← Back to list

Satu

Terbangun di kamar masa remaja adalah jenis horor yang berbeda bagi Mentari Arunika Dewanti.

Kaiisher_ · 2026-05-16 12:04 · 0 claps · 4.0 min read
#winrina #alternative-universe #time-travel #gxg
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔭 · Astronomy & Space ✈️ · Travel

Satu

Terbangun di kamar masa remaja adalah jenis horor yang berbeda bagi Mentari Arunika Dewanti.

Bau kamarnya masih sama aroma detergen murah dan tumpukan buku cetak yang berdebu. Di atas nakas, ponsel lipat lamanya bergetar hebat. Mentari meraba benda itu dengan tangan yang gemetar. Tangannya halus, tanpa bekas luka kecil akibat kecelakaan dapur yang ia alami saat umur 24.

Ia menatap cermin. Di sana, seorang gadis berusia 17 tahun dengan rambut hitam lurus dan pipi yang masih sedikit chubby menatap balik dengan mata yang menyimpan duka seorang wanita dewasa.

"Ini nggak mungkin..." bisiknya. Suaranya melengking khas remaja, belum serak karena kelelahan hidup.

Ia ingat betul, beberapa menit lalu ia sedang menangis di balkon apartemennya di Malang, menatap hujan sambil memegang surat cerai yang sudah ditandatangani Kirana setahun lalu. Lalu sekarang? Ia kembali ke tahun di mana semuanya dimulai.

Tahun di mana ia pertama kali jatuh cinta, dan tahun di mana ia belum melakukan kesalahan fatal itu.

Perjalanan menuju sekolah terasa seperti berjalan di atas hamparan memori yang rapuh. Mentari sengaja berjalan pelan, menyeret kakinya di atas trotoar yang sangat ia hafal. Setiap sudut jalan ini adalah luka. Di sana, di depan minimarket itu, dulu Kirana pernah membelikannya cokelat saat ia sedih. Di halte itu, mereka pernah berbagi payung sampai bahu masing-masing basah kuyup.

Jantungnya berpacu liar saat gerbang sekolah mulai terlihat. Ia takut. Bagaimana kalau ini hanya mimpi? Atau lebih buruk, bagaimana kalau ini nyata tapi Kirana tidak ada di sana? Atau bagaimana kalau Kirana ada di sana, tapi dia tetap Kirana yang berusia 17 tahun yang belum mengenal pahitnya dikhianati oleh Mentari?

Mentari berhenti tepat di depan gerbang. Ia mengatur napasnya yang mulai sesak. "Tenang, Mentari. Tenang..."

Lalu, ia melihatnya.

Di antara kerumunan siswa yang berseragam putih abu-abu, ada satu sosok yang seolah memiliki cahayanya sendiri, Jasmine Kirana Prameswari. Dia sedang berdiri di dekat mading, tertawa bersama beberapa teman kelasnya. Rambutnya panjang, hitam legam, dan matanya berbinar binar yang sudah lama hilang dari mata Kirana yang ditemui Mentari di masa depan.

Mentari terpaku. Ia tidak bisa bergerak. Rasa rindu yang menghantam dadanya begitu menyesakkan sampai ia merasa ingin tumbang saat itu juga.

Seolah merasakan ada sepasang mata yang memperhatikannya dengan intens, Kirana menoleh.

Tawa Kirana perlahan memudar saat matanya terkunci pada sosok Mentari yang berdiri kaku di gerbang. Teman-teman di sekitar Kitana terus mengoceh, tapi bagi Kirana, suara-suara itu mendadak menjadi senyap, seperti suara di bawah air.

Kirana merasakan sengatan listrik yang aneh. Ia melihat Mentari gadis yang seharusnya hanya adik kelas yang ia kenal sekilas di tahun ini. Tapi kenapa... kenapa mata Mentari menatapnya seolah ia adalah pusat dari seluruh dunianya? Kenapa mata itu terlihat begitu terluka sekaligus lega?

Kirana melangkah maju, meninggalkan teman-temannya tanpa penjelasan. Setiap langkah yang diambil Kirana membuat jantung Mentari serasa mau copot.

"Mentari?" suara Kirana lembut, namun ada getaran aneh di sana.

Mentari tidak bisa menahan diri lagi. Setetes air mata jatuh begitu saja melewati pipinya. Ia ingin memeluk Kirana, ingin bersujud minta maaf, ingin berteriak kalau ia sangat menyesal atas segala egonya di masa depan.

Tapi ia sadar, di garis waktu ini, mereka belum menjadi apa-apa.

"Kakak..." suara Mentari tercekat.

