Tanah Pulang Perantau
Dikisahkan, Alkisah, Berkisah

Tanah Pulang Perantau.
Tanah Pulang Perantau
Dikisahkan, Alkisah, Berkisah
Di kota dengan segala kecukupan.
Di kota dengan segala lekuk.
Di kota dengan segala bentuk setan.
Di kota dengan segala carut-marut.
Kisah ini berawal, di pinggiran kumuh yang berkabung dari segala ingar dan bingar.
Berdiri sebuah gedung kos beton 3 lantai, 24 bilik mungil, 5 jendela, 2 kamar mandi.
Penghuninya cuma 20 orang, 4 hilang, 2 nunggak. Mayoritas mahasiswa, utusan dari berbagai orang tua dan harapan. Sebuah lembah kebebasan bagi mahasiswa. Disini dosa sengaja coba disembunyikan dari tuhan, disini mimpi dirancang dan diruntuhkan, disini mereka tinggal hanya berbagi atap.
Sebuah kisah 2 orang sahabat. Ujang dan Bandu, sama-sama merantau, bertemu dan kenal di sanggar seni kota rantauannya. Tak menduga, ternyata dari tanah lahir sama! Jadilah mereka sahabat rantau, saudara satu tanah.
5 tahun mereka mendaging dengan kota asing, apa yang masih mereka lakukan dsini?
Awalnya menimba ilmu, namun terjatuh-tersibuk-terpikat oleh kota swalayan, menyibukkan diri dalam seni namun enggan dianggap seniman, rendah hati kata mereka.
DOK! DOK! DOK!
"Bandu! Banduu! Kau kata mau pulang? Ayo pulang! kita pulang ke rumah! Kita tinggalkan kota setan ini! Ayo pulang!"
Ujang menggedor-gedor pintu kos sahabatnya layak pak Kades menagih janji.
"Bandu! aihh!.. OYY! Bangun! Surya sudah meleset ubun, lupa kah kau janji mabuk kemarin malam?! Ayo pulang!"
GUBRAK!
Pintu kayu jadi-jadian kos murah itu tak mampu menahan emosi anak muda. Runtuh sudah si pintu. Namun aneh, si pemilik kamar tak tersentak sama sekali.
"Oii Bandu! Bangun kawan! Mati kah?! ooiii!!!"
PLAK!
Si pemilik kamar tak menjawab, maupun menggubris tamparan yang diberikan kawannya ini. Tenang mukanya ahh... sungguh damai.
"Mati kah kau kawan?... Berani kau Mati di tanah haram ini Ndu?!!..”
Ujang mengguncang-guncang kencang kawannya ini.
Ujang coba pencet hidung bengkok Bandu.
… 1 … 2 … 3 … 4 …
Sudah tak lagi butuh napas rupanya..
Mata Ujang merujuk nanar, seolah tak percaya, kawannya tergelepar di kasur tipis tak bernafas. Bandu memang selalu kurus, sekarang tambah kusut, seperti ikan tak laku sudah menjelang siang.
“Mati kau kawan?… Mati?.. Ya Gustii…” Ujang meremas kepalanya,
“Kata.. Kata ingin kau pinang putri tunggal Kyai di langgar dusun Kelor? Kata kau ingin menggarap lagi tanah yang tinggal sepetak tak sampai, milik pak likmu itu?! Ingat? Untuk apa kau mati sekarang kawan..."
Bandu mati, meninggal sopan, berat jiwa sudah lepas dari raga.
Ujang sontak tegak berdiri!
"Tak kubiarkan!” Mengepal tangan kiri Ujang, diacungkan keatas!
“Tak kubiarkan kau dikubur di tanah haram ini kawan! Tak ada yang akan mengurusmu! Tak ikhlas gali kubur-nya! Mahal liang-nya! Picik penjual kijing-nya! Kikir penjaga-nya! Mau kau dikubur disini hah?!"
Ujang menunjuk tegas pada jasad sahabatnya ini.
"Ayo pulang! Aku berjanji! akan ku-kuburkan dirimu di tanah gembur itu, di kuburan desa kawanku! biar kau ditemani mereka yang kenal wajahmu, ketimbang satu komplek kubur bersama para orang kota cuih! Tak ada yang benar bajik pada kita di kota setan ini dan untuk apa berdamai di alam kubur!?"
