Merah Bukan Sekadar Merah
#1270: Lampu Lalu Lintas, Emoji, dan Bahasa
Bahasa
Merah Bukan Sekadar Merah
#1270: Lampu Lalu Lintas, Emoji, dan Bahasa
Di jalan raya, kita tidak hanya melihat benda, tetapi juga membaca tanda. (Foto: Adismara Putri Pradiri/Unsplash)
Kita mungkin pernah berhenti di sebuah persimpangan ketika jalan masih lengang. Tidak ada polisi, tidak ada kendaraan dari arah lain, tidak ada orang yang mengawasi. Namun, begitu lampu menyala merah, kaki tetap menekan rem. Anehnya, kita tidak merasa sedang mematuhi lampu. Kita sedang mematuhi sesuatu yang lebih besar, yaitu kesepakatan diam-diam yang kita warisi bersama.
🔑 **Klik tautan ini untuk melanjutkan membaca. 🔑**
Merah berarti berhenti. Kuning berarti hati-hati. Hijau berarti jalan. Hampir semua orang memahami urutan itu tanpa perlu membaca papan penjelasan. Anak kecil pun mempelajarinya dengan cepat. Sopir di kota asing juga segera menyesuaikan diri. Lampu lalu lintas tampak seperti bahasa dunia. Padahal, warna-warna itu tidak membawa makna sejak lahir. Merah tidak secara alamiah menyuruh kendaraan berhenti.
Tanda bekerja dengan cara seperti itu. Ia mengantar kita dari sesuatu yang tampak menuju sesuatu yang dipahami. Kita melihat warna merah, lalu memahami perintah berhenti. Kita mendengar bunyi klakson, lalu menoleh. Kita melihat asap, lalu membayangkan api. Dunia sehari-hari dipenuhi oleh tanda. Sebagian kita pelajari di sekolah, sebagian lain meresap begitu saja karena kita hidup bersama orang lain. Kata “terserah” dari pasangan pun kadang merupakan tanda.
[embed]Memahami Makna Kata “Terserah” #805: Ulasan buku Pragmatik (Putradi dan Supriyana, 2024)medium.com
Mengapa merah berarti berhenti dan bukan hijau? Tidak ada alasan alamiah. Pilihan itu bisa saja terbalik dan sistem tetap akan bekerja selama semua orang sepakat.
Inilah yang membuat Ferdinand de Saussure, salah satu tokoh perintis semiotika, menyebut hubungan antara tanda dan maknanya bersifat arbitrer. Tidak ada hubungan yang alamiah, semua berdasarkan kesepakatan. Charles Sanders Peirce, tokoh lain yang membentuk bidang ini, mengusulkan pembedaan yang lebih terperinci. Menurutnya, ikon bekerja karena mirip acuannya, indeks bekerja karena ada hubungan langsung, sedangkan simbol bekerja karena kesepakatan.
Gambar pohon mirip pohon, maka ia disebut ikon. Asap menunjuk api karena keduanya terhubung secara fisik, maka ia disebut indeks. Kata “pohon” tidak mirip dan tidak terhubung dengan pohon, tetapi kita sepakat bahwa bunyi dan tulisan itu menunjuk ke sana, maka ia disebut simbol.
Lampu lalu lintas bekerja dengan logika yang sama. Kita berhenti bukan karena merah punya kekuatan menghentikan, melainkan karena kita telah lama hidup di dalam sistem yang membuat merah berarti berhenti.
Beberapa waktu lalu, ada kehebohan kecil ketika Presiden Prabowo keliru menghitung dalam pidato. Beliau menyebut 10 + 6 = 17. Publik segera ramai karena, dalam matematika, tanda tidak memberi banyak tempat untuk bernegosiasi. Penjumlahan 10 dan 6 hanya menghasilkan 16. Jika hasilnya menjadi 17, sistemnya langsung terasa patah.
Dalam bahasa, orang masih bisa bertanya lagi. Apakah itu salah ucap, kelakar, cocoklogi, atau bagian dari gaya berpidato? Matematika mengejar ketegasan agar tafsir tidak liar. Bahasa bergerak lebih lentur. Satu kalimat bisa dipahami dari nada, niat, hubungan, suasana, bahkan siapa yang mengucapkannya. Bahasa tidak hanya menghitung makna. Bahasa menampung pengalaman.
