← Back to list

Pengalaman-pengalaman atawa Yang Lewat dan Menetap

Duduk di Waton Diskusi sore itu (15/04/2025) membuat saya terlempar ke masa lampau. Masa yang, saya kira, telah usang dan lapuk dan begitu…

Susastra KMSI · 2026-04-24 06:05 · 2 claps · 3.5 min read
#barwaton #waton #diskusi #watdis #baca
Open on Medium ↗

Pengalaman-pengalaman atawa Yang Lewat dan Menetap

credit: aisha/icong

credit: aisha/icong

Duduk di Waton Diskusi sore itu (15/04/2025) membuat saya terlempar ke masa lampau. Masa yang, saya kira, telah usang dan lapuk dan begitu jauh di belakang. Masa-masa yang hanya berkelebat lewat dan tidak menetap. Masa ketika buku-buku adalah keseriusan yang menghibur ketimbang keseriusan yang membuat berpikir.

Tapi, di sini, dalam kewatonan ini, saya merasa begitu rapuh, pengalaman saya tiba-tiba memiuh. Dan, tahu-tahu, lewat semacam pernyataan yang bertanya: cerita-cerita yang lewat atau menetap, saya merebut (mencoba membawa, lebih tepatnya) masa lalu sebagai yang kini dan kebingungan yang mana yang kini dan yang lalu.

Sore itu kebetulan kering. Tak ada gerimis tipis apalagi gemuruh hujan, sebagaimana biasanya sore-sore belakangan. Kami duduk melingkar, mengotak tepatnya, menyesuaikan salah satu meja yang ada di kanbun (kantin bunda), bagian selatan FBSB. Berusaha adaptif; menyesuaikan ruang dan berkompromi — pada banyak hal, tentu saja.

Sore itu, sebagaimana yang tersepakati dan tertera di judul Waton (Cerita-cerita yang Lewat atau Menetap: Ngobrolin Bacaan-bacaan Populer yang Pernah Mengisi Hari-hari Kita) kami menceritakan pengalaman-pengalaman membaca pop. Dengan asumsi, seperti yang dikatakan pemantik — yang kebetulan saya sendiri — bahwa kebanyakan dari kita mulai membaca fiksi, atau bahkan membaca buku, dari bacaan-bacaan populer yang biasa kita katakan sebagai yang ringan. Sebabnyalah semata akses (juga budaya barangkali), sebagaimana genre tersebut yang menghiasi kebanyakan perpustakaan-perpustakaan sekolah kita, sebagaimana ia dipajang di rak-rak depan dengan label best-seller di toko buku-toko buku kita, sebagaimana itu yang sepertinya laku di masyarakat kita dengan logika kapitalistik membayang-bayangi di belakangnya. Tentu saja, namanya asumsi, ia punya sifat tidak pasti, perkiraan, dan bisa jadi cuma prasangka yang buruk — sebagaimana nanti itu terbukti. Namun, tanpa asumsi, dari manakah kita mesti berangkat buat membuktikan sesuatu? Maka, Waton inilah semacam ruang untuk membuktikan itu. (Dan, bisa jadi, dapat membuktikan banyak hal yang lebih besar pula. Entah hal besar itu apa, kita bisa berasumsi besar juga)

credit: mamay

credit: mamay

Seseorang — mari bersepakat untuk menganonimkan nama-nama di sini untuk menghindari hal-hal tak diinginkan di kemudian hari — bercerita soal pengalamannya membaca novel di suatu platform, wattpad namanya, yang ia sebut sebagai tempat “muntahan” kata-kata. Saya tak tahu apa yang ia maksud atau tendensi apa yang ia tuju dengan menyifatinya demikian, kecuali apa yang ia katakan sebagai punya pola-pola tertentu, dan pengulangan pola cerita-cerita di dalamnya merupakan suatu pengalaman yang memuakkan. Ia kemudian menyebut satu novel terjemahan dari bahasa Jepang: Funiculi Funicula, membeberkan plotnya dan kemudian bilang membacanya sebagai suatu pengalaman yang menyenangkan tanpa perlu melabelinya sebagai yang Populer atau Serius.

