Bunga yang tak pernah layu di Lanskap Visual Pekanbaru
Oleh : Datuk Seri Visual
Bunga yang tak pernah layu di Lanskap Visual Pekanbaru
Oleh : Datuk Seri Visual

Graffiti dan Baliho di salah satu area Kota Pekanbaru. Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
LIDAH KOTA. Pekanbaru berbenah, Baliho di sepanjang Jalan Jend. Sudirman yang “merusak pemandangan” ditertibkan, berganti dengan pot bunga warna biru-silver menghiasi sepanjang Jalan, tulisan ikon kota “Pekanbaru Kota Bertuah” dari Bandara menuju Kota sangatlah menyilaukan mata ketika malam hari dikarenakan penerangan yang tidak maksimal menjadi teror visual bagi yang datang pertama kali di kota ini melalui udara, fasum halte kota yang baru saja di percantik “dirusak” menggunakan cat semprot bergambar bunga. No Viral, No Justice! Tangkap pelaku perusakan fasilitas publik di pekanbaru! Kalimat tersebut bertebaran di kanal media sosial beberapa hari belakangan ini menarik untuk dibahas bagaimana masyarakat menanggapi mural, grafiti dan budaya visual di kotanya sendiri.
Dinding sebagai Arsip Sosial
Dalam kajian budaya visual kontemporer, dinding kota bukanlah pembatas fisik atau struktur arsitektural yang statis. Dinding telah bertransformasi menjadi “kulit” kota yang hidup, sebuah permukaan dinamis tempat berbagai narasi sosial, politik, dan budaya dipertukarkan, ditumpuk, dan dihapus. Di Indonesia, fenomena ini mewujud dalam praktik street art (seni jalanan) yang mencakup grafiti, mural, stensil, hingga tempelan kertas (wheatpaste). Praktik ini bukan sekadar vandalisme atau dekorasi, melainkan sebuah bentuk komunikasi massa yang beroperasi di luar kanal-kanal media arus utama.
Pekanbaru, dengan visi “Kota Bertuah” Terwujudnya Kota Pekanbaru Sebagai Pusat Perdagangan Dan Jasa, Pendidikan Serta Pusat Kebudayaan Melayu, Menuju Masyarakat Sejahtera Berlandaskan Iman Dan Taqwa” dan regulasi ketat mengenai identitas arsitektur Melayu, menghadirkan arena pertarungan simbolik yang distingtif antara hegemoni negara yang ingin menertibkan visual kota dan subkultur anak muda yang ingin mengklaim hak atas ruang kota.
Untuk membedah kompleksitas ini, saya menggunakan tiga pisau analisis utama:
- Produksi Ruang (Henri Lefebvre): Memahami kota bukan sebagai wadah kosong, melainkan produk sosial. Terdapat ketegangan dialektis antara “Representasi Ruang” (Representations of Space) yang dirancang oleh perencana kota (pemerintah Pekanbaru dengan aturan arsitektur Melayu) dan “Ruang Representasional” (Representational Space) yang dihidupi dan dimaknai oleh warga, termasuk para seniman jalanan yang memodifikasi dinding kota.
- Habitus dan Medan Produksi Budaya (Pierre Bourdieu): Menganalisis street art bukan hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai praktik sosial yang melibatkan pertukaran modal simbolik dan ekonomi. Di Pekanbaru, seniman harus menavigasi “medan” (field) yang terjepit antara idealisme kritik sosial, kriminalisasi vandalisme, dan godaan komodifikasi industri kafe yang sedang menjamur.
- Media Ekologi (Marshall McLuhan & Neil Postman): Melihat dinding kota sebagai “medium” yang memiliki bias dan logika tersendiri. Dalam era digital, dinding fisik ini mengalami konvergensi dengan media sosial (Instagram/TikTok), mengubah cara karya diproduksi dan dikonsumsi. Dinding tidak lagi hanya dilihat oleh pejalan kaki yang melintas, tetapi oleh audiens global melalui layar gawai, menciptakan apa yang disebut sebagai “hiper-realitas” visual.

