Rindu Ketinggian
Warung kopi Saben Pare adalah titik kumpul awal untuk membahas perjalanan ini. Meskipun jauh dari rumah harus tetap berangkat, toh juga…
Rindu Ketinggian
Warung kopi Saben Pare adalah titik kumpul awal untuk membahas perjalanan ini. Meskipun jauh dari rumah harus tetap berangkat, toh juga sering ke Pare. Berangkat dari Desa Sendang, Kecamatan Banyakan, ujung barat Kabupaten Kediri. Berangkat sore, segera bertemu dengan Angga dan Haris. Sampai di Saben mereka terlihat sudah menanti cukup lama.
Aku ternyata pendatang baru di tongkrongan ini. Lama tak jumpa, diam-diam punya tongkrongan baru, biasanya kami ngopi ke Kota. Perbincangan semakin seru, masuklah pembahasan dunia pendaki. Tanpa sadar isi hati selama enam bulan lamanya tak sempat mendaki tercurahkan. Mereka berdua justru malah tertawa mendengarnya. Lalu Angga merespons niat baik si Kalong ini untuk hiking.
Singkat cerita, Angga dan aku memutuskan untuk mendaki Gunung Buthak via Panderman. Pendakian dengan jumlah sedikit lebih bebas, paling sering dua orang dan sangat jarang mendaki dengan jumlah banyak. Tanggal sudah disepakati, kami pun merencanakan dari perlengkapan dan perbekalan pendakian ke depan. Angga baru mau naik gunung lagi, ia hanya pernah satu kali ke Gunung Klotok enam tahun yang lalu. Bisa dibilang Angga pemula, tidak masalah karena sesering-seringnya mendaki tetap punya rasa lelah dan setiap gunung pasti memiliki kisah yang berbeda.
Minggu malam, 28 Juni 2026 menjadi hari keberangkatan. Dari Rumah Angga, kami mampir di Sukun, Malang, sebelum melanjutkan perjalanan menuju basecamp Buthak via Panderman. Setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan beristirahat sejenak di kontrakan, kami tiba di basecamp pada Senin, 29 Juni 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Urusan administrasi pendaftaran telah selesai dan tak lupa salat Subuh sebelum jalan.
Hal yang tidak terduga adalah ketika berada di basecamp aku bertemu saudara kandungku, Mas Akram kakak pertamaku. Rombongan kakakku menuju Gunung Bokong via Panderman, sedangkan tujuanku Miniatur Argopuro. Aku dan Angga mulai melangkah, jam menunjukkan pukul 05:30 WIB. Tak butuh waktu lama basecamp sudah tidak terlihat, sebab kami sudah melewati belokan pertama. Selamat tinggal basecamp sampai bertemu besok.
Kami sedikit ragu mengambil arah kiri setelah belokan. Lurus adalah jalur ojek dan sebelah kiri ada pohon cemara besar terdapat plat penanda jalur pendakian. Biasanya aku lurus saja lewat jalur ojek, turun baru lewat jalur ini. Kami ambil kiri, melewati jalan setapak yang cukup rapat dengan rumput gajah atau Cenchrus purpureus. Aku tidak terlalu hafal dengan jalur ini, berangkat pagi hari membuatku merasa yakin masih aman dan masih banyak petunjuk arah.
Keyakinan itu ternyata tidak sepenuhnya benar, sembarangan main trabas jalur terlalu beresiko karena berpotensi mengancam keselamatan. Aku yang sudah dua kali mendaki Gunung Buthak ini pun tidak luput dengan ketersesatan. Kami sempat nyasar, terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Mungkin lelah karena tergesa-gesa, Angga terlihat sulit mengatur napas padahal belum sampai Pos 1. Kami istirahat sejenak menenangkan diri dan berpikir, lalu putuskan kembali ke jalur ojek seperti pendakianku sebelumnya.