Di antara ketegasan matematika dan kelenturan bahasa, ada banyak tanda lain yang bergerak bolak-balik. Lampu lalu lintas dibuat setegas mungkin agar orang tidak salah tafsir. Emoji dirancang seolah-olah mudah dibaca karena berupa gambar wajah. Namun, begitu masuk ke percakapan manusia, emoji ikut membawa riwayat, kebiasaan, selera, usia, kelompok, dan suasana hati pemakainya.
Emoji memperlihatkan kelenturan itu dengan cara yang lucu sekaligus membingungkan. Wajah 😭 tampak seperti orang menangis tersedu-sedu. Secara gambar, ia seharusnya dekat dengan sedih, kecewa, atau frustrasi. Namun, dalam percakapan tertentu, emoji itu justru berarti tawa yang sudah jebol. Yang tampak sebagai air mata duka berubah menjadi air mata geli karena dipakai oleh komunitas tertentu.
Emoji ini seharusnya ikon, tetapi sudah bergeser menjadi simbol. Maknanya kini bergantung pada kesepakatan kelompok, bukan pada gambarnya.
Di sini, tanda tidak cukup dibaca dari bentuknya saja. Kita perlu tahu siapa yang memakai, kepada siapa dikirimkan, dalam suasana apa, dan dalam kelompok sosial mana tanda itu beredar. Emoji yang sama bisa membuat satu orang tertawa, sementara orang lain bertanya dengan cemas, “Kamu kenapa?”
[embed]Ketika 😭 Berarti 😂 #1235: Emoji, Ironi, dan Makna yang Lepas dari Gambarmedium.com
Makna ternyata tidak tinggal diam di dalam tanda. Ia bergerak bersama pemakainya.
Saya makin merasa bahwa manusia hidup bukan hanya di antara benda, melainkan juga di antara tanda. Kita berhenti karena lampu merah, menghitung dengan angka, berdebat dengan kata, dan tertawa dengan wajah menangis. Dunia menjadi terbaca karena tanda, tetapi tidak pernah sepenuhnya selesai. Di persimpangan berikutnya, kaki kita mungkin tetap menekan rem, sambil bertanya apakah yang kita patuhi itu warna atau makna.
Jurnal dan Kenangan
Selasa kemarin, libur di tengah pekan kerja menghadirkan kesegaran. Saya menghabiskan novel Pukul Setengah Lima karya Rintik Sedu diselingi membaca tulisan-tulisan di Medium. Belakangan tampaknya jumlah tulisan di tab “Following” saya makin banyak. Sorenya, saya makan bersama teman-teman lama. Kami datang sendiri-sendiri dan bertemu di lokasi. Saya merasa seperti melihat adegan makan bersama keluarga besar mafia Italia di film The Godfather.
Tahun lalu, saya merenungkan sulitnya saling mengingatkan, baik di rumah maupun di tempat kerja. Teguran kecil tentang kaus kaki anak membuka kesadaran bahwa mengingatkan orang lain sering terasa serbasalah karena perlu menjaga komitmen sekaligus kenyamanan. Peran itu ternyata bergantian. Kita kadang memberi pengingat, kadang menerimanya. Seni mengingatkan bukan hanya soal benar dan salah, melainkan juga cara menjaga hubungan tetap sehat di tengah kewajiban yang tak selalu nyaman.
[embed]Saling Mengingatkan #905: Seni yang Tak Pernah Mudahmedium.com
Dua tahun lalu, saya mengikuti kelas “Storytelling: Seni Menceritakan Kisah Nyata” dari A.S. Laksana karena merasa perlu belajar memberi emosi pada tulisan. Kelas yang semula dijadwalkan empat pekan ternyata berlangsung hingga 15 pekan, tetapi materinya tetap layak ditunggu. Dalam perjalanan mengikuti kelas, muncul kesadaran bahwa kisah nyata tidak cukup hanya disusun rapi. Cerita perlu tokoh, adegan, pertaruhan, detail, dan terutama keberanian untuk terasa rentan.
[embed]Seni Menceritakan Kisah Nyata #540: Kuncinya adalah memberikan emosi pada ceritaivanlanin.medium.com
Ingin lebih terampil berbahasa? Kunjungi toko 🏪, ikuti kelas 👨🏫, atau hubungi 📞 Narabahasa.
메타데이터
- post_id
- 6dbac06301c8
- slug
- merah-bukan-sekadar-merah-6dbac06301c8
- url
- https://medium.com/bahas-bahasa/merah-bukan-sekadar-merah-6dbac06301c8
- canonical_url
- https://medium.com/bahas-bahasa/merah-bukan-sekadar-merah-6dbac06301c8
- author_url
- https://medium.com/@ivanlanin
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-19 23:33:23