensitas Stade Foot Fès¹ dan gemerlap lampu Tangier Grand Stadium tempat para raksasa sepakbola Afrika saling beradu², Stade Al Medina terasa lebih rileks.
Dengan alunan musik Diamond Platnumz yang menggelegar dari pengeras suara dan sekelompok kecil warga Uganda dan Tanzania yang bercanda dengan cara khas Afrika Timur, skuad Taifa Stars dan The Cranes saling berhadapan tanpa pertaruhan apa pun — nyaris seperti laga amal.
Namun selama 90 menit, saat hujan deras mengguyur dan intensitas pertandingan meningkat, kita seolah sedang menyaksikan Derby Afrika Timur yang sengit di masa lalu, di Stadion Benjamin Mpaka di tengah hujan deras khas pesisir kota Dar Es Salaam.
Sebagai seseorang yang lahir di Kenya, yang keluarganya pernah tinggal di Uganda selama delapan tahun, dan yang juga telah menghabiskan bulan demi bulan di Tanzania sepanjang hidupnya, saya sangat terpukau setiap menitnya. Tetapi (saya sadar) hanya sedikit orang di luar perbatasan Afrika Timur yang memiliki sentimen yang sama dengan saya. Bahkan, ketika saya berbicara dengan orang-orang di sini tentang pertandingan tersebut, mereka tidak bertanya kepada saya soal tim mana yang lebih baik (Uganda!) dan siapa pemain muda potensial yang patut mendapatkan perhatian (James Bogere!³).
Sebaliknya, saya hanya pernah mendapat satu pertanyaan: mengapa sepakbola Afrika Timur begitu mundur?
Dari jurnalis, fans, pencari bakat, hingga klub, itulah pertanyaan yang selalu diajukan kepada saya sebagai seseorang dari Afrika Timur. Bahkan sampai-sampai saya diwawancarai sebagai bagian dari artikel The Athletic⁴ yang mencoba menjawab pertanyaan itu.
Karena pertanyaan ini diajukan berkali-kali, saya jadi banyak berpikir selama 48 jam terakhir dan memutuskan untuk menuliskan beberapa pemikiran saya di sini. Ini bukan hasil penelitian panjang (yang akan saya lakukan sebelum Piala Afrika 2027 tiba), melainkan respons dan eksplorasi personal. Saya juga akan mencoba membongkar beberapa mitos di sepanjang tulisan ini.
Pertama-tama, mari kita perjelas bahwa sepakbola di Afrika Timur memiliki warisan yang luar biasa. Tahun ini adalah peringatan 100 tahun Piala Gossage yang kemudian menjadi Piala CECAFA, kompetisi sepakbola internasional tertua di Afrika. Piala Gossage merupakan puncak sepakbola di Afrika Timur sepanjang abad ke-20.
Dan pada edisi-edisi awal Piala Afrika, negara-negara Afrika Timur sangat kompetitif. Ethiopia mencapai final pada edisi perdana Piala Afrika 1957 dan menjuarai Piala Afrika 1962. Uganda berada di peringkat keempat pada Piala Afrika 1962 dan mencapai final pada tahun 1978, kalah dari tim Ghana yang saat itu tak terkalahkan.
Analisis Eksternal
Dari luar Afrika Timur, pertanyaan itu selalu dikaitkan dengan kesuksesan olahraga lari di Afrika Timur. Lagipula, kami memang adalah yang terbaik dalam hal lari jarak menengah dan jarak jauh.

Analisis tentang kemampuan lari orang Afrika Timur selalu berujung pada genetika. Etnis Kalenjin adalah pelari fenomenal karena mereka memiliki kapasitas paru-paru yang luar biasa, jumlah sel darah merah yang melimpah, dan serat otot tipe lambat (tipe 1) yang kuat sehingga memungkinkan daya tahan yang menakjubkan. Namun, kekuatan genetik yang hebat ini menjadi kelemahan dalam konteks sepakbola, di mana gerakan eksplosif berulang, kekuatan, dan tinggi badan sangat berharga.