Liang kubur harus bayar warasnya, mati pun butuh material, mati itu tak murah.
"Akan Ku panggul tubuhmu sampai ke tanah nostalgic kuning kita! ayo!"
Si sahabat mulai menggendong, ia bangkitkan tubuh Bandu naik dari kasur. Aihh sungguh ringan badan kawannya ini, tak berisi nasi ataupun obat maag, jatuh sebungkus rokok dari tubuh si kawan.
"Eehh masih ada rokokmu kawan? Tak mungkin lagi kau hisap bukan? boleh kan buatku? ahh bolehlah bolehlah!"
Diambil bungkus rokok itu
"Yasudah, satu rokok lalu cabut, oke!?"
Setelah merokok, keluar dua sahabat itu dari kamar, menuju terminal.
"Sampai di terminal kawanku! aihh ringan sekali tubuhmu! lebih berat tas selempang isi lumpang ketimbang dirimu! Ahh ayolah kita beli tiket untuk pulang!"
Si sahabat menghampiri penjual tiket
"Pak cik! orang mati bayar kah? tak perlu kan??"
"2 tiket ya mas." Kata pak kondektur.
"Aihhh... Bayar juga ternyata... Yasudah, 2 tiket menuju pulang!"
Orang matipun harus bayar tiket pulang, masih dihitung hidup! Walau tak berjiwa namun masih punya tubuh, ragalah yang penting! hanya ragalah yang selalu dihitung.
"Kita duduk dibelakang kawan! Tak pantas orang seperti kita duduk di garda depan! Malu sama singlet!"
Duduk mereka di kursi paling belakang. Ujang menyenderkan kawannya di pojok biar tak oleng digoyang supir.
"Ahhh nikmati perjalanan kawan! Pandang jendela! Nikmati bus terakhir kita! Tak perlu lagi bus di rumah kita nanti!"
Pulang dua sahabat itu, keluar dari kota rantau. Bis melaju kencang kejar setor. Si supir keluar tabiatnya! Layak mengendarai sedan! Lupa busnya lebih besar dari ferari lambo, lupa di belakangnya ia membawa berbagai penumpang bermimpi dan bercita, sang kondektur duduk bercermin mengatur wajah ganteng dengan kacamata hitam, aihh inilah bus tipikal harga merakyat.
"Mas mas, sudah sampai terminal terakhir, turun, turun!"
Diguncang tubuh Ujang oleh kondektur.
"Eh?! Sudah sampai kang?"
Ujang terbangun kaget, Pak kondektur tidak menjawab hanya mengisyaratkan tangan pada dua orang penumpangnya ini untuk segera mungkin turun dari bus.
"Tak terasa aku, lelap ternyata tidur di bus ketimbang di kos! Ayo kawan, masih kilo perjalanan kita dari terminal!"
Sampai juga dua sahabat itu di tanah rumah, hari sudah oranye. Para tonggeret berdesas-desus, tanahnya menggelar gersang. Sepoi angin bersiul dingin. Desa masih sedikit jauh, masih harus jalan, masih harus usaha.
Si sahabat berjalan, jauh, menggendong ransel bernama kawannya, menggantung tas selempang yang talinya putus-sambung 3 kali.
"Tenang kawan.. kita segera sampai.. segera.."
Ujang terengah-engah. Berkunang matanya belum makan dari kemarin, semalam hanya diisi air keras pula, mana bisa jadi tenaga jalan?
Remang-remang, sore sudah mau selesai dialognya.
Sayup-sayup, di depan ada warung mulai nyala lampunya.
"Warung! Ya tuhan.. aku hampir pingsan.. Kawan.. ijinkan aku mengemis air di warung depan! istirahat sejenak.. sebatang dua batang.. lalu jalan lagi."
Ujang berjalan terseok, sampai di warung makan kecil, dijajakan oleh seorang ibu lewat baya.
"Bu! Bu lik! Saya.. Minta air boleh bu? tak punya uang saya.." ujar Ujang memelas.
"Hmph! Yasudah.. sana duduk dulu."
Logat Ujang memang terdengar aneh, si ibu penjaga warung malas berfikir, mungkin saja perantau dari kota yang ingin main ke desa. Namun jangan salah, logat aneh Ujang ini adalah bukti keberhasilan, dari hasilnya mendaging dengan kota rantau.
Ujang mendudukan Bandu disampingnya, ia tata duduk kawannya seperti tidur bersandar tangan-
Pluk!
