Teh Hijau dan Batas Bahasa atas Kehampaan
Catatan Kecil dari Sebuah Lagu Tulus
Teh Hijau dan Batas Bahasa atas Kehampaan
Catatan Kecil dari Sebuah Lagu Tulus
Foto oleh Laårk Boshoff di Unsplash
Tulus baru saja merilis “Teh Hijau”, single pertamanya setelah empat tahun absen sejak album Manusia. Lagu ini langsung ramai diperbincangkan, bukan karena melodinya yang riang, tapi karena liriknya yang menampar pelan. Ada seseorang dalam lagu ini yang kehilangan rasa senang, mencoba berbagai saran dari orang sekitarnya, dan tetap saja tidak menemukan jalan keluar.
[embed]
Bila dibaca lewat kacamata semiotika Saussure, lagu ini sebenarnya sedang berjuang melawan keterbatasan bahasa itu sendiri dalam menjelaskan apa yang dialami pikiran yang sedang sakit.
Saussure mengajarkan bahwa tanda terdiri dari penanda, yaitu bentuk yang kita dengar atau baca, dan petanda, yaitu konsep yang muncul di benak kita saat mendengarnya. Hubungan keduanya bersifat arbitrer, tidak ada alasan alami kenapa bunyi tertentu mewakili makna tertentu, semua disepakati lewat konvensi sosial.
Yang menarik dari “Teh Hijau” adalah bagaimana penanda-penanda di dalamnya justru menunjukkan kegagalan konvensi itu bekerja. Tokoh dalam lagu mendengar saran demi saran, lebih sering keluar ke alam, mencari hal baru, membaca buku, tapi semua penanda solusi itu tidak kunjung menghasilkan petanda yang dicari, yaitu rasa senang. Penanda dan petanda seolah terputus.
Judul lagu sendiri adalah contoh tanda yang menarik untuk dibedah. Teh hijau, sebagai penanda, secara konvensional berasosiasi dengan ketenangan, ritual jeda, sesuatu yang hangat dan menenangkan dalam budaya keseharian kita.
Tapi dalam liriknya, Tulus menulis “kulihat mana di kendaliku, teh hijau ini yang di tanganku”. Di sini teh hijau berubah jadi penanda untuk sesuatu yang jauh lebih spesifik dan personal, yaitu satu-satunya hal kecil yang masih bisa dikendalikan ketika segalanya terasa di luar kendali. Petanda yang muncul bukan lagi “minuman yang menenangkan” secara umum, tapi “pegangan kecil di tengah kehilangan kendali atas diri sendiri”.
Pergeseran makna seperti ini adalah inti dari bagaimana tanda bekerja, maknanya tidak tetap, ia dibentuk ulang oleh konteks penuturnya.
Hal serupa terjadi pada metafora “benteng” di verse pertama. Secara umum benteng adalah penanda untuk perlindungan, sesuatu yang kokoh dan aman. Tapi dalam lagu ini benteng justru jadi sesuatu yang harus ditinggalkan, “keluar dari benteng, dari tempatmu yang sekarang”.
Konotasi protektif yang biasanya melekat pada kata benteng dibalik jadi konotasi tentang stagnasi dan keterkungkungan. Ini menunjukkan bahwa makna sebuah tanda memang tidak pernah berdiri sendiri, ia selalu bergantung pada sistem perbedaan dengan tanda-tanda lain di sekitarnya, dan dalam lagu ini sistem itu sengaja dibalik untuk menggambarkan betapa membingungkannya kondisi yang sedang dialami si tokoh.
Yang paling menarik secara semiotik justru ada di bagian chorus, ketika tokoh berkata “mungkin aku sedang tak bisa, tak bisa jatuh cinta, membuka hati ‘tuk apa pun, siapa pun”. Kata “mungkin” yang terus diulang menunjukkan sesuatu yang dalam psikologi sering disebut ***anhedonia***, hilangnya kemampuan merasakan kesenangan atau keterikatan emosional, salah satu gejala inti dari depresi.
Tapi yang penting digarisbawahi, lagu ini sama sekali tidak pernah menyebut kata depresi. Tidak ada satu pun penanda klinis di sini. Justru ketiadaan itulah yang menjadi tanda paling jujur, sebab begitu juga cara kebanyakan orang mengalami gangguan suasana hati dalam keseharian, tanpa kosakata medis, hanya lewat rasa “mungkin aku sedang tak bisa” yang sulit dijelaskan bahkan pada diri sendiri.
Ini yang membuat “Teh Hijau” terasa berbeda dari lagu-lagu bertema kesehatan mental kebanyakan, yang sering terjebak menjelaskan secara gamblang lewat diksi-diksi seperti luka, gelap, atau hancur. Tulus memilih jalan memutar, membiarkan penanda-penanda keseharian seperti secangkir teh, buku baru, atau jalan-jalan ke alam menjadi medan pertarungan makna.
Pendengar dipaksa merasakan jarak antara solusi yang ditawarkan dunia luar dan kekosongan yang dirasakan dari dalam, persis seperti yang dialami banyak orang ketika diberi saran “coba olahraga” atau “coba healing ke alam” padahal yang dibutuhkan bisa jadi jauh lebih dalam dari itu.
Pada akhirnya lagu ini tidak menawarkan jawaban pasti, hanya kalimat penutup “esok akan lebih elok” yang menjadi satu-satunya penanda harapan yang tersisa. Dan mungkin di situ letak kejujuran terbesarnya.
Sebagaimana bahasa selalu punya batas dalam menjelaskan pengalaman batin yang paling personal, Tulus tidak berusaha menutup kesenjangan itu dengan jawaban instan.
Ia membiarkan pendengarnya menyelesaikan sendiri makna apa yang paling pas dengan keadaannya masing-masing, dan barangkali itulah kekuatan sebuah tanda, ia selalu terbuka untuk dimaknai ulang oleh siapa pun yang mendengarnya.
Catatan: lagu ini menyentuh tema kehampaan emosional dan kesulitan menemukan rasa senang, yang bisa jadi pengalaman berat bagi sebagian pendengar. Bila kamu merasa pengalaman serupa berlangsung lama atau mengganggu keseharian, ada baiknya berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental.
메타데이터
- post_id
- 6fa490cc8db9
- slug
- teh-hijau-dan-batas-bahasa-atas-kehampaan-6fa490cc8db9
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/teh-hijau-dan-batas-bahasa-atas-kehampaan-6fa490cc8db9
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/teh-hijau-dan-batas-bahasa-atas-kehampaan-6fa490cc8db9
- author_url
- https://medium.com/@panjiakbar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 09:01:30