Papal Conclave: Keragaman Kardinal dan Arah Pemikiran Gereja
Penulis: Cheryl Tjung Gunawan
Papal Conclave: Keragaman Kardinal dan Arah Pemikiran Gereja
Penulis: Cheryl Tjung Gunawan

Gambar 1. Paus Leo XIV yang baru terpilih tiba di balkon loggia setelah para kardinal mengakhiri konklaf, 8 Mei 2025. (AFP)
Habemus papam! Seruan bahagia dari Vatikan dalam menyambut momen sakral usai terpilihnya pemimpin Gereja Katolik baru, Paus Leo XIV (Genovese, Fortuna, & Brezar, 2025). Prosesi pemilihan paus, atau Papal Conclave, telah mendatangkan para kardinal yang berasal dari berbagai benua, sebagian besarnya (sekitar 80%) ditunjuk secara langsung oleh mendiang Paus Fransiskus.
Istilah “Conclave” berasal dari bahasa latin yang berarti “Dengan kunci,” memberikan penggambaran kondisi para kardinal selama proses pemilihan Paus yang terbebas dari komunikasi serta pengaruh dunia luar. Dilansir dari Vatican News, pihak-pihak yang terlibat — baik kardinal maupun pejabat staf — berkewajiban mengucap janji atau sumpah pribadi dalam menjaga kelancaran dan kerahasiaan pemilihan Paus Agung. Ketetapan ini diimplementasikan sesuai dengan integritas conclave dalam konstitusi apostolik Universi Dominici Gregis pada tahun 1996. Sebanyak 133 kardinal elektor, yakni kardinal yang berusia kurang dari 80 tahun, berhak untuk memilih, dipilih, dan bahkan memberikan suara untuk dirinya sendiri. Para kardinal kemudian akan menuliskan surat suara dengan kode khusus sebagai penyamaran dan menyerahkannya ke altar. Seorang kandidat penerus Paus setidaknya harus memiliki dua pertiga suara dari keseluruhan untuk dapat dinyatakan secara resmi sebagai Paus. Namun, jika tidak memenuhi syarat tersebut, akan dilakukan empat kali pemilihan ulang dalam satu hari hingga menghasilkan kesepakatan bersama. Inilah yang menyebabkan prosesi pemilihan, selama berabad-abad, lazimnya terselesaikan lebih dari kurun waktu satu hari (RTE, 2025).

Gambar 2. Kondisi kapel Sistina yang siap untuk melaksanakan conclave. (AP Photo)
Pengaruh Eropa dan Keragaman Kardinal
Berkaca pada sejarahnya, Eropa telah mendominasi sebagai pemimpin umat Katolik di seluruh dunia, dengan mayoritasnya yang berasal dari Italia (Chiquitita, 2025). Krisis dan ketegangan politik turut memainkan peran dalam pelaksanaan serta penyempurnaan tradisi lama conclave — bermula dari keresahan warga di Italia akibat kekosongan posisi Paus sehingga mereka melancarkan pengurungan kardinal demi konsensus.
Perubahan yang dilakukan mendiang Paus Fransiskus mampu memberikan pengaruh yang krusial dalam pendistribusian representasi kardinal secara geografis. Terdapat sekitar 108 kardinal: Eropa (38%), Amerika Latin dan Karibia (19%), Asia-Pasifik (19%), Afrika sub-Sahara (12%), Amerika Utara (7%), serta Timur Tengah dan Afrika Utara (4%). Menurut pendapat Dr. Miles Pattenden, Sejarawan Gereja Katolik dari Universitas Oxford, Paus Fransiskus ingin menggencarkan Kolegium Kardinal representatif yang adil terhadap seluruh umat Katolik hingga yang terkecil sekali pun. Hal ini kemudian menjelaskan alasan dibalik pemilihan kardinal yang pertama kali dari negara-negara seperti Mongolia, Iran, Timor Timur, dan Aljazair.

Gambar 3. Para anggota Dewan Kardinal menghadiri vesper di Basilika St. Mary Maggiore di Roma pada tanggal 27 April 2025, dan berdoa di makam Paus Fransiskus. (Catholic Sun)
Apa yang Diharapkan?
Komposisi pembagian kandidat Paus yang tersedia cenderung memiliki ideologi yang luas dan berbeda-beda dalam memahami berbagai isu global, membawakan tantangan dalam keberlangsungan prosesi conclave (Lawal, 2025). Kompetensi dalam diplomasi pun dapat dijadikan bentuk pertimbangan terhadap para kandidat dengan kemampuan dalam meyakinkan rekannya — negara maupun non-negara — secara halus, seperti yang biasa dilakukan oleh Paus Fransiskus.
Paus Fransiskus dikenal sebagai tokoh yang cukup progresif dalam menyikapi tantangan gereja, seperti penolakannya terhadap ideologi gender yang dianggap telah menghapus perbedaan kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan (Reuters, 2024). Disisi lain, beliau mendapati kritik dari konservatif gereja mengenai pendekatannya yang tergolong liberal dalam menyampaikan keterbukaan pelayanan dan toleransinya terhadap kaum LGBTQ+ selagi tidak menentang doktrin dalam gereja. Selain itu, Paus Fransiskus juga kerap mengkritik pelaksanaan gereja yang terindikasi terlalu ‘kaku’ dalam menghadapi perubahan dan perkembangan kompleksitas kehidupan modern. Pandangan ini pastinya membawakan perbincangan antara kaum progresif yang meneruskan keterbukaan, dengan kaum konservatif yang ingin memberlakukan kembali tradisi gereja tanpa pengaruh budaya global.
Mengaitkan pemikiran Paus Fransiskus dengan Paus penerusnya, yakni Paus Leo XIV, mendatangkan berbagai kesamaan dalam pandangannya terhadap keadilan sosial, lingkungan, hingga isu migrasi. Pengalaman Paus Leo XIV di Amerika Latin dan Amerika Serikat membawakan perspektif global yang dapat memperkuat kesinambungan gereja yang misionaris. Namun, meskipun mendukung reformasi, Paus Leo XIV cenderung memiliki sikap yang tegas dalam menyikapi isu moral, berbeda dengan pendekatan Paus Fransiskus yang lebih terbuka (TEMPO, 2025). Pada 2012, tokoh agama kelahiran AS ini menyampaikan kritiknya terhadap gaya hidup komunitas LGBTQ+ dan pengadopsian anak oleh pasangan sesama jenis, bertolak belakang dengan pengakuan dan ideologi kebebasan di negara Paman Sam tersebut. Dalam menjembatani perbedaan ideologi, beliau dipandang sebagai pribadi yang moderat dalam melanjutkan reformasi pastoral dan mewujudkan perdamaian dari berbagai latar belakang.