Jatuh dompet Bandu
"Eh! dompet kau jatuh kawan!"
Ujang mengambilnya, melirik kanan kiri. Ia buka dompet kawannya! Temu selembar uang biru-
"Bu lik! Airnya tak jadi! Aku mau makan saja! Nasi goreng pakai telor sama paha ayam! Nasinya double! Minumnya es jeruk!" Ujang kegirangan.
"Lah! Loh? tadi bilangnya tak punya uang? Jangan nipu saya ya kamu!" Ibu penjaga warung sudah siap mau antar air padahal.
"Tidak bohong bu lik! Kawan saya yang bayari! Nih uangnya!" Ujang pamerkan selembar biru.
"Hem! yasudah, tunggu sebentar!"
Ibu penjaga warung nyalakan kompornya.
Sreng! Sreng! Sreng!
Wajan menggoreng, bau harum semerbak membuat telan ludah.
"Terima kasih kawan! Maaf aku memakai uangmu tanpa izin.. tapi kalau aku tak bisa jalan, mana bisa sampai rumah? Setuju kan kau?"
Ujang menepuk-nepuk pundak Bandu.
...
Makan sudah saji, Ujang melahap rakus kegirangan, hampir leleh air matanya. Enak, lezat, sedap. Makan tanpa pikir harga memang luar biasa.
Ujang makan cepat seperti tamtama, ia bersihkan piringnya tak bersisa satupun butir nasi. Ujang makan pula tulang ayamnya! Toh tak ada yang tau barokah dimana.
Glek! Glek! Glek!
3 teguk, es jeruk langsung habis.
"Alhamdulillah..."
Terima kasih tuhan maha adil.
Sebatang rokok habis, membayar, lalu pamit lanjut jalan.
Ujang berjalan dengan riang, perut sudah penuh, tenaga sudah ada.
Berjalan dan berjalan, mendaki sedikit menuju desa di lereng gunung. Malam sudah datang ketika mereka sampai di pekarangan, jalan-jalan kecilnya diterangi lampu-lampu minyak yang jarang-jarang.
Ujang berlari kecil, ia ingat akan pak Solihin kawan ayahanda, tak pikir panjang ia hampiri rumah pak Solihin.
Dok! Dok! Dok!
"Pak Solih! Pak cik Solih! Ini Ujang pak!"
.
Ujang siapa to buk?
Ngga tau pak, coba buka saja dulu..
Suara lirih dari dalam rumah, pintu kayu yang sudah kusam dibuka sedikit dengan ragu.
"Siapa?" Pak Solih hanya pakai sarung, tak pakai peci ataupun baju.
"Ini Ujang pak! Kok lupa sama saya? Ujang pak!"
"Ujang tu siapa? Maaf njeh, Saya ndak kenal masnya," Pintu mau buru-buru ditutup,
"Ujang pak! Ujang! Anaknya pak dalang Ranggi!"
Dahi pak Solih mengkerut.. "Dalang Ranggi... dalang..Owalah! Iyo! Kamu Cepot to? Cepot?!" Sontak pintu kayu dibuka lebar!
Dahi Ujang ganti mengkerut.. "Cepot? Aku ni Ujang! Ujang Said Bin Mararanggi!"
"Lhaiya anaknya dalang Ranggi ya Cepot namanya! Cepot bukan?"
"Yasudah sembarang-sembarang! Ya saya Cepot sudah! hishh!"
Ujang kesal, warga desa lupa nama Ujang.
"Ketimbang itu, saya mau tanya pak, kenal anak ini tidak? Bandu namanya! Katanya anaknya pak Parman! Parman Khotib katanya!"
Pak Solih memperhatikan Bandu yang kaku digendong.
"Ini siapa lagi.. Parman? Khotib? Bentar-bentar"-
Pak solih memalingkan wajah
"Bu! Bu! Kenal pak Parman?"
Dari balik tirai ruang tengah, si ibu agak meninggikan suaranya menjawab,
"Parman siapa? Parman disini 3, Suparman 2, Soeparman 1!"
"Hadoh.. ndak tau bu! Yang putrane namanya Bandu ada? Parman Khotib ada?"
"Bandu? Khotib? ndak ada!"
"Tuh! ibu bilang ngga ada, ya berarti ndak ada!" Pak Solih tersenyum menyilangkan tangan dengan bangga.
