← Back to list

Mempelajari Bagaimana Jurnalisme Mempengaruhi Narasi Publik bersama Dr. Albert Muhammad, Ph.D

Alhamdulillah pada Ahad (1/3) telah terlaksana Kuliah Ramadan NGAJI (Ngabuburit di Masjid) dengan judul tema “Bad News Is Good News…

Mohandish Mozart M. A. · 2026-03-02 07:04 · 0 claps · 2.9 min read
#universitas-sebelas-maret #brin #surakarta #jurnalisme
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Mempelajari Bagaimana Jurnalisme Mempengaruhi Narasi Publik bersama Dr. Albert Muhammad, Ph.D

Suasana kajian pada Ahad (1/3) (Dok. Tim Media KRNH UNS)

Suasana kajian pada Ahad (1/3) (Dok. Tim Media KRNH UNS)

Alhamdulillah pada Ahad (1/3) telah terlaksana Kuliah Ramadan NGAJI (Ngabuburit di Masjid) dengan judul tema “Bad News Is Good News: Bagaimana Jurnalisme Mempengaruhi Narasi Publik?” yang disampaikan oleh Dr. Albert Muhammad, Ph.D. di Masjid Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (UNS)

Dalam kegiatan tersebut, saya berperan sebagai Master of Ceremony (MC) sekaligus Moderator dalam kajian tersebut yang dilaksanakan di Masjid Nurul Huda UNS. Saya merasa senang saya diberikan kepercayaan untuk mengambil peran tersebut.

Beliau merupakan peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan juga menjadi dosen Tamu S2 Komunikasi. Beliau aktif sebagai peneliti dan kreator konten, serta sering diundang sebagai pembicara di seminar dan acara akademik. Tentunya beliau juga merupakan alumni Magister & Doktor Saint Petersburg State University Russia. Beberapa fokus penelitian beliau meliputi komunikasi strategis dan studi tentang ASEAN.

Pada era modern seperti ini, perkembangan media khususnya media sosial sudahlah dinamis. Media sosial sebagai media digital kini rutin dipakai oleh berbagai generasi khususnya Gen-Z yang dimana tumbuh berkembangnya mereka ditemani oleh perkembangan teknologi yang masif dengan indikator banyak Gen-Z yang sudah memiliki gawai (HP) sendiri.

Tentu media sosial memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik. Hal tersebut terjadi ketika media sosial digunakan sebagai sumber informasi yang rutin dilihat oleh masyarakat. Hal tersebut dapat diketahui melalui salah satu indikator yaitu bad news is good news. Jika diartikan maka bad news is good news itu merupakan berita buruk adalah berita baik bagi suatu industri media. Hal tersebut dapat terjadi ketika media seringkali memproduksi sebuah berita yang sebenarnya buruk (berdampak negatif)

Untuk contohnya berita yang beredar saat ini yakni: pembunuhan seorang mahasiswi yang tentu berita ini pasti akan di blow up terus menerus oleh industri media. Maka, media ini punya peranan penting terhadapnya. Dalam dunia kommunikasi tentunya terdapat agenda of setting, atau pengalihan isu. Contohnya di akhir tahun lalu ada banyak berita perselingkuhan aktris yang di blow up dan dijadikan pengalihan isu. Sebagai contoh, Isu 17+8 yang terjadi di bulan Agustus tahun lalu dialihkan isunya dengan penceraian seorang pesepak bola. Lalu untuk contoh lainnya, bencana alam terjadi di Pulau Sumatra pada tahun lalu mengalami dialihkan isunya dengan perselingkuhan seorang selebgram.

Penyampaian materi kajian berlangsung secara khidmat (Dok. Tim Media KRNH UNS)

Penyampaian materi kajian berlangsung secara khidmat (Dok. Tim Media KRNH UNS)

Media massa pun kini dikendalikan dan mengendalikan. Tentunya dikendalikan oleh penguasa, oligarki, pemilik media serta pemerintah yang tentunya dapat mengendalikan isu-isu (agenda of seeting) apa yang seharusnya diliput dan dikeluarkan (diberitakan kepada khalayak masyarakat luas). Media kini juga memiliki kekuatan untuk memframing alias menambahkan sesuatu ke dalam berita-berita tertentu. Untuk contohnya sendiri ialah: Ketika pelaksanaan Pemilu Presiden 2024 terhadap Bapak Prabowo dipanggil “Gemoy” serta pengubahan arti kosa kata dalam KBBI untuk kata “Sawit” dari tanaman menjadi pohon.

Media juga bisa memberikan efek pengulangan yang dimana bertujuan untuk menyebarkan dari yang benar menjadi salah maupun sebaliknya sehingga masyarakat percaya terhadap hal tersebut. Contohnya sendiri ialah isu berita mengenai masuknya Indonesia dalam Board of Piece (BOP) yang selalu saja ditayangkan narasinya oleh berbagai pihak yang terkait kalau Indonesia tidak membayar dananya (sebesar 17 T Rupiah) dengan penayangan beritanya yang dilakukan secara masif dalam dunia layar kaca Indonesia.

Tidak lupa, kita sebagai masyarakat sudahlah seharusnya untuk menggunakan media sosial secara bijak. Ketika kita mendapat informasi, tentu kita harus menyaringnya & menelaah nilai kebenarannya (tabayyun) terlebih dahulu serta apakah perlu informasi tersebut di bagikan ke khalayak ramai. Kita juga sudah seharusnya memiliki jiwa yang kritis maupun Logis dalam bersosial media. Semoga saja, hasil pembelajaran dari materi kajian sore ini dapat bermanfaat bagi agama, nusa, bangsa serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Aamiin.

Catatan Penulis:

Pembuatan artikel ini menggunakan perpaduan notulensi internal dari KRNH UNS serta catatan pribadi penulis dengan pembahan sumber referensi yang relevan, serta bukan merupakan karya resmi dari Kampus Ramadan Nurul Huda Universitas Sebelas Maret (KRNH UNS). Jangan lupa ikuti kegiatan KRNH UNS setiap harinya selama bulan Ramadan di Masjid Nurul Huda UNS serta follow Instagram resminya @krnh.uns hehe.

Foto: Tim Media KRNH UNS

Notulen: Notulen KRNH UNS

Penulis: Mohandish Mozart Muthahhari Ahmad (Staf Divisi Event KRNH UNS)

Ahad, 1 Maret 2026 M/11 Ramadan 1447 H

Masjid Nurul Huda

Universitas Sebelas Maret (UNS), Kota Surakarta


메타데이터
post_id
6e6e6cfdb8da
slug
mempelajari-bagaimana-jurnalisme-mempengaruhi-narasi-publik-bersama-dr-albert-muhammad-ph-d-6e6e6cfdb8da
url
https://medium.com/@sayaanakambis/mempelajari-bagaimana-jurnalisme-mempengaruhi-narasi-publik-bersama-dr-albert-muhammad-ph-d-6e6e6cfdb8da
canonical_url
https://medium.com/@sayaanakambis/mempelajari-bagaimana-jurnalisme-mempengaruhi-narasi-publik-bersama-dr-albert-muhammad-ph-d-6e6e6cfdb8da
author_url
https://medium.com/@sayaanakambis
status
ok
fetched_at
2026-06-22 19:40:15