Gambar 4. Asap putih mengepul dari Kapel Sistina pada 8 Mei 2025. (Antoine Mekary, ALETEIA)
Asap Putih Menentukan Masa Depan Gereja Katolik
Hasil keputusan Papal Conclave terdeteksi dari asap yang dikeluarkan melalui cerobong di atas kapel; asap hitam menunjukkan hasil yang belum meyakinkan, sedangkan asap putih dan bunyi lonceng menunjukkan bahwa gereja telah memiliki pemimpinnya yang baru (Rosdalina, 2025). Papal conclave tidak hanya dipandang sebagai proses formalitas administratif, tetapi juga menandakan sistem tradisi spiritual dalam menjaga kesatuan dan kesucian seorang ‘kepala’ yang akan membimbing seluruh umat Katolik. Pergantian Paus ini sangat menentukan arah perkembangan Gereja Katolik dan bahkan memungkinkannya dalam membawakan pengaruh gereja dalam menanggapi isu-isu global.
REFERENSI
Barrucho, L. (2025, April 29). Apakah geopolitik di Gereja Katolik akan memengaruhi pemilihan Paus baru? Diambil kembali dari BBC Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c80725g0953o
Chiquitita, M. (2025, May 2025). Sudah Berlangsung 700 Tahun: Ini Sejarah, Pengertian-Tata Cara Konklaf. Diambil kembali dari CNBC Indonesia: https://www.cnbcindonesia.com/research/20250506170318-128-631458/sudah-berlangsung-700-tahun-ini-sejarah-pengertian-tata-cara-konklaf
Genovese, V., Fortuna, G., & Brezar, A. (2025, May 8). Pope Leo XIV addresses Vatican crowd as new leader of the Catholic Church. Diambil kembali dari Euro News: https://www.euronews.com/my-europe/2025/05/08/cardinals-go-back-to-second-day-of-historic-conclave-to-elect-new-pope-live-updates
Lawal, S. (2025, May 5). Who are the main contenders to be the next pope? Diambil kembali dari Al Jazeera: https://www.aljazeera.com/news/2025/5/5/who-are-the-main-contenders-to-be-the-next-pope
Lines, A., Hanlon, T., & Gamp, J. (2025, May 7). Conclave LIVE: Secret election for new Pope begins today — see how it will work. Diambil kembali dari MIRROR: https://www.mirror.co.uk/news/world-news/conclave-pope-smoke-vatican-live-35178908
Officials and Conclave staff take Oath of Secrecy in Pauline Chapel. (2025, May 5). Diambil kembali dari Vatican News: https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2025-05/sede-vacante-conclave-oath-secrecy-officials-staff.html
Reuters, T. (2024, May 1). Pope says gender theory is ‘ugly ideology’ that threatens humanity. Diambil kembali dari CBC: https://www.cbc.ca/news/world/pope-francis-gender-theory-ideology-1.7130679
Rosdalina, I. (2025, May 6). Seperti Apa Proses Pemilihan Paus Baru yang Dimulai Hari Ini? Diambil kembali dari Tempo: https://www.tempo.co/internasional/seperti-apa-proses-pemilihan-paus-baru-yang-dimulai-hari-ini--1354452
Vatican conclave to pick a new pope, world awaits white smoke. (2025, 7 May). Diambil kembali dari RTE: https://www.rte.ie/news/world/2025/0507/1511448-vatican-conclave/
메타데이터
- post_id
- 6e1fb2b1d4e3
- slug
- papal-conclave-keragaman-kardinal-dan-arah-pemikiran-gereja-6e1fb2b1d4e3
- url
- https://medium.com/@komahiunsoed/papal-conclave-keragaman-kardinal-dan-arah-pemikiran-gereja-6e1fb2b1d4e3
- canonical_url
- https://medium.com/@komahiunsoed/papal-conclave-keragaman-kardinal-dan-arah-pemikiran-gereja-6e1fb2b1d4e3
- author_url
- https://medium.com/@komahiunsoed
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01