"Astagfir.." Ujang mengusap muka, "Sudah-sudah! Aku mau cari pak Parman sendiri! Sahabat saya ini bilang dia besar di desa ini! Punya sawah sendiri! Punya sapi 3 turunan!"
"Lha kalo itu ya saya juga punya pot"-
"HASSSALAMEKUM!" Ujang pergi dengan kesal.
Lepas dari situ, diterangi remag-remang bulan dan lampu-lampu minyak, Ujang sambangi rumah ke rumah mencari Parman yang beranak Bandu.
Ia tanyai masing-masing tokoh-tokoh yang ia kenal di tiap dusun, tak ada yang kenal. Bahkan mereka-pun tak kenal Ujang. Di dusun timur ia dikira Andi, di selatan dipanggil Gareng, di timur Hadi. Ujang pusing berkunang hampir lupa diri.
Pada kebingunan ini Ujang memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya. Dalam benak, Ujang berkecamuk. Ada rasa ragu yang amat besar untuk menyambangi rumah. Tapi ia tepis dulu ragu yang belum jadi bulat sempurna. Sekarang kawannya butuh ia, pulang dulu, bicara sama orang tua.
…
Sampai Ujang di halaman rumahnya yang sangat ia kenal. Tak ada waktu ber-nostalgic dulu! Ujang harus hadapi bapaknya dan menjelaskan kondisinya sekarang..
Di Rumahnya tak ada satu lampu-pun menyala, kandang sapi disampingnya juga tak ada. Ini cukup aneh, Ujang mengetuk pintu rumah
Tok Tok Tok..
“Assalamualaikum.. Romo.. In- Ini Ujang Romo..”
Tok Tok Tok..
“Romo.. Assalamualaikum?..”
Tak ada yang menjawab ketukan pintu. Ujang jadi bingung. Ia mulai bertanya-tanya. Entah karena lelah, entah karena migrainnya kambuh.
Ini rumahnya kan? Desanya kan? Tanahnya kan? Masih warisnya kan?
Tok..Tok..Tok..
“Assalamuaikum..”
Ia coba ketuk dan salam lagi. Kata orang, tak menjawab salam pada usaha ketiga itu dosa kan?
Hening …
Ujang tak hilang akal, masing-masing celah masuk di Rumah itu ia ketuk dan salami 3 kali. Jendela-jendela, pintu belakang, pintu samping, ia putari rumahnya 3 kali.
Masih hening..
Tak ada jawaban. Kalau memang di rumah tak ada orang, maka tak ada yang perlu dosa. Alhamdulillah..
Ujang kelelahan, ia putuskan mengistirahatkan badan di dinding luar rumahnya. Ia usap keringat mukanya.
“Aneh.. Semua ini aneh Kawan.. Desa kita, kenapa jadi terasa asing?”
“Aneh.. Aneh-Aneh.. Hadohh.. Pulang rumah kosong, Warga desa pada tak kenal nama asliku, sudah setipis itu kah plat namaku di Desa ini?”
Kepala Bandu bersandar santun di pundak Ujang, punggung mereka ditopang dinding bata.
"Dan yang tambah aneh lagi, ngga ada satupun yang kenal kau kawan.. Aneh.. Parman memang seperti Yohannes dan Muhammad! Pasaran! Tapi tak ada yang kenal kau? di tanah lahir sendiri? Aneh! Aneh!!"
Ujang menggaruk-garuk kepalanya kesal!
"Rokok! Aku butuh rokok.."
Ujang merokok gelisah, memutar otaknya berkali-kali.
Nihil tak temu akal. Mungkin hilang, mungkin habis.
"Kawan.. kucari-cari di desa ini, tak ada orang bernama Parman Khotib! Seperti tak pernah ada! Tak ada yang kenal Bandu Gholib Bin Parman Khotib Binti Munaroh!"
Ujang kembali garuk-garuk habis kepalanya.
“Bandu.. kawanku.. sahabatku.. maaf ini mungkin lancang untukku, tapi ada satu tawaran dariku..” Ujang bergetar berkata-kata, “Apakah sudi dirimu kukubur sendiri? Aku.. aku kasihan akan jasadmu kawan, sekarang mungkin kaku tapi lepas fajar nanti ketika dagingmu terkena surya aku tak mampu membayangkannya..”