Dalam beberapa hal, analisis ini terbukti benar dalam konteks Ethiopia dan Tanzania yang memang memiliki populasi pemain yang lebih kecil di tim nasional mereka. Lagipula, bek tengah terbaik Tanzania, Dickson Job, dicadangkan saat melawan Uganda kemarin — tinggi badannya hanya 168 cm.
Namun bagi saya, ini hanya menjawab sebagian dari masalah dan pada kenyataannya, sama sekali tidak tepat. Itu jawaban yang mengadopsi kerangka perspektif neo-kolonial dalam beberapa hal dan pada akhirnya tak lebih jawaban malas analisis.
Pertama-tama, itu merefleksikan kepicikan neo-kolonial klasik yang menganggap bahwa negara-negara di Afrika Timur adalah satu kesatuan (monolit). Untuk setiap Kipchoge⁵ yang kurus seperti ranting, ada Onyango⁶ yang tingginya lebih dari enam kaki dan berbadan tegap seperti pelari cepat. Ya, Kenya adalah rumah bagi para pelari terhebat di dunia. Tetapi jika kami adalah rumah bagi Eliud Kipchoge, kita juga rumah bagi Julius Yego, pelempar lembing terhebat di Afrika, Collins Injera, yang pernah menjadi pencetak try terbanyak dalam sejarah Rugby Sevens Dunia, dan tentu saja kita adalah rumah bagi manusia tercepat di Afrika, Ferdinand Omanyala.
Selain itu, negara-negara dengan pemain bertubuh kecil selalu sukses dalam sepakbola. Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa Spanyol tidak seharusnya menjadi salah satu tim terbaik di dunia karena mereka memiliki pemain bertubuh kecil. Di ajang Piala Afrika, Afrika Selatan adalah salah satu favorit, sebuah negara yang bangga memainkan gaya sepakbola yang dibangun berdasarkan kualitas teknik daripada kekuatan fisik.
Ya, persepsi tentang orang Afrika Timur yang bertubuh kecil bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan mereka tidak pindah ke Eropa. Tetapi izinkan saya memperjelas, itu bukan karena analisis sepakbola yang baik, itu adalah rasisme yang berpura-pura menyamar analisis sepakbola dan lahir dari anggapan bahwa satu-satunya hal yang bagus dari orang Afrika Sub-Sahara dalam sepakbola hanya aspek fisikalitasnya.
Analisis Internal
Ketika Anda berbicara dengan orang-orang di Afrika Timur tentang mengapa sepakbola Afrika Timur mengalami kemunduran dalam dua dekade terakhir, hanya satu kata yang terlintas di benak kami: korupsi.
Bagi saya, ini adalah penjelasan yang jauh lebih akurat. Tanyakan kepada administrator sepakbola mana pun di akademi atau klub di Afrika Timur, menghasilkan talenta-talenta muda dan mengirimnya untuk abroad adalah sebuah tantangan serius. Lagipula, Kenya dilarang oleh FIFA untuk semua kegiatan sepakbola, hanya tiga tahun yang lalu, karena presiden federasi sepakbola nasional (FKF), Nick Mwendwa, ditangkap karena kasus fraud.⁷
Ini adalah negara yang sama yang memiliki kerja sama lukratif dengan kanal televisi SuperSport, penyiar tayangan bola terbesar di Afrika, tapi kesepakatan itu berantakan karena salah urus Liga Utama Kenya.
Tata kelola persepakbolaan yang buruk, khususnya di Kenya, telah memberikan dampak destruktif terhadap industri dan kultur sepakbola secara luas. Sangat sedikit orang luar yang tertarik untuk membangun akademi di negara tersebut dan hampir tidak ada jalur bagi talenta-talenta muda. Inilah yang bikin bakat-bakat muda tadi di bawah kendali segelintir agen yang hanya gila cuan tapi enggan mengurus pengembangan bakat, dan dalam kasus terburuk, malah mengeksploitasi para pemain.
Hal ini juga turut membentuk kondisi negara yang apatis terhadap sepakbola lokal. Berdasawarsa lalu, Liga Utama Kenya cukup dominan dan klub-klub seperti Gor Mahia dan AFC Leopards termasuk tim-tim raksasa di sepakbola Afrika, tapi sekarang mereka hanya bayang-bayang dari kejayaan masa silam. Orang Kenya masih sangat tergila-gila dengan sepakbola, tetapi siapa yang bisa menyalahkan mereka kalau mereka lebih tertarik pada Liga Utama Inggris ketimbang liga sepakbola mereka sendiri.