Graffiti di salah satu tembok Kota Pekanbaru Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Genealogi dan Semiotika Street Art di Indonesia
Sebelum masuk ke spesifikasi Pekanbaru, sangat krusial untuk memetakan DNA historis dan semiotik dari street art di Indonesia. Berbeda dengan trajektori Barat yang sering kali bermula dari subkultur tagging di kereta bawah tanah New York pada tahun 1970-an, akar street art Indonesia tertanam dalam perjuangan kemerdekaan.
Sejarah mencatat bahwa fenomena coretan dinding di Indonesia telah muncul secara signifikan pada era perjuangan kemerdekaan (1945–1949). Pada masa ini, dinding kota, gerbong kereta api, dan trem menjadi “media komunikasi politik” utama bagi kaum republiken. Slogan-slogan seperti “Merdeka atau Mati” atau “Boeng, Ajo Boeng” bukan sekadar ekspresi artistik, melainkan alat propaganda taktis dalam kondisi keterbatasan akses terhadap radio dan surat kabar. Fase ini menanamkan “memori genetik” pada street art Indonesia: bahwa aktivitas mencoret dinding adalah tindakan patriotik dan komunal, bukan sekadar vandalisme individualistik. Dinding berfungsi sebagai “alarm peringatan” bagi penguasa dan penyemangat bagi rakyat. Fungsi ini, meskipun mengalami pasang surut, tetap menjadi arus bawah yang kuat dalam psikogeografi perkotaan di Indonesia.
Selama masa Orde Baru (1966–1998), ruang publik berada di bawah kontrol ketat negara. Ekspresi visual yang tidak sesuai dengan narasi pembangunan dan stabilitas nasional diredam. Street art masuk ke masa inkubasi, sering kali dianggap sebagai gangguan ketertiban. Namun, menjelang jatuhnya Soeharto pada tahun 1998, dinding-dinding kota kembali meledak dengan kritik sosial. Mural dan grafiti menjadi “seni pembebasan” (liberation art) di mana seniman dan masyarakat awam merebut kembali ruang publik untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kondisi sosial-politik.

Arsip foto subkultur Street Art di Indonesia pada tahun 1947–1949. Foto: Charles Breijer / NFA, coll. Nederlands Fotomuseum (repro)
Pasca-Reformasi, terjadi diversifikasi gaya. Masuknya pengaruh budaya hip-hop global memperkenalkan estetika “Wildstyle” dan “Bombing” — bentuk grafiti yang berfokus pada huruf (lettering) yang rumit, tag (tanda tangan), dan throw-up (gambar cepat dua warna). Di sinilah terjadi percabangan dalam terminologi lokal:
- Bomber/Writer: Berfokus pada grafiti berbasis teks, wildstyle, dan penguasaan teritorial melalui repetisi tanda tangan. Bagi mereka, dinding adalah arena untuk mendapatkan “fame” di kalangan sesama writer.
- Street Artist/Muralis: Berfokus pada gambar figuratif, karakter, dan pesan yang lebih mudah dibaca oleh publik umum. Kelompok ini sering kali lebih diterima oleh masyarakat karena dianggap “mempercantik” kota.

Grafitti dibawah jembatan Siak IV. Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Semiotika Jalanan: Membaca yang Tak Terbaca
Grafiti sering kali tampak sebagai coretan tanpa makna bagi mata awam. Namun, riset menunjukkan bahwa grafiti memiliki struktur bahasa visual yang kompleks. Penggunaan tag sebagai simbol piktografis adalah cara berkomunikasi secara visual dengan audiens spesifik (subkultur). Grafiti yang tampak “kacau” sebenarnya menyimpan makna yang sarat pesan sosial jika dibaca melalui proses pembacaan yang teliti.
Penggunaan warna juga menjadi penanda penting. Warna-warna cerah dan kontras sering dipakai untuk melawan “kebisuan” beton kota yang abu-abu. Dalam konteks Makassar, misalnya, penelitian menunjukkan bahwa eksistensi seni grafiti berkaitan erat dengan barometer perkembangan seni rupa kota tersebut, di mana masyarakat mulai bergeser posisi dari pengamat pasif menjadi penikmat aktif. Dinamika serupa, dengan nuansa berbeda, terjadi di Pekanbaru.
Lanskap Visual Pekanbaru: Hegemoni Identitas “Melayu” dan Konsep Kota Bertuah
Memahami street art di Pekanbaru harus dimulai dengan memahami kanvas tempat seni itu berada. Pekanbaru bukanlah kanvas putih netral, ia adalah ruang yang telah “ditulisi” secara agresif oleh narasi negara melalui kebijakan tata kota dan arsitektur.

