← Back to list

Pengebirian Otonomi Manusia

Setengah Milenium yang lalu, beberapa negara adidaya di Eropa Barat mendapatkan sejenis wahyu. Tapi Wahyu ini tidak lahir dari intuisi…

Muzakialhabibi · 2026-02-11 17:49 · 0 claps · 5.0 min read
#sejarah #teologi #filsafat #humanisme #eropa
Open on Medium ↗

Pengebirian Otonomi Manusia

Setengah Milenium yang lalu, beberapa negara adidaya di Eropa Barat mendapatkan sejenis wahyu. Tapi Wahyu ini tidak lahir dari intuisi nalar-nalar keagamaan, tapi lahir berkat opresi kekuasaan gereja di atas kedaulatan negara.

Extra Ecclesiam nulla salus, adagium itu selalu membekas dan mengakar dalam kesadaran spiritual kebanyakan masyarakat eropa saat itu. Tidak ada keselamatan di luar gereja. Seakan semua entitas di dunia ini tidak akan selamat ketika memang tidak sejalan dengan pola pikir ilahi.

Paus memegang otoritas kebenaran melapaui para raja, aristokrat, presiden, legislator, dsb. Keterbelengguan pola berpikir kritis atas dogma keagamaan pada gilirannya mencapai puncaknya pada Masa itu. Para bughat, aktor-aktor yang dianggap mengancam status quo gereja akan menemui siksaan atau sanksi sosial. Akibatnya banyak yang merasa bahwa ada kekuasaan yang menunggangi kemurnian wahyu Tuhan tersebut.

Kepentingan Paus atau Pastor tidak pernah diluputkan dalam pengajaran ilmu keagamaan. Hal ini lama kelamaan tercium dalam kesadaran kolektif masyarakat penerima ajaran tersebut. Kecurigaan dan kekecewaan ini agaknya diperparah dengan beberapa penyiksaan dan hukuman yang benar-benar dianggap secara sadis dan non manusiawi.

Percikan kekecewaan paling dini dialami oleh Hypatia dari Alexandria pada ±350–415 M yang dihukum dengan cara diseret ke gereja, ditelanjangi, dan tubuhnya dikuliti menggunakan pecahan keramik atau kulit kerang hingga tewas, kemudian sisa tubuhnya dibakar. Hal itu sama sekali berlawanan dengan moralitas manusia, dimana martabat harus dihargai sebaik mungkin. Apalagi Hypatia adalah seorang wanita revolusioner yang punya banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan yang sangat bisa berkontribusi dalam kemajuan peradaban saat itu. Pembungkaman dan penyiksaan tersebut seakan sangat tersistem dan tidak hanya berbasis hukum gereja, namun tercampuri oleh residu kebencian dan rasa benci pemegang otoritas gereja terhadap penemuan dan penerimaan Hypatia.

Pendamaian pemikiran filsafat dan dogma gereja oleh Thomas Aquinas pada abad 13 pun pada akhirnya juga mengalami ajalnya. Pemikiran berdasarkan moral manusia yang diinisiasi Aquinas seolah tidak menemui manifestasinya. Semenjak Magnum Opus dia bahkan rilis dan mendunia, nyatanya dalam reealita masih banyak ilmuwan dan filosof yang menemui pemarjinalannya karena perlakuan otoritas gereja.

Pada abad pertengahan, pemberhalaan terhadap paham geosentrisme sebegitu mengakar dan menjadi dominasi pemikiran gereja yang didoktrinasikan melalui ajarannya. Pemikiran ini berakar dari realisme filsafat periphatetiknya Aristoteles yang bilang bahwa bumi itu pusat alam semesta dalam konsep sub lunar dan super lunar miliknya.

Pemikiran kuno yang imajiner ini secara berkala di reproduksi terus menerus dan dilindungi oleh dogma agama menjadi pemikiran ini semakin eksklusif dan sakral bahkan selama satu imperium lebih. Padahal ada banyak seharusnya pemugaran dan pembongkaran atas pemikiran yang dianggap mapan ini. Apakah orang yang menginisiasi pemikiran ini punya pikiran tentang ekskalasi konflik kiranya apa ketika pemikiran geosentris ini masih tetap dipertahankan.