Namun, sekali lagi, jawaban ini tidak memuaskan. Pertama, Tanzania dan Ethiopia memiliki liga yang relatif berkembang dan budaya sepakbola yang kuat. Tetapi yang lebih mendesak, budaya korupsi tidak pernah menghentikan negara-negara lain di Afrika dan dunia untuk berkembang.
Ambil contoh Nigeria, yang sering dianggap sebagai salah satu negara paling korup di dunia, namun mereka tetap memiliki banyak akademi top dan secara reguler tetap bisa terus melahirkan beberapa pemain terbaik di dunia.
Tetapi, sekali lagi, jawaban ini hanya memberikan jawaban nanggung dan merupakan analisis yang rumpang.
Masalah Sebenarnya
Infrastruktur sepakbola, kurangnya investasi, korupsi, dan profil fisik, semua ini memberi kita beberapa opsi jawaban, tetapi tidak satu pun yang benar-benar menyentuh inti permasalahan.
Ada masalah nyata. Seluruh wilayah ini, mulai dari sebagian Zambia, melalui Malawi dan Mozambik utara, tepat di sepanjang Lembah Celah Besar melalui Tanzania, Burundi, Rwanda, Uganda, Kenya, dan Ethiopia, telah menunjukkan performa yang buruk dalam sepakbola.
Menurut saya, alasan sebenarnya mengapa semua negara ini mengalami kesulitan jauh lebih sederhana daripada semua hal di atas. Afrika Timur mengalami kesulitan karena kami adalah negara-negara yang terdiri dari desa-desa, bukan kota-kota.
Afrika Timur adalah wilayah yang benar-benar unik di dunia karena merupakan salah satu daerah dengan tingkat urbanisasi terendah di planet ini.
The Globe Economy menempatkan kesembilan negara tersebut, kecuali Zambia (peringkat ke-140), di antara 36 negara terbawah di dunia berdasarkan persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. 69,5% penduduk Kenya tinggal di pedesaan, sementara di Ethiopia, negara terpadat kedua di Afrika dengan lebih dari 130 juta penduduk, hanya 23,7% yang tinggal di kota.
Ada banyak alasan untuk hal ini, yang utama adalah kesuburan luar biasa di dataran tinggi yang terbentuk oleh Great Rift Valley. Tidak seperti wilayah Afrika lainnya yang bergantung pada sungai, garis pantai, oasis, atau penanda geografis lainnya untuk pangan, perdagangan, atau ekonomi, penduduk Afrika Timur (sebagian besar) mampu hidup mandiri dari (kesuburan) tanah sendiri selama berabad-abad. Konon, untuk setiap satu musim tanam di tempat lain, Rwanda dapat menghasilkan tiga kali panen.
Sulit untuk memahami skala kehidupan rural di negara-negara ini sampai Anda merasakan sendiri berada di sana. Di tempat saya dibesarkan, di tepi Great Rift Valley, semua orang adalah petani. Ya, Anda mungkin seorang sopir taksi, guru, atau dokter, tetapi Anda juga memiliki shamba (ladang) di rumah tempat Anda dapat menanam jagung, alpukat, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan apa pun yang Anda inginkan. Di Uganda, Anda dapat menemukan lebih dari delapan puluh jenis pisang yang berbeda. Tidak heran jika di Uganda Anda dapat menemukan hidangan pisang yang gurih (maatoke), pisang termanis dan terlezat di dunia (ndizi), dan bahkan bir pisang (kayinja).
Ketika Anda memahami realitas kehidupan rural di bagian dunia ini, skala tantangan membangun infrastruktur sepakbola yang kuat menjadi sangat jelas dan menakutkan. Sepakbola adalah olahraga perkotaan, olahraga yang bergantung pada populasi besar untuk bermain dan berkompetisi. Di negara-negara seperti Inggris dan Prancis, mereka tidak mengumpulkan bakat dari desa-desa di pinggiran, tetapi hampir secara eksklusif dari kota-kota seperti Paris dan London. Superstar Brasil muncul dari favela, bukan dari hutan hujan.