Pemandangan Jembatan Siak IV dari jalan Setia Budi. Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
“Kota Bertuah” sebagai Rezim Visual
Pemerintah Kota Pekanbaru, di bawah kepemimpinan Walikota Agung Nugroho, gencar mempromosikan visi “Terwujudnya Kota Pekanbaru Sebagai Pusat Perdagangan Dan Jasa, Pendidikan Serta Pusat Kebudayaan Melayu, Menuju Masyarakat Sejahtera Berlandaskan Iman Dan Taqwa.” Implikasi visual dari visi ini sangat mendalam: kota harus terlihat tertib, bersih, religius, dan berkarakter Melayu.
Dalam kerangka ini, ruang publik diatur sedemikian rupa untuk memancarkan “Pulse” atau daya tarik khas kota yang kental dengan budaya Melayu. Tujuannya adalah City Branding: menciptakan narasi urban (urban narratives) yang dapat dijual kepada investor dan wisatawan.
Kediktatoran Atap: Selembayung dan Ornamen Wajib
Salah satu manifestasi paling nyata dari politik identitas ini adalah regulasi arsitektur. Peraturan Daerah (Perda) mewajibkan penggunaan ornamen Melayu, khususnya “Selembayung” (hiasan atap bersilang yang mencuat ke atas), pada bangunan-bangunan perkantoran, fasilitas publik, hingga pusat perbelanjaan.
Implementasi arsitektur Melayu ini telah membawa konsekuensi serius pada “wajah” kota. Kantor Walikota Pekanbaru, misalnya, dirancang sebagai model arsitektur Melayu kontemporer. Bagi street artist, ini berarti ruang publik di Pekanbaru sangat “terkodifikasi”. Dinding-dinding kota tidak pernah benar-benar “kosong”; ia sarat dengan simbol-simbol resmi.
Negosiasi Sosial dalam Kota Multietnis
Meskipun visualitas Melayu sangat dominan, Pekanbaru secara demografis adalah kota multietnis (Minangkabau, Batak, Jawa, Tionghoa, dll.). Riset menunjukkan bahwa meskipun penerapan nilai budaya Melayu dilakukan secara legal formal melalui Perda, terjadi proses “negosiasi sosial” di tingkat akar rumput. Masyarakat menerima budaya Melayu sebagai referensi utama (“payung”), namun pemerintah tetap memberikan ruang bagi ekspresi budaya lain. Namun, dalam konteks street art, “ruang gerak” ini menjadi problematis. Grafiti ala Barat atau mural yang terlalu kritis sering dianggap tidak sesuai dengan norma “Bertuah” yang santun dan religius. Akibatnya, terjadi benturan antara estetika jalanan yang liar (wild) dengan estetika negara yang tertib (ordered).

Kegiatan Street Art di Pekanbaru, dipertunjukkan melalui event terbuka dan ada yang explicit. Foto : Pekanbaru Kolektif Crew & Mention Artist
Ekosistem Street Art Pekanbaru: Aktor, Ruang, dan Karya
Di balik fasad gedung-gedung beratap Selembayung, terdapat denyut nadi kehidupan seni visual independen yang terus berdegup. Bagian ini memetakan ekosistem street art di Pekanbaru, mengidentifikasi siapa pelakunya, di mana mereka beroperasi, dan apa yang mereka suarakan. Berbeda dengan ekosistem seni rupa mapan yang berpusat pada galeri komersial, ekosistem seni di Pekanbaru (termasuk street art) sangat bergantung pada inisiatif kolektif dan komunitas.