Nyatanya, pada abad pertengahan banyak pemikir kritis dan filosof yang menjadi korban atas dominasi pemikiran ini. Reformasi pemikiran diinisiasi oleh Nicholas Copernicus dalam karyanya De revolutionibus orbium coelestium (Tentang Revolusi Bulat-bulat Langit), yang diterbitkan pada tahun 1543. Kemudian diikuti oleh Giordano Bruno yang memadukan konsep Copernican dengan panteisme saintifik miliknya. Tidak ketinggalan lagi Gallileo Gallilei sang penemu teleskop. Ketiga inisiator revolusioner yang ingin mengadvokasi sains yang setelah sekian abad terbelenggu dogma gereja pun menemui persekusinya. Mulai dari dipenjara, dicongkel matanya, dibakar, dan persekusi-persekusi non-manusiawi lainnya.

Lama-kelamaan kekecewaan atas hukum gereja yang mengebiri intelektualitas dan kritisisme ini kian dirasakan oleh masyarakat. Banyak muncul tokoh-tokoh revolusioner lainnya seperti Martin Luther, Isaac Newton, Tommaso Campanella, Lucilio Vanini, Pietro d’Abano, Cecco d’Ascoli, Jan Hus, William Tyndale, Jerome of Prague, dan lain sebagainya. Bahkan semenjak mengetahui dan membaca persekusi-persekusi itu, kita jadi tahu apa saja alat-alat yang digunakan untuk penyiksaan dan pembunuhan secara perlahan. Yang bahkan jika digunakan untuk membunuh hewan saja masih tidak berperikehewanan apalagi untuk mencapai standarisasi perikemanusiaan.

Agaknya menurut kesimpulan saya, penguasa sangat suka rakyat religius asal tak kritis. Karena doa lebih mudah diarahkan daripada pikiran yang merdeka dan otonom.

Bahkan kritisisme yang radikal dan revolusioner pun seringkali disisipkan isu-isu atheisme untuk mensegregasikan tokoh pemikir dari lingkungannya. Padahal sebenarnya kritisisme dan atheisme adalah dua hal yang punya jangkar epistemologi mereka masing-masing. Isu atheisme dalam pemikiran kritis hanya menjadi kambing hitam atas dogma gereja yang ingin melanggengkan status quo nya.

Lebih jauh lagi, bagaimana rezim Soeharto yang military-oriented juga menggunakan isu sentimentalitas yang sama. Tokoh pemikir yang revolusioner dituduh komunis, dan common sense yang ditanamkan dalam masyarakat adalah bahwa komunis adalah atheis. Padahal lagi — lagi dua term ini punya standing point mereka masing-masing dan tidak bisa disatukan. Mudahnya menggiring masyarakat berpendidikan rendah sama mudahnya dengan menggiring domba-domba yang tersesat. Literasi yang rendah, keterpurukan ekonomi, ditambah dengan fanatisme agama yang mengakar dalam keseharian mereka seolah menjadi senjata pemegang otoritas untuk memobilisasi massa sesuai dengan kehendak dan tujuan mereka.

Agaknya, kemunculan HAM tidak bisa lepas dari penggulingan raja Louis XVII dalam revolusi perancis, Empirisimenya John Locke hingga David Hume, Sapere Aude nya Immanuel Kant, On the Origin of Speciesnya Charles Darwin dan Eksistensialisme nya Jean Paul Sarte. Kemunculan humanisme sebagai sebuah konsep yang mapan dibangun oleh kontribusi pemikiran atas trauma sejarah, eksistensi manusia serta relasinya dengan Tuhan.

Keraguan terhadap penokohan yang berlebihan terhadap pemegang otoritas agama, kewilayahan, negara, bahkan entitas yang sudah sekian imperium disembah menjadi titik balik kemunculan Humanisme. Manusia harus menegaskan terlebih dahulu bagaimana selama ini eksistensi mereka didefinisikan. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ dan dalil-dalil pada agama lain kiranya dimaknai tidak dengan cara yang essensialis tapi lebih dikedepankan aspek kemanusiaan dan kemaslahatan umumnya. Kelompok agama yang terlalu esensialis, tidak memaknai teks-teks agama sebagai sesuatu yang lahir didahului oleh konteks secara sosio-historis akan menemui kemandegannya dalam berpikir kritis.

