← Back to list

The Less I Know the Better

Menunggu, Kejenuhan, dan Seni Pergi

sekadar · 2025-12-19 18:20 · 0 claps · 2.1 min read
#kontemplasi #refleksi #albert-camus #tame-impala
Open on Medium ↗

The Less I Know the Better

Menunggu, Kejenuhan, dan Seni Pergi

Menunggu adalah cara paling sunyi untuk menghilang. Ia tidak membunuh kita sekaligus, hanya mengikis sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita menyadari bahwa sebagian dari diri kita telah tertinggal di waktu yang tidak pernah bergerak. Dalam The Less I Know the Better, menunggu tidak pernah ditawarkan sebagai harapan, melainkan sebagai hukuman yang diterima dengan patuh.

Seseorang berkata mereka pergi bersama. Kita berlari, terlambat. Lalu melihat tangan itu bukan milik kita. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada ledakan. Hanya rasa dingin yang menetap lama di dada. Pengetahuan datang seperti debu: halus, tetapi meyesakkan. Kita tahu lebih banyak, dan justru itulah masalahnya.

Cinta, dalam lagu ini, tidak runtuh secara tragis. Ia membusuk pelan-pelan. Setiap kabar baru tidak menghancurkan, hanya mempertebal kejenuhan. Kita tidak patah hati; kita aus. Dan keausan itu lebih berbahaya daripada kesedihan, karena ia tidak memancing air mata, hanya membuat segalanya terasa datar dan kosong.

Janji, “wait ten years, we’ll be together” terdengar seperti belas kasihan yang disamarkan sebagai harapan. Waktu dipinjamkan agar tidak perlu memilih sekarang. Dalam penundaan itulah absurditas berakar. Kita diminta menunda hidup kita sendiri demi masa depan yang tidak pernah tersedia hadir. Camus akan menyebutnya sebagai bentuk kebohongan paling rapi: memberi makna palsu agar kita mau bertahan lebih lama di tempat yang salah.

Kalimat “the less i know the better” bukan keinginan untuk bodoh. Ia adalah jeritan lelah dari seseorang yang terlalu sadar. Mengetahui dengan siapa ia tidur, ke mana ia pulang, dan kepada siapa ia menyandarkan kepalanya setiap malam, tidak membuat kita lebih kuat. Pengetahuan itu hanya menambah detail pada kehampaan. Luka menjadi arsip.

Kejenuhan adalah tahap terakhir dari menunggu. Bukan marah, bukan cemburu, bahkan bukan sedih. Hanya rasa berat yang konstan. Hidup terasa seperti lorong panjang (lagi) tanpa pintu. Kita berjalan karena terbiasa, bukan karena ingin sampai. Kita mencintai karena lupa bagaimana caranya berhenti.

Dalam absurditas Camusian, dunia tidak peduli seberapa lama kita menunggu. Dunia tidak memberi tanda kapan harus berhenti. Karena itu, berhenti adalah keputusan yang harus diambil sendirian. Pergi bukan solusi, melainkan sikap. Sikap untuk tidak lagi menukar hidup hari ini dengan janji yang terus ditunda.

Namun pergi tidak datang dengan kelegaan. Ia datang dengan kehampaan baru. Kita kehilangan bukan hanya orang itu, tetapi juga identitas sebagai seseorang yang menunggu. Ada kekosongan setelahnya, dan kekosongan itu tidak meminta diisi. Ia hanya ada. Dinginnya jujur.

Camus (sekali lagi) tidak menawarkan harapan. hanya keberanian untuk menatap hidup tanpa topeng. Dalam wangkong bohong ini, keberanian itu muncul sebagai langkah kecil menjauh dari pintu yang terlalu lama ditatap. Tidak ada perpisahan yang layak. Tidak ada penutup yang rapi. Hanya kesadaran pahit bahwa menunggu telah mencuri terlalu banyak waktu.

The Less I Know the Better adalah lagu tentang kelelahan yang tidak lagi ingin disembuhkan. Ia tidak ingin bahagia. Ia hanya ingin berhenti. Berhenti berharap. Berhenti tahu. Berhenti menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar datang.

Maka mungkin ada benarnya: Lebih baik tidak tahu. Karena pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan, melainkan bertahan terlalu lama di tempat di mana kita tidak pernah benar-benar ada.


메타데이터
post_id
6e8078eadefc
slug
the-less-i-know-the-better-6e8078eadefc
url
https://medium.com/@sekadar/the-less-i-know-the-better-6e8078eadefc
canonical_url
https://medium.com/@sekadar/the-less-i-know-the-better-6e8078eadefc
author_url
https://medium.com/@sekadar
status
ok
fetched_at
2026-06-15 22:55:51