Kegiatan Street Art di Riau Fest 2019 dalam merivitalisasi kawasan kota tua Pekanbaru yang ditaja oleh PKU Heritage Walk. Foto 1 : Jajan.nae Blog. Foto 2 : ANTARA FOTO/FB Anggoro/pras.
Ruang bagi street art di Pekanbaru terbelah menjadi dua kategori utama: ruang yang disanksi (diizinkan/difasilitasi) dan ruang liar. Salah satunya adalah Kampung Bandar, sebuah kawasan bersejarah di tepi Sungai Siak, menjadi contoh menarik bagaimana street art digunakan sebagai alat revitalisasi kota (placemaking). Melalui inisiatif seperti Pekanbaru Heritage Walk dan Riau Festival, area reruntuhan bekas kebakaran diubah menjadi “Bandar Mural”. Puing-puing rumah tua yang tadinya merupakan simbol trauma bencana diubah menjadi objek wisata visual. Mural-mural di sini cenderung naratif dan dekoratif, menggambarkan sejarah Kampung Bandar atau kehidupan Melayu masa lalu. Ini adalah bentuk “domestikasi” street art. Energi liar dari jalanan dijinakkan untuk melayani tujuan tertentu seperti pariwisata. Seniman yang terlibat sering kali harus menyesuaikan estetika mereka agar “ramah turis” dan “Instagrammable”.
Sebaliknya, street art yang lebih murni dan kritis menempati ruang-ruang sisa, tiang-tiang jembatan layang (flyover) sebelum dicat ulang oleh pemerintah, tembok-tembok bangunan kosong, dan gardu listrik menjadi kanvas bagi kritik sosial dan ekspresi ego. Di “ruang sisa” inilah sering terjadi permainan “kucing-kucingan” dengan aparat Satpol PP.

Graffiti yang menggabungkan unsur street, pop dan budaya yang berada dibawah Jembatan Siak IV. Foto : Pekanbaru Kolektif Crew
Hibriditas Estetika: Melayu-fikasi Mural
Temuan menarik dari analisis visual di Pekanbaru adalah adanya “hibriditas estetika”. Untuk bertahan hidup dan diterima di ruang publik Pekanbaru yang sangat diatur, street art sering kali mengadopsi elemen-elemen visual Melayu. Motif Batik Riau kerap dimasukkan oleh seniman street art seperti ornamen Pucuk Rebung atau Kuntum bunga ke dalam komposisi mural modern mereka. Penggambaran flora dan fauna lokal (seperti Burung Enggang/Rangkong) bunga atau figur berbaju kurung menjadi strategi untuk memberikan “paspor budaya” pada karya tersebut agar tidak dianggap asing atau “Barat”. Strategi ini memungkinkan karya tersebut bertahan lebih lama dari penghapusan (buffing) oleh aparat.

Foto : Tangkapan layar dari berbagai macam portal media di Riau baru — baru ini dalam menaikkan pemberitaan aktivitas vandalisme di Kota Pekanbaru, diakses pada 23/01/2026.
Konflik, Hukum, dan Politik: Kriminalisasi vs Advokasi
Hubungan antara street art dan negara di Pekanbaru ditandai oleh ambifikuitas: di satu sisi didukung sebagai “Ekonomi Kreatif”, di sisi lain dikriminalisasi sebagai “Vandalisme”. Dasar hukum utama yang digunakan untuk merepresi street art liar adalah Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 5 Tahun 2002 tentang Ketertiban Umum.
- Definisi Pelanggaran: Perda ini secara luas melarang tindakan mencoret, menulis, melukis, atau menempel di dinding bangunan, tembok, jembatan, dan fasilitas umum lainnya tanpa izin.
- Perspektif Aparat: Kepala Satpol PP dan pejabat kota sering melabeli vandalisme sebagai tindakan yang “merusak keindahan” dan “kriminal”. Logika yang dipakai adalah Broken Windows Theory: satu coretan dibiarkan akan mengundang kerusakan lebih lanjut.
- Tindakan Represif: Pemerintah Kota Pekanbaru secara rutin melakukan pembersihan (buffing) dan mengancam tindakan tegas bagi pelaku perusakan fasilitas publik, seperti kasus perusakan halte bus Trans Metro Pekanbaru. Halte bus menjadi situs konflik yang panas karena merupakan simbol infrastruktur modern “Smart City” yang sering menjadi sasaran vandalisme.