Oleh karena itu, saya tidak pernah bosan-bosan ngopi dengan kawan-kawan kampus yang suka menggugat teks-teks keagamaan yang selama ini dimaknai secara esensialis kemudian menggantikan dengan konsep yang lebih hermeneutis.

Benar kata Feuerbach bahwasanya teologi sesungguhnya adalah sebuah antopologi. Makanya saya pribadi di tongkrongan PUSLAZEK (pusat Studi Slavoj Zizek) basa-basi Sorowagen dalam konsep intelektualitas aufklarung cum-sapen selalu menawarkan konsep kerja-kerja antropolog. Sebenarnya yang saya maksudkan adalah kerja-kerja teologis yang bersifat antroposentris dan humanistik. Namun, terma yang mengandung nilai-nilai sofistikasi yang teman-teman maknai adalah kerja-kerja ngopi tanpa kerjaan dan nir-tujuan dan berorientasi pada hal-hal random.

Maka, setelah penjabaran definisi dan history ini, kita temukan bahwa humanisme dengan memabami Tuban sebagai hasil konstruksi pikiran, maka membunuhNya tidak lain daripada mengubah pola pikir dan mentalitas masyarakat. Seandainya saja Tuhan yang ingin disingkirkan demi mekarnya peradaban kemanusiaan sejati itu hanya bagian dalam akal kita, perkembangan sains dan ekonomi sudah cukup untuk menyingkirkanNya.

Kenyataan tidaklah demikian. Agama bukan sekadar pola pikir, melainkan juga pola hidup. Tuhan sudah terjangkar kuat dalam jiwa dan penghayatan eksistensial manusia, maka kemajuan ilmiah suatu masyarakat tidak niscaya mengantar pada pudarnya agama-agama. Terhadap kenyataan seperti itu. Humanisme juga memiliki barisan ‘pembunuh Tuhan yang membidikkan serangan pada penghayatan eksistensial manusia agar manusia sungguh-sungguh dapat muncul dengan segala otententiisitas eksistensialnya tanpa menghamba lagi pada agama.

Pemikiran ini menegaskan transisi radikal menuju peradaban humanistis dimana manusia tidak lagi dipandang sebagai produk jadi yang terikat pada takdir ilahi. Melainkan sebagai subjek yang sepenuhnya merdeka (Sapere Aude). Dengan runtuhnya otoritas transendental supra-manusiawi yang punya hak dan wewenang atas takdir manusia.

Dalam konsep Tuhan telah mati nya Nietszche, manusia seakan kehilangan pegangan metafisis yang selama ini mendikte tujuan hidupnya. Padahal ini adalah sebuah kondisi yang awalnya terasa menyesakkan karena manusia dipaksa berdiri sendiri tanpa perlindungan takdir. Namun, dalam kekosongan itulah prinsip eksistensi mendahului esensi Sartre bekerja, dimana manusia lahir tanpa makna yang ditetapkan lebih dulu, sehingga ia bebas — bahkan “dikutuk” untuk melukis jati diri dan destinynya sendiri melalui tindakan dan keputusan pribadi.

Pada akhirnya, nilai kemanusiaan tidak lagi diukur dari kesesuaiannya dengan dogma atau standar teologis, melainkan dari keberanian individu untuk merangkul kebebasan mutlak sebagai satu-satunya hakikat keberadaannya.


메타데이터
post_id
6eb6906f2096
slug
pengebirian-otonomi-manusia-6eb6906f2096
url
https://medium.com/@muzakialhabibi137/pengebirian-otonomi-manusia-6eb6906f2096
canonical_url
https://medium.com/@muzakialhabibi137/pengebirian-otonomi-manusia-6eb6906f2096
author_url
https://medium.com/@muzakialhabibi137
status
ok
fetched_at
2026-06-23 17:05:31