Gembala-Domba
Relasi eksistensial yang saling meng-”ada”-kan
Gembala-Domba
Relasi eksistensial yang saling meng-”ada”-kan
Photo by Gabriela Tamara Cycman on Unsplash
Sejak hari Minggu hingga hari Selasa pada Pekan Paskh IV ini, bacaan Injil bicara soal gembala dan domba. Dalam Injil hari Minggu, Yesus bicara tentang gembala yang baik. Perumpamaan tentang gembala yang baik ini Ia pakai untuk menjelaskan siapa diri-Nya. Dalam Yohanes 10: 11–18, Yesus sendiri berkata: “Akulah gembala yang baik.” Bagi Yesus, seorang gembala yang baik adalah dia yang memberikan nyawa bagi domba-dombanya.
Relasi Eksistensial
Karakter paling utama dari seorang gembala adalah “merawat dan memelihara” domba-dombanya, bahkan lebih dari itu, siap mati demi domba-dombanya ketika bahaya datang. Tentu relasi semacam ini bukanlah relasi “subjek-objek”, seolah domba hanyalah “piaraan” belaka sebagaimana “orang upahan” melihat kawanan gembala. Sebaliknya, relasinya gembala dengan dombanya adalah relasi “subjek-subjek” bahkan ada relasi eksistensial, yang saling menentukan. Domba tanpa gembala tak ada artinya, begitu pula gembala tanpa domba bukanlah siapa-siapa.
Photo by Catherine A G M on Unsplash
Relasi gembala dan domba ini terwujud dalam relasi “saling mengenal”, sang gembala mengenal domba-dombanya, begitu pula kawanan domba mengenal “suara” sang gembala. Yesus berkata, bahkan seorang gembala yang baik akan “memanggil domba-dombanya, masing-masing menurut namanya”. Kawanan domba akan mengikuti suara sang gembala, sedangkan mereka tidak akan mengikuti suara orang asing, bahkan akan lari darinya.
Orang asing itu bagaikan seorang pencuri, yang tidak membawa kawanan domba pada “kehidupan”. Tentu saja insensi setiap pencuri dilandaskan relasi “subjek-objek” yang ingin “memanfaatkan” kawanan domba untuk dijual atau dibunuh. Berbeda dengan gembala yang baik yang datang untuk membawa “kehidupan” bagi kawanan domba, bahkan kalaupun harus mengorbankan hidupnya sendiri.
Sikap Percaya
Ikatan yang intim antara gembala dan domba ini tidak membuat menjadi eksklusif. Yesus melanjutkan:
“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kuntuntun juga; mereka akan mendengarkan suara-Ku, dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala!”
Seorang gembala yang baik punya panggilan yang lebih jauh, melampaui batas-batas “kandang”. Siapapun yang membutuhkan “hidup” akan diberikan oleh sang gembala. Namun, syaratnya jelas bahwa kawanan domba itu haruslah mau “mendengarkan” yang artinya siap untuk dipimpin langkahnya. Hal ini butuh sikap “percaya” penuh pada sang gembala.
Sikap percaya atau beriman menjadi penting di sini. Dalam relasi apapun, sikap saling percaya adalah dasar dan kuncinya. Begitu pula relasi antara gembala dan domba. Kawanan domba haruslah percaya bahwa sang gembala adalah gembala bukan pencuri atau orang upahan, yang akan memberikannya “kehidupan”. Begitu pula, sang gembala haruslah percaya bahwa kawanannya akan mengikuti suaranya.
Kawanan domba yang belum percaya tentu akan mengahadapi kesulitan sendiri. Kawanan domba yang demikian digambarkan Yesus seperti orang-orang Yahudi yang pada kesempatan itu berkata pada-Nya: “Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.”
Photo by Alessandro Bellone on Unsplash
Mesias digambarkan sebagai seorang gembala yang dijanjikan Allah untuk memimpin bangsa Israel, yang membebaskan dan membawa mereka pada kehidupan sejati. Yesus adalah Mesias, tapi orang-orang Yahudi tidak percaya. Di sini menjadi sulit. Baik bagi Yesus maupun bagi mereka sendiri. Hal ini diungkapkan Yesus:
“Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya.”
Yesus dalam kata dan tindakan-Nya telah menunjukkan jati dirinya sebagai “gembala yang baik”. Ia mengenal kita satu per satu, Ia mencintai kita semua kawanan domba-Nya. Bahkan Ia rela mati agar kita dapat hidup. Sebelum kita percaya bahwa Ia adalah “gembala”, Ia sudah terlebih dahulu percaya pada kita bahwa kita kawanan gembalanya, yang layak dicintai. Apakah kita sudah menjadi domba yang baik? Domba yang mendengarkan suara gembala-Nya, yang menuntun ke “kehidupan” sejati?
메타데이터
- post_id
- 6df6816fd41d
- slug
- gembala-domba-6df6816fd41d
- url
- https://medium.com/@re-write/gembala-domba-6df6816fd41d
- canonical_url
- https://medium.com/@re-write/gembala-domba-6df6816fd41d
- author_url
- https://medium.com/@re-write
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-24 00:18:42