Kampanye Pilkada “Jujur dan Damai” yang melibatkan Komunitas Street Art di Pekanbaru. Foto: Andri.spokpict / Komunitas Potret Street Pekanbaru
Komodifikasi dan Mediatisasi: Dinding di Era Digital
Di luar dinamika politik dan identitas, kekuatan pasar memainkan peran besar dalam membentuk wajah street art Pekanbaru hari ini. Pertumbuhan pesat budaya kedai kopi (coffee shop) di Pekanbaru telah menciptakan pasar baru bagi seniman visual. Mural tidak lagi hanya menjadi alat kritik, tetapi menjadi elemen desain interior yang esensial untuk menarik pelanggan. Riset menunjukkan pergeseran dari karya monumental/ekspresif menjadi karya terkomodifikasi dan kontemporer. Seniman mural di Pekanbaru kini banyak yang berprofesi sebagai penyedia “Jasa Mural”, mengerjakan proyek komersial dengan tema-tema yang ditentukan klien (misalnya tema tropis, industrial, atau vintage). street art kehilangan daya subversifnya. Gambar Che Guevara atau slogan pemberontakan di dinding kafe hanyalah simulacra; tanda tanpa referensi nyata pada revolusi, melainkan penanda gaya hidup “hip”. Media sosial mengubah ontologi dinding. Sebuah mural di gang sempit Pekanbaru bisa menjadi viral jika Instagrammable. Hal ini mempengaruhi estetika karya:
Komposisi Interaktif: Mural sengaja dibuat dengan ruang kosong di tengah atau sayap di samping agar orang bisa berfoto di sana.
Warna Pop: Penggunaan warna-warna cerah dan desain vektor yang bersih lebih disukai karena terlihat bagus di layar ponsel.
Hiper-realitas: Bagi banyak seniman muda, “dinding” sesungguhnya adalah feed Instagram mereka. Dinding fisik hanyalah perancah sementara untuk memproduksi konten digital. Fenomena ini membuat street art Pekanbaru menjadi sangat sadar kamera (camera-conscious), terkadang mengorbankan detail tekstural demi dampak visual instan.