“Maaf kawan maaf..” Air mata Ujang menetes halus, “Aku tau ini bukan hakku kawan, aku tau aku tau.. harusnya dirimu bisa bertemu sama keluarga, harusnya pulangmu ke hadapan pencipta ditangisi sanak saudara, kita sudah pulang kan? Sudah di tanah lahir kan? Ya tuhan..”
“HAH! Sudah! Sudah.. tak ada gunanya menangis, kita sudah belajar itu kan di perantauan?! Benar kan Ban?”
“Sudah, bulat tekadku! aku akan mengubur dirimu kawan, doa-doanya nanti aku cari di gawai!”
Deklarasi, Ujang membulatkan tekad lewat ucapannya.
Ujang sontak berdiri, mencari-cari parang dan juga sekop panjang tua yang selalu ada di rumah-rumah desa manapun. Ujang robek spanduk ormas berbahan kain yang menutupi kandang sapi yang akan ia gunakan sebagai pengganti kafan bagi kawannya. Tak lupa, ujang robohkan salah satu pohon bisang yang berjejer, ia potong-potong batangnya selebar tubuh.
Setelah semua perangkat berjejer, Ujang menggendong Bandu menuju sumur.
Bandu ia tidurkan pada potongan-potongan pohon pisang, debog mungkin nama yang lebih familiar. Ujang ijin pada kawannya ini untuk melucuti pakaian terakhirnya. Mulai Ujang mandikan jasad kawannya ini dengan air sumur yang segar.
Selesai itu, Ujang kafani Bandu dengan kain yang pastinya bukan berwarna putih. Tak apa, tak bisa pilih-pilih, biar nanti di alam sana diberikan baju yang lebih pantas.
Ujang mulai menggali. Kedalamannya? Menurut ajaran agamanya, kedalaman lubang kubur itu mestinya setinggi orang yang berdiri di dalam dengan tangan melambai ke atas.
Maka Ujang tak berhenti menggali hingga badannya sendiri bisa tertimbun. Pengalamannya menggali kubur hanyalah mengubur hamster peliharaan di tanah rantau, tentu kali ini harus ada improvisasi dan pengeluaran tenaga yang berkali-kali lebih banyak. Berpegang tekad sekeras ujung sekop, Ujang tak menyerah menggali, ia berusaha buat se-geometris mungkin. Rumah terakhir bagi sahabatnya, dibuat dari tangannya sendiri.
Kiranya, menggali kubur adalah insting dan keahlian yang harusnya dimiliki alamiah bagi manusia.
Bandu yang sudah rapi lengkap dikafani, menunggu, tidur dengan sopan, menunggu lahatnya jadi untuk dihuni.
Malam tinggal 1/4
Ujang merangkak naik dari lubang kubur yang ia gali sendiri. Sempoyongan, setengah sadar, untung saja hari ini sudah makan.
Ujang membalikkan badannya, mengistirahatkan punggung menatap langit, ngos-ngosan hampir mendesis kesusahan bernapas. Sekujur tubuhnya berkucur keringat.
“Hahh..hahh..hah… ya gusti.. ya maha.. hormatku yang paling tinggi bagi mereka para penggali kubur! Hahh…hahh…”
.
.
.
Hampir saja Ujang tertidur kelelahan!
Ia sontak bangun, hampir tak ada tenaga membopong Bandu, sedikit lagi, sedikit lagi kawaannya ini bisa istirahat tenang..
Saat Ujang sibuk berusaha mengangkat kawaannya, terdengar suara sayup-sayup suara dari jalan-jalan desa, ada obor menyala-nyala. Arahnya menuju dua sahabat ini. Semakin dekat, semakin dekat..!
Mulai bisa terdengar desas dan desus, mulai ada yang menyulut semangat jalan kerumunan itu makin cepat. Mungkin mereka melihat gundukan tanah! Mata orang-orang desa memang selalu awas, selalu lebih bisa memandang luas karena tidak dibatasi oleh gedung-gedung tinggi.
“Siapa mereka kawan?.. Sudah mau subuh kah?”
Lā ilāha illa l-Lāh…
Lā ilāha illa l-Lāh..
Mana bajingan tadi!
Lā ilāha illa l-Lāh
Lā ilāha illa l-Lāh
Setan! Dimana begundal tadi!