Kirana mendekat, jarak mereka kini hanya satu meter. Ia bisa melihat dengan jelas mata Mentari yang merah. Kirana merasa ada sesuatu yang ditarik paksa dari dalam ingatannya. Ada rasa sakit yang mendalam di dadanya yang tidak masuk akal untuk seorang gadis 17 tahun yang hidupnya baik-baik saja.

"Kenapa menangis?" tanya Kirana. Tangannya terangkat, ragu-ragu ingin menghapus air mata itu, tapi ia menahannya di udara. "Apa ada yang menyakitimu?"

Mentari menggeleng cepat. Ia memaksakan sebuah senyum yang terlihat sangat pedih. "Tidak. Aku cuma... aku cuma merasa sangat beruntung bisa melihatmu hari ini."

Alis Kirana bertaut. "Kita kan ketemu setiap hari di sekolah, Mentari."

Mentari menunduk, menyembunyikan tangisnya yang makin deras. Tidak, kak. Di duniaku yang sebelumnya, kita tidak bertemu selama dua tahun setelah pengadilan itu, batinnya.

Pelajaran jam pertama adalah siksaan. Mentari tidak bisa fokus pada rumus matematika di papan tulis. Pikirannya terus melayang pada Kirana. Apakah Kirana juga kembali? Ataukah hanya dia sendiri yang membawa beban ingatan ini?

Pas istirahat, ia mencari Kirana ke kelasnya, tapi Kirana tidak ada. Ia mencari ke kantin, nihil.

Langkah kakinya membawa Mentari ke perpustakaan, bagian paling pojok di antara rak buku biologi yang jarang dikunjungi. Di sana, ia menemukan Kirana sedang duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke rak, dengan buku yang terbuka di pangkuannya tapi matanya menatap kosong ke arah jendela.

Mentari mendekat dengan langkah sangat pelan, seolah takut Kirana akan menguap jadi asap kalau ia berisik. "Kak?"

Kirana mendongak. Tidak ada tawa seperti di gerbang tadi. Wajahnya pucat. "Mentari," panggil Kirana lirih. "Tadi pagi... di depan gerbang. Aku merasa seperti sudah lama sekali tidak melihatmu. Seperti... bertahun-tahun."

Mentari duduk di lantai di depan Kirana. Jarak mereka sangat dekat sampai lutut mereka bersentuhan. Mentari memperhatikan jemari tangan Kirana. Di sana, tidak ada cincin pernikahan emas putih yang dulu selalu Kirana pakai.

"Apa kau bermimpi buruk semalam, kak?" pancing Mentari pelan.

Kirana menatap mata Mentari dalam-dalam, mencari sesuatu di sana. "Aku bermimpi kita sedang berada di sebuah ruangan besar yang dingin. Banyak orang berpakaian rapi, dan kita... kita sedang menandatangani sesuatu. Aku menangis, dan kau tidak mau menatap mataku sama sekali. Mimpi itu terasa sangat nyata, Mentari. Sakitnya di sini," Kirana memegang dadanya, "masih terasa sampai sekarang."

Napas Mentari tertahan. Jawabannya sudah jelas.

Kirana juga kembali. Tapi mungkin ingatannya belum pulih seutuhnya, masih berupa kepingan mimpi yang samar.

"Kalau mimpi itu nyata," suara Mentari bergetar, ia memberanikan diri menggenggam tangan Kirana yang dingin. "Apa kau akan membenciku?"

Kirana terdiam. Ia menatap tangannya yang digenggam oleh Mentari. Hangat. Sangat hangat sampai-sampai rasa sakit di dadanya perlahan memudar.

"Aku tidak tahu kenapa," bisik Kirana, "tapi meskipun di mimpi itu kau membuatku menangis, saat aku bangun dan melihatmu tadi pagi... yang kurasakan cuma keinginan untuk tidak melepaskanmu lagi. Aneh, kan? Kita bahkan tidak sedekat itu di sekolah ini."

Mentari tersenyum tipis, air matanya jatuh lagi, tapi kali ini karena rasa syukur. "Tidak aneh, kak. Mungkin itu bukan mimpi. Mungkin itu peringatan. Supaya kita tidak mengulangi hal yang sama."

Mereka duduk diam di pojok perpustakaan yang sepi itu untuk waktu yang lama. Tidak ada buku yang dibaca, tidak ada pelajaran yang dipikirkan. Hanya dua jiwa yang saling mencari pegangan di tengah kebingungan waktu yang berputar balik.


메타데이터
post_id
6d0d1f60ccca
slug
satu-6d0d1f60ccca
url
https://medium.com/@salsabilagiselle/satu-6d0d1f60ccca
canonical_url
https://medium.com/@salsabilagiselle/satu-6d0d1f60ccca
author_url
https://medium.com/@salsabilagiselle
status
ok
fetched_at
2026-06-16 19:09:56