Semoga Aku Manusia Baik & Menyenangkan Itu.
Artefak 2006.
Semoga Aku Manusia Baik & Menyenangkan Itu.

Artefak 2006.
Jikalau esok gelap gulita menyelimuti, dan makhluk suci mulai menanyakan siapa Tuhanku, aku sedikit penasaran: siapa manusia yang akan menangis paling lama di rumah kontrakanku yang baru?
Akankah ada manusia yang datang kembali di sela liburan mingguan hanya untuk sekadar mengenang dan berdoa untukku?
Apakah itu Ibu dan Ayahku? Karena mereka rindu menggerutu saat aku ikut tidur di kamar mereka hanya karena kamarku mulai terasa panas.
Apakah teman-temanku? Karena kita pernah berjanji akan berteman selamanya, meski kami saling berada jauh di luar radar.
Apakah mungkin perempuan yang aku cintai? Karena ia telah mengaku mencintaiku lewat simbol metal yang dikirimnya bulan lalu.
Atau mungkin mantan pacarku? Meski ia sering kali menyumpahiku agar cepat mati—karena baginya itu lebih baik dibanding melihatku bersama wanita lain.
Dan kemungkinan yang paling menyedihkan: tidak ada sama sekali yang berprilaku seperti itu. Karena diriku hanyalah pria biasa yang kebetulan diberi kacamata, tepat seperti apa yang dikatakan oleh manusia yang membenciku.
Fyuuh— Aku harap kemungkinan yang terakhir ini tidak terjadi. Akan terasa sangat menyedihkan, bukan? Jika hanya menjalani kehidupan seperti Peter Parker, namun tidak pernah dikenang seperti Spider-Man.
Namun, jikalau memang harus seperti itu, aku tidak akan keberatan dengan itu. Karna itu hanya terlihat menyedihkan, bukan menyakitkan.
Sebab aku berharap, saat aku tidur menghadap kiblat meski sudah tak lagi wajib melaksanakan sholat, manusia yang aku sayang dan cintai—atau bahkan manusia yang hanya mengingat wajahku meski sudah lupa namaku—mengenangku sebagai manusia baik dan menyenangkan itu.
Senang rasanya jika manusia lain mewajarkan kembalinya diriku yang mulai menjadi pupuk.
"Kau tahu dia? Ia sekarang sudah berpulang!"
"Oh ya, aku tahu. Sayang sekali, sangat menyenangkan saat ada dirinya. Tapi itu wajar, orang baik memang selalu lebih cepat dipanggil Sang Agung. Mungkin Ia sudah rindu."
Meski aku harap bukan esok yang kini, namun jika kini aku sudah di kenal seperti itu, aku rela pergi sekarang juga.
Dan semoga manusia yang telah kuberi luka—baik oleh ayunan tali acak yang tak sengaja mengenainya karena suasana hatiku sedang buruk, atau anak panah yang sengaja kuarahkan padanya hanya karena iri dan cara pikirnya tak sejalan denganku—mereka semua memaafkan.
Memaafkan karena paham bahwa diriku juga hanyalah insan terbatas, yang tak luput dari benci dan dendam.
Rest in peace untuk diriku.
Aku harap, aku adalah manusia baik dan menyenangkan itu.
(jangan terlalu di sedih sedih kan, jangan terlalu di ini ini kan.)
메타데이터
- post_id
- 6ef5c4ada78b
- slug
- semoga-aku-manusia-baik-menyenangkan-itu-6ef5c4ada78b
- url
- https://medium.com/@naaash/semoga-aku-manusia-baik-menyenangkan-itu-6ef5c4ada78b
- canonical_url
- https://medium.com/@naaash/semoga-aku-manusia-baik-menyenangkan-itu-6ef5c4ada78b
- author_url
- https://medium.com/@naaash
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-21 14:56:19