Lelaki Harimau, seseorang lain lantas menyebut. Ia bilang kalau itu novel pertama yang ia baca. Selanjutnya, ia menceritakan alasan-alasan mengapa itu bacaan yang baginya menyenangkan dengan tanpa pretensi untuk melabelinya sesuatu — yang sangar, misalkan. Syahdan, ini jadi salah satu bantahan atas asumsi-asumsi yang sudah dikemukakan di muka.

Judul-judul seperti Negeri 5 Menara, Siksa Neraka, Dilan, Dongeng Kucing, 5 Cm, Jobin, Bones and All, Sherlock Holmes: a Study in Scarlet berturut-turut kemudian tersebut. Seperti sebelumnya, begitu pula judul-judul itu kemudian terceritakan. Ada yang berangkat dari bagaimana bertemu judul itu, ada yang memulai dari alasan-alasan memilih judul tersebut, ada yang menceritakan hal-hal menyenangkan ketika membacanya, bahkan ada yang memilih untuk memulai dari mengkritisinya.

Dari judul-judul itu, setidak-tidaknya, tak ada pola yang bisa ditemukan. Maksudnya, tidak ada keseragaman, tak ada judul yang sama, tidak juga dari penulis yang sama — kecuali dua. Sehingga, omong besar seperti pemetaan bacaan, di sini, setidaknya di sini — sekali lagi, belum bisa dibuat, apalagi untuk menjadikannya sebagai suatu bahasan di hari yang akan datang. Dan, mengejutkannya, terlepas dari bayangan nama-nama besar yang biasanya mengitari genre populer, Tere Liye misalnya. Namun, sayangnya, belum bisa melepaskan diri dari “monopoli” pasar perbukuan — coba ketik judul-judul itu di internet dan lihat kebanyakan terbit di mana. (Mari, di sini, kita sama-sama mengumpat kepada kapitalis buku itu)

Duduk di Waton Diskusi sore itu, memaksa saya untuk mengingat-ingat yang terlewat. Yang terlewat, ternyatalah juga sesuatu yang menetap. Sesuatu yang jauh, saya sangka, tetapi ternyata sesuatu yang masih amat gampang teraba. Di kepala saya, tiba-tiba berkelebat judul-judul seperti Hujan, Negeri 5 Menara, Si Anak Pintar, Anak Rantau, Bumi, sambil sekaligus lewat judul-judul semacam Cantik itu Luka, Dongeng Tiga Kayu, Sepotong Senja untuk Pacarku, Dari Hari ke Hari, Aku ini Binatang Jalang.

Saya kira, begini pulalah peristiwa-peristiwa yang dialami manusia. Tak ada yang benar-benar terlewat, sementara mengatakannya sebagai yang seluruhnya menetap juga tidak tepat. Bolak-balik di antara dua kutub, bisa dibilang. Sesuatu yang begitu ambivalen. Suatu kontradiksi yang tak selesai-selesai. Hal-hal yang tidak bisa digamit semena-mena sebagai yang hitam, sementara yang satu sebagai putih.

Lalu, di manakah kita bisa menemukan kisah-kisah pengalaman manusia seperti itu? Jangan tanya saya. Yang jelas, pertanyaan itulah salah satu alasan mengapa Waton Diskusi semacam ini perlu diadakan dan kemudian amat patut dibogem tanda tanya besar.

Ditulis Fathurrohman


메타데이터
post_id
6d2a3d5834d2
slug
pengalaman-pengalaman-atawa-yang-lewat-dan-menetap-6d2a3d5834d2
url
https://medium.com/@kmsisusastra/pengalaman-pengalaman-atawa-yang-lewat-dan-menetap-6d2a3d5834d2
canonical_url
https://medium.com/@kmsisusastra/pengalaman-pengalaman-atawa-yang-lewat-dan-menetap-6d2a3d5834d2
author_url
https://medium.com/@kmsisusastra
status
ok
fetched_at
2026-06-22 19:40:15