Ekspresi subkultur Street Art dalam mengkritik Kota sendiri (Baca : Lidah Kota — Luck: Kota butuh sentuhan nakal agar senantiasa sadar!). Foto : Istimewa
Visi “Kota Bertuah” pada akhirnya menghadapi tantangan dari visualitas jalanan. Keinginan pemerintah untuk menciptakan kota yang tertib dan seragam secara visual terus-menerus diganggu oleh “kebisingan” visual dari bawah — baik itu vandalisme remaja, mural kritik, maupun iklan komersial. Namun, gangguan inilah yang menandakan bahwa kota tersebut hidup. Hal ini perlu dirawat.
Keberadaan Seniman, pegiat seni, peneliti dan komunitas seni sangatlah krusial dalam membentuk kebudayaan di suatu Kota. Mereka berfungsi sebagai “penerjemah” budaya yang menjembatani kesenjangan antara bahasa birokrasi negara, bahasa pasar, dan bahasa jalanan. Melalui festival, lokakarya, dan pameran, mereka membuktikan bahwa dinding kota Pekanbaru bisa menjadi ruang edukasi dan pemberdayaan, bukan sekadar tembok pembatas, karena kebudayaan adalah keseluruhan sistem makna, praktik, dan objek yang dipelajari, diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk budaya populer, yang membentuk cara pandang, nilai, serta perilaku kelompok masyarakat, dan dikaji sebagai “teks” yang dapat dianalisis hubungannya dengan kekuasaan dan identitas. Ini melampaui seni tinggi, mencakup segala sesuatu dari adat istiadat, bahasa, teknologi, hingga media, sebagai hasil yang terus-menerus dibentuk dan dinegosiasikan sepanjang waktu.
Ndak ada yang harus-harus do fren…
Catatan Pustaka :
- 90–100 Seni Mural Media Komunikasi Politik Era Pandemi Covid 19
- Eksistensi Seni Grafitti di Kota Makassar ( SUATU KAJIAN SOSIOLOGI SENI TENTANG SENI JALANAN )
- Stensil sebagai media aspirasi — Online Journal of ISI Yogyakarta
- EKSISTENSI SENI GRAFITTI DI KOTA MAKASSAR ( SUATU KAJIAN SOSIOLOGI SENI TENTANG SENI JALANAN SEBAGAI FENOMENA SOSIAL ) Moh.Thamrin Mappalahere — Neliti
- Efektivitas City Branding Kota Pekanbaru “Smart City Madani” — Journal UIR
- URBAN ARCHITECTURE AS A TRANSFORMATION OF IDENTITY A Study Case from Pekanbaru City, Indonesia
- Lokakarya Sikukeluang, Seni yang Berpihak pada Alam — Riaurealita.com
- Street Bombing by NSF CREW — Graff.Funk, accessed January 15, 2026
- RIAU FESTIVAL 2019 KAMPUNG BANDAR PEKANBARU — InfoPublik
- Ornamen Rumah Tradisional Melayu Riau di Pekanbaru: Rumah Tuan Kadi — Online Journal of ISI Yogyakarta
- 126 Batik Riau Stock Vectors and Vector Art | Shutterstock
- All Artists | Tangi Street Art Festival
- Perda Kota Pekanbaru Nomor 5 Tahun 2002 Tentang Ketertiban Umum
- Maraknya Fenomena Vandalisme, Melanggar Perda Ketertiban Umum — InfoPublik
- Fasum Baru Diperbaiki Pemkot Pekanbaru Jadi Korban Vandalisme, Tuai Kecaman
- TANGGUNG JAWAB KEPOLISIAN MENCEGAH TERJADINYA VANDALISME HALTE DI KOTA PEKANBARU SKRIPSI FAHRI HIDAYATULLAH NIM. 11920711483 PR — Repository UIN Suska
- Pemko Pekanbaru Kecam Aksi Vandalisme, Pelaku Perusakan Fasilitas Publik Akan Ditindak Tegas — RIAU1.COM
- Wako Pekanbaru Tegaskan Tindak Tegas Pelaku Aksi Vandalisme di Fasilitas Publik
- Jasa Mural Dinding Cafe di Pekanbaru — Jogja Painting
- Mural Art as a Media for Social Criticism: Perspective Structuralist-Constructivism
- Mural Seni Pekanbaru: Keindahan dan Daya Tarik — Lemon8
Kredit Foto / Gambar Pendukung :
- Andri.spokpict dari Potret Street Pekanbaru
- Pekanbaru Kolektif Crew & Mention Artist
- Tangkapan layar diberbagai portal media
- Arsip Foto Charles Breijer / NFA, coll. Nederlands Fotomuseum (repro)
Tentang Penulis :
Adhari Donora S.Sn., M.A., atau Datuk Seri Visual a.k.a antirender adalah Seorang Seniman Seni Rupa kelahiran Pekanbaru menempuh perjalanan seninya dari Yogyakarta di Institut Seni Indonesia dan Kajian Media dan Budaya Universitas Gadjah Mada — lalu kembali pulang ke Pekanbaru, membawa semangat lintas disiplin, eksperimen, dan kultur Do It Yourself / Do It With Others. Baginya, seni adalah percakapan yang terus bergerak: antara manusia dan lingkungan, antara sains dan imajinasi, antara teknologi dan keseharian. Ia melihat praktik artistik sebagai ruang pertemuan — sebuah jembatan yang menghubungkan wacana, pengalaman, dan kemungkinan baru dalam masyarakat. Sehari-hari bekerja di Nonblok Ekosistem, sebuah Laboratorium Seni dan Budaya Kontemporer di Pekanbaru.
메타데이터
- post_id
- 6dfb1c0f918b
- slug
- bunga-yang-tak-pernah-layu-di-lanskap-visual-pekanbaru-6dfb1c0f918b
- url
- https://medium.com/@corahkota/bunga-yang-tak-pernah-layu-di-lanskap-visual-pekanbaru-6dfb1c0f918b
- canonical_url
- https://medium.com/@corahkota/bunga-yang-tak-pernah-layu-di-lanskap-visual-pekanbaru-6dfb1c0f918b
- author_url
- https://medium.com/@corahkota
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-21 07:44:09