Berkali-kali istirahat, bahkan sempat tidur di jalur pendakian. Setelah cukup lama berjalan tibalah kami di Pos 1, kami segera mengeluarkan biskuit dan roti-rotian. Terlihat monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis betina menggendong bayinya semakin mendekat. Aku lengah mengawasi, ibu dan anak pun mengambil biskuit kami yang masih utuh. Angga segera mengambil dokumentasi untuk laporan sampah.
Sebenarnya kami berencana untuk sarapan di Pos 1, tragedi ini memaksa kami memutuskan untuk makan di Pos 2. Belum juga sampai aku sudah merasa lesu di tengah perjalanan dan merengek untuk istirahat sarapan. Angga mengambil bekal yang disiapkan dari rumah, kami makan di jalur ditemani seekor burung jalak. Pos 2 kami lewati begitu saja. Kami justru menghabiskan waktu beristirahat di hutan lumut. Di tengah istirahat yang cukup lama itu, Angga sempat berkhayal tentang sang pujaan hati, lalu berangan-angan mengawali tulisan dengan khayalannya itu.
Masa bodoh, sudah terlalu lama beristirahat. Ini adalah perjalanan yang cukup gila, bayangkan saja, 13 jam lamanya kami baru sampai di sabana Buthak. Sepertinya kami terlalu banyak berkhayal hingga lupa cara lanjut berjalan. Tapi perjalanan ini tidak bisa disesali secuwil pun. Angga menunjukkan dirinya mampu melanjutkan perjalanan ini. Sampai di sabana aku bersyukur masih bisa menyempatkan waktu untuk hiking.
Di tengah dinginnya sabana, aku kembali teringat alasan sederhana mengapa perjalanan ini begitu berarti. Alhamdulillah, akhirnya libur telah tiba juga setelah sekian lama menempuh satu semester sebagai Mahasiswa PPG Calon Guru. Semua terlewati dengan penuh kegembiraan tentunya. Enam bulan lamanya kaki ini belum menginjak dataran tinggi. Berbeda dengan Tahun lalu, aku mendaki setidaknya satu bulan sekali. Namun, apa boleh buat? ini memang Keputusan yang paling tepat bagiku.
Ini adalah momen paling berharga yang tak terlupakan, melepaskan rindu ketinggian. Udara dingin yang telah lama tak kurasakan membuatku meneteskan air mata. Aku menyeka air mata dan segera mendirikan tenda dengan cepat, Angga membantuku dengan semampunya. Begitu selesai kami segera masuk dan beristirahat karena luar biasa dingin. Kondisi Angga sudah mulai membuatku cemas.
Selasa, 30 Juni 2026, Alhamdulillah Angga baik-baik saja sampai pagi datang. Tidak tega melihat kondisi Angga semalam aku merekomendasikan untuk tidak summit. “Aku hanya kedinginan semalam, sudah sejauh ini juga, lanjut saja,” katanya. Sebagai fasilitator perjalanan privat, memastikan kesiapan fisik dan mental adalah bagian dari profesionalitas. Setelah bernegosiasi cukup lama keputusannya adalah berangkat setelah sarapan dan sekalian menentukan jam untuk turun.
Setelah pendakian ini aku ingin mencurahkan ide-ide khayalanku dalam bentuk tulisan. Melihat banyak fenomena dalam dunia pendakian membuatku berpikir cukup keras, tidak bisa diam saja. Perjalanan ini mendorong hasrat untuk melanjutkan gagasanku tentang dunia pendakian. Mendaki gunung bukan sekadar melepas kerinduan, tetapi juga pelajaran hidup. Harapanku adalah bisa menyelesaikan karya yang selama ini masih dalam file Microsoft Word.
메타데이터
- post_id
- 6ec30d101210
- slug
- rindu-ketinggian-6ec30d101210
- url
- https://medium.com/@ahmadibnusyaban/rindu-ketinggian-6ec30d101210
- canonical_url
- https://medium.com/@ahmadibnusyaban/rindu-ketinggian-6ec30d101210
- author_url
- https://medium.com/@ahmadibnusyaban
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-09-10 08:41:38