← Back to list

Belajar Membenci Diri Sendiri

Dulu saat aku berusia sekitar kelas 1 SD, aku sering main tebak-tebakan sama kakek. Salah satu tebak-tebakan kakek yang menurutku genius…

Achrory23 · 2026-01-21 02:41 · 6 claps · 2.6 min read
#kakek #tebak-tebakan
Open on Medium ↗

Belajar Membenci Diri Sendiri

Photo by Bettina Otott Kovács on Unsplash

Photo by Bettina Otott Kovács on Unsplash

Dulu saat aku berusia sekitar kelas 1 SD, aku sering main tebak-tebakan sama kakek. Salah satu tebak-tebakan kakek yang menurutku genius begini: “Kalau kuda menghadap ke utara, maka ekornya ada di mana?” Tentu aku jawab otomatis, “Ya di Selatan lah…!” Aku ingat, kakek malah terkekeh mendengar jawabanku, “Ha ha hah, nggak, bukan itu jawabannya.” Lehh, kok bisa salah? “Cari lagi deh jawabannya, itu salah. Kalo nyerah siap-siap…ha ha,” kata kakek sambil ketawa melihat raut wajahku yang entahlah terlihat seperti apa waktu itu. Aku masih memaksakan jawaban yang tadi, “Apanya yang salah!? Kalo kuda hadap ke utara, kan pastilah ekornya ada di selatan.” Dan kakek semakin keras tertawa, menertawakan kebodohanku. Aku akhirnya menyerah dan siap menerima konsekuensi digelitik, demi menantang jawaban yang kakek anggap benar. Awas saja kalau tak masuk akal. “Jawabannya… ada di atas pantatnya. Ha ha ha…” Tawa kakek pecah. Tawa kemenangan. Sementara aku? Bengong. Jawaban itu tak bisa dibantah. Dan justru karenanya, kemenangan kakek solid. Kakek menanyakan ekor kuda ada di mana, bukan menghadap ke mana. Aku kalah telak, that’s fine. Aku yang awalnya ingin protes, siap pasang taring logika, akhirnya malah ikut ketawa.

Kejadian itu sudah lama terlupakan. Karena hal-hal kecil lain yang menyusul, dan hal-hal besar yang juga menghadang. Seiring usiaku bertambah, pantat kuda dan ekornya benar-benar menghilang dari folder ‘penting’ dalam pikiranku.

Namun sekarang, saat kupikir lagi, tebak-tebakan kakek ternyata tak pernah benar-benar selesai. Hanya bentuk, format, dan objeknya yang berubah. Levelnya pun makin meningkat. Jawaban-jawabanku kini disertai argumen lengkap dengan dalil, plus dibalut kepercayaan diri super tinggi. Versi dewasanya dari “selatan” kini berubah wujud: definisi, kutipan, teori, ayat, statistik, dan kadang sedikit pamer otak. Aku menjawab cepat, rapi, meyakinkan. Terlihat matang. Terlihat well-read. Terlihat… hebat.

Namun titiknya selalu sama: hanya aku yang merasa seperti itu, hanya pikiranku yang menganggap jawabanku cukup mantap. Faktanya malah lebih cocok jadi bahan tertawaan — meski mereka tidak tertawa. Itu yang kupikir misalnya pada suatu momen aku menjelaskan teori bla-bla… ketika momen itu berakhir, aku akan memutar ulang penjelasan itu di tengah kesendirian. Aku akan menelanjangi lagi statemenku, mengulik-uliknya dari sisi lain. Dan saat itu, banyak sekali sesuatu yang kuucapkan adalah konyol.

Aku mulai menyadari bahwa musuh terbesarku bukan lagi kakek yang hobi berkelakar, melainkan diriku sendiri yang hobi menghakimi. Di sinilah proses “belajar membenci diri sendiri” itu dimulai. Bukan benci dalam arti ingin menyakiti fisik, tapi sebuah kebencian intelektual terhadap kepalsuan yang sering kupakai. Aku mulai muak dengan “pintar”, karena biasanya, ternyata itu hanya sedang menunjuk ke arah “selatan” dengan kata-kata yang lebih berat. Aku menemukan fakta: Ekor kuda itu masih ada di atas pantatnya tanpa harus menafikan ia menghadap selatan. Dengan kata lain, “Kebenaran tidak satu sisi,” namun aku sibuk membangun kompas, peta, dan navigasi satelit hanya untuk menjelaskan arah ekor kuda yang sedang diam.

Dulu, kakek yang menertawakanku. Sekarang, aku mengambil alih peran itu. Aku harus belajar untuk menertawakan betapa sok tahunya aku. Ada semacam kelegaan yang aneh ketika kita mengakui bahwa “Ya, tadi itu aku sangat memalukan.” Kebencian terhadap ego yang berlebihan ini justru menjadi gerbang menuju kejujuran. Aku mulai belajar bahwa:

  1. Kepintaran seringkali hanyalah topeng dari ketakutan. Takut dianggap bodoh, takut tidak dianggap ada.
  2. Argumen yang kokoh seringkali adalah penjara. Kita terlalu sibuk mempertahankan posisi sampai lupa melihat bahwa kuda yang kita bicarakan sudah lari entah ke mana.
  3. Kesederhanaan adalah kemewahan tertinggi. Mengatakan “Aku tidak tahu” atau memberikan jawaban sependek “di atas pantatnya” jauh lebih sulit daripada mengutip teori sosiologi yang rumit.

Lalu mari pulang ke tebak-tebakan kakek. Membenci diri sendiri dalam konteks ini adalah cara untuk jangan mendewakan diri. Beri ruang ‘jawaban orang lain’ untuk masuk, yang sejak dulu aku tidak menyukai cara ini. Tapi hanya itu yang bisa membuat dewa jadi lelucon, kini aku menyukainya.


메타데이터
post_id
6d8005ff53fd
slug
belajar-membenci-diri-sendiri-6d8005ff53fd
url
https://medium.com/@achrory23/belajar-membenci-diri-sendiri-6d8005ff53fd
canonical_url
https://medium.com/@achrory23/belajar-membenci-diri-sendiri-6d8005ff53fd
author_url
https://medium.com/@achrory23
status
ok
fetched_at
2026-06-26 03:39:16