Ini tidak berbeda di Afrika. Di Afrika Barat, Anda dapat mendirikan akademi di kota besar mana pun, dari Dakar hingga Bamako, Accra, hingga Lagos, dan Anda akan memiliki “area penangkapan” benih-benih bakat yang sangat besar. Hal ini mustahil di Afrika Timur. Jika Anda membuka akademi sepakbola di Nairobi, Anda kehilangan potensi sepakbola di jantung negara, yaitu di Kenya Barat di tepi Danau Victoria.
Tidak mengherankan jika Taifa Stars punya problem profil fisik, karena mereka secara alami mengumpulkan bakat mereka secara besar-besaran hanya dari satu atau dua kota di negara ini seperti Dar Es Salaam dan Morogoro.
Jadi, satu-satunya cara untuk menciptakan infrastruktur sepakbola yang fungsional di negara-negara ini adalah dengan memiliki model program yang turut mengkalkulasikan hal ihwal tersebut. Liga sepakbola lokal yang solid menjadi fondasi sistem nasional. Tidak heran jika dari semua negara yang disebutkan, Zambia adalah yang paling sukses. Zambia adalah negara yang paling terurbanisasi, tetapi seluruh budaya dan infrastruktur sepakbolanya juga berpusat di Copper Belt, satu-satunya wilayah yang sangat terurbanisasi di negara tersebut.
Dengan realita dunia neo-kolonial yang terglobalisasi, ditambah dengan penurunan kesuburan yang terus-menerus di wilayah tersebut akibat perubahan iklim, negara-negara ini mengalami urbanisasi yang pesat, tetapi kenyataannya sepakbola Afrika Timur menghadapi tantangan yang tidak dihadapi oleh wilayah lain di benua ini.
Dengan Piala Afrika berikutnya yang akan berlangsung di Kenya, Uganda, dan Tanzania, minat terhadap tim nasional negara-negara tersebut belum pernah sebesar ini di abad ini. Tetapi jika salah satu negara ingin meningkatkan kemampuan mereka, mereka tidak boleh mengadopsi model dari bagian Afrika lainnya, melainkan harus bisa membangun model mereka sendiri.
*Alasdair Howorth , pengamat sepakbola Afrika, kontributor The Athletic.
Sumber:
Howorth, A. (28 Desember 2025). “Why is East Africa so bad at football?”. Substack “On The Whistle”. Diakses dari https://alasdairhoworth.substack.com/p/why-is-east-africa-so-bad-at-football
Catatan Kaki
[1] Merujuk pada pertandingan Nigeria vs. Tunisia, matchday kedua Grup C Piala Afrika 2025.
[2] Merujuk pada pertandingan Senegal vs. Republik Demokratik Kongo, matchday kedua Grup D Piala Afrika 2025.
[3] Penyerang muda Uganda yang bermain untuk klub Denmark, Aarhus GF.
[4] Tharme, L. (27 Desember 2025). “AFCON 2025: Why are east African teams so far behind other nations?”. The Athletic. Diakses dari https://www.nytimes.com/athletic/6911907/2025/12/27/afcon-2025-why-are-east-african-teams-so-far-behind-other-nations/
[5] Merujuk kepada Eliud Kipchoge, pelari Kenya.
[6] Merujuk kepada Denis Onyango, kiper Uganda berpostur tinggi 186 cm.
[7] BBC. (30 November 2021). “Nick Mwendwa: Kenya FA boss bailed after being charged with four counts of fraud.” BBC Sport. Diakses dari https://www.bbc.com/sport/africa/59459141
메타데이터
- post_id
- 6cf7ecfacd61
- slug
- mundurnya-sepakbola-afrika-timur-6cf7ecfacd61
- url
- https://medium.com/@sepakanpena/mundurnya-sepakbola-afrika-timur-6cf7ecfacd61
- canonical_url
- https://medium.com/@sepakanpena/mundurnya-sepakbola-afrika-timur-6cf7ecfacd61
- author_url
- https://medium.com/@sepakanpena
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-22 08:33:11