← Back to list

Jangan Tertipu Sampul!

Sebuah Ulasan Pembuka untuk Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” Karya Ning Uswah

Affa Esens · 2026-05-18 14:53 · 10 claps · 2.7 min read
#book-review #marriage #psychology #islam #personal-essay
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Psychology LIT · Literature & Writing 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative 📚 · Books & Reading 🕊️ · Religion

Jangan Tertipu Sampul!

Sebuah Ulasan Pembuka untuk Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” Karya Ning Uswah

Membaca buku ini membuat saya ingat bagaimana rasanya mbantal paha ibu yang sengaja diselonjorkan sambil di-puk-puk dan di-dawuhi banyak hal waktu kecil dulu (meski sebenarnya sampai kapanpun saya tetaplah anak kecilnya beliau, dan saya senang. He-he), mirip sekali rasanya. Apa gara-gara relate, ya? Yang jelas, “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian” buah karya Ning Uswah ini isinya sungguh di luar ekspektasi saya.

Saya sudah punya buku ini sejak awal rilis tahun lalu. Meski baru terbaca beberapa hari ini, bagi saya, dorongan untuk membacanya hadir di saat yang sangat tepat. Sangat tepat. Mengingat usia semakin bertambah, banyak rekan sudah berlabuh (dan berbuah), hari semakin sore dan pintu rumah makin usang.

Sebelumnya mohon izin, sebagai pembaca (laki-laki), bolehlah saya sampaikan bahwa satu-satunya alasan yang membuat saya menunda membaca buku jodoh ini hingga setahun lamanya adalah perwajahan buku yang sangat feminis. He-he. Dan alasan kenapa saya membeli buku ini tentulah, pertama, karena penulisnya. Kedua, karena ada jodoh-jodohnya itu. He-he.

Tapi memang, sungguh dangkal ekspektasi saya untuk buku yang dalam ini. Begitu membuka daftar isinya, komplit sudah kelompok pembahasannya. Mulai dari pranikah, babak baru pernikahan, dan perpisahan. Masing-masing memuat kompleksitas isu yang terkemas apik.

Sebagai pria yang sedang berdiri di fase pranikah, bab pertama buku ini langsung menyedot perhatian saya. Menariknya, judul buku yang dipilih oleh Ning Uswah seolah menjadi jembatan yang mempertemukan dua kutub ekstrem dalam psikologi, yaitu teori Locus of Control (Pusat Kendali) milik Julian Rotter.

Dalam ranah ilmiah, Rotter membagi cara pandang manusia atas nasib dan peristiwa hidupnya menjadi dua kendali: internal dan eksternal. Seperti yang dirumuskannya dalam Generalized expectancies for internal versus external control of reinforcement. Psychological Monographs, 80(1), 1–28:

“Internal control refers to the perception of positive and/or negative events as being a consequence of one’s own actions and thereby under personal control; external control refers to the perception of positive and/or negative events as being unrelated to one’s own behaviors… and therefore beyond personal control.”Julian Rotter (1966)

Dengan apik, Ning Uswah mengawinkan kedua konsep psikologi tersebut ke dalam bahasa yang sangat renyah. Kalimat “Jodoh di Tangan Tuhan” adalah representasi sempurna dari external locus of control — sebuah kepasrahan total pada takdir, wilayah transendental yang berada di luar kendali kita sebagai makhluk. Namun, beliau tidak membiarkan pembaca mandek dalam kepasrahan yang pasif atau fatalistik.

Lewat frasa “Selebihnya Hasil Lobian”, buku ini langsung mengaktifkan internal locus of control kita. Ini adalah sebuah penegasan bahwa ada porsi besar yang mutlak berada di bawah kendali tindakan kita sendiri (under personal control). “Lobi” di sini tidak lebih dari manifesto dari tindakan nyata: mulai dari lobi jalur langit via doa, lobi internal untuk memantaskan kualitas diri, hingga lobi sosial ke calon pasangan dan keluarganya.

Di sinilah letak kedalaman bab pranikah yang dihadirkan Ning Uswah. Buku ini berhasil menyeimbangkan porsi antara iman dan ikhtiar secara adil. Bagi saya yang awalnya skeptis, bab awal ini sukses meruntuhkan ego kelaki-lakian saya, sekaligus memaksa saya untuk bercermin: ketika hari bergerak makin sore, sejauh mana “lobi-lobi” terbaik sudah saya usahakan?

Sembari merenungkan jawaban atas pertanyaan itu, langkah membaca saya tentu masih berlanjut. Oh ya, hampir lupa saya sampaikan, bahasa yang digunakan Ning Uswah dalam bukunya ini sangat enak. Nyuantai banget!

Maka tidak heran, hingga catatan ini selesai ditulis, halaman buku ini sudah terbaca sampai pada bagian kedua poin ke-10 — sebuah bab yang seketika memicu rasa penasaran kawula muda: ‘First Night Harus Berdarah, Mitos atau Fakta?’

Jadi, mari kita simpan dulu pembahasan pranikah ini. Di ulasan berikutnya, kita akan masuk ke babak baru pernikahan yang jauh lebih intim — dan mungkin, sedikit tabu.


메타데이터
post_id
6e2b2ff99fab
slug
jangan-tertipu-sampul-6e2b2ff99fab
url
https://medium.com/@affaesens/jangan-tertipu-sampul-6e2b2ff99fab
canonical_url
https://medium.com/@affaesens/jangan-tertipu-sampul-6e2b2ff99fab
author_url
https://medium.com/@affaesens
status
ok
fetched_at
2026-07-14 16:11:24