Lā ilāha illa l-Lāh
Lā ilāha illa l-Lāh
Nama yang maha agung disebut-sebut sepanjang gerombolan berjalan, diselipi umpatan sayangnya. Dada Ujang bergetar muncul sebuah tanya yang tak berani dijawab sendiri, Apa mereka datang akan menyalami?.. atau menghakimi?
“Kawan! Ayo cepat kawan, aku yakin mereka bukan peziarah! Aku yakin mereka korban dari kenyataan palsu mereka! Ayo kawan!”
Ujang terburu! Mengerahkan seluruh tenaganya untuk memasukkan Bandu ke liang kubur! Ia dikejar waktu, ia ketakutan atas kesimpulan yang ia buat sendiri. Sudah biar para penduduk yang menyelesaikan pekerjaan terakhirnya!
Ujang turun di liang kubur, ia tidurkan kawannya disana, ia bisikkan istirja pada jasad Bandu,
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un! Istirahat yang tenang kawan! Assalamualaikum!”
Ujang buru-buru merangkak keluar lahat!-
DUAK!
Muka Ujang ditendang oleh salah satu warga desa! Terjatuh Ujang beralas Bandu.
“Astaghfirullah!!!!” Teriak salah satu dari kerumunan yang sekarang mengelilingi liang lahat!
Obor ada di tiap-tiap sudut, Ujang menatapi tiap-tiap muka warga dengan hidup berdarah.
Astaghfir! Ya Allah!
Pembunuh! AAAHHH Pembunuh!!!
Masing-masing dari kerumunan sekarang nampak wajah bengisnya! Mereka menatapi Ujang!
“Saudara-saudari sekalian! Tenang Dulu! Mohon-”
Prok!.. Prok!Prok!Prok!Prok!Prok!Prok!
Ujang dilempari Batu! Dirajam tanpa diberitahu dosanya!
“Saudara!-”
Prok!
“Saya Hadi!”
Prok!
“Saya Gareng!”
Prok!
“Saya An..Andi!”
Prok!
“Saya..Ceeepooot..!”
Prok!
“SAYA UJANG! UJAAANGG ANAK DESA SINI!!!”
PROK!
Batu terakhir dilempar sekuat tenaga amarah, tepat sasaran kena dahi! Ujang langsung terkapar, jiwa dari raganya dilepas paksa. Dengan hilang sadarnya Ujang, para Warga sontak bergidik diam, mendesas dan mendesus lagi.
…
Lagi, dari jalan desa, ada seseorang dengan baju serba putih, lari tergopoh-gopoh menghampiri kerumuman warga, tokoh itu adalah pak ustadz!
“Astagfirullah ya allah Gusti!” Teriak-teriak pak ustadz panik berusaha menyingkirkan warga, menonton apa siapa yang para warga maki dan rajam di lahat kubur.
“Gimana ni pak ustadz??” ujar salah satu warga.
“Lha kok tanya saya!? Ya allahh ya robb.. gusti maha pengampun!”
Pak Ustadz berdoa, berzikir, membiarkan para warga berdesas-desus
Gimana ni?
Gimana tu?
Siapa tadi yang mulai?
Gimana ni?
Di tengah kecap-kecap bibir warga, tiba-tiba muncul 1 orang lagi, pria jangkung dengan baju batik dan peci hitam sewarna dengan celana.
Pak Kades!
Kata para warga desa!
Pak Kades ternyata datang pula
Sontak kerumunan warga membuka, membuat panggung untuk tokoh terhormat.
“Sudah sudah.. saya sudah tau semuanya, saudara-saudari jangan panik.” Kata pak Kades tenang dengan senyum termanis yang memenangkan hati istri ketiganya 4 bulan lalu.
Air muka kerumunan warga berubah tenang, mulai ada yang tersenyum bahkan! Pak Kades sudah datang dan berucap, semua pasti baik-baik saja.
“Sudah, sekarang saudara-saudari kita selesaikan apa yang belum selesai ini, mari pak Ustadz harusnya yang paling tau, walaupun mungkin 2 orang ini bukan warga sini tentu tak ada salahnya mendapatkan keramahtamahan warga sini, bukan begitu?”
Betul pak kades!
Seru warga-warga, Pak ustadz masih komat-kamit
“Nah kalau semua sudah setuju, mari! Dibagi tugas masing-masing persiapan penguburan yang layak, mereka kan juga manusia yang pastinya punya budi, betul kan ya?”
Betul pak!
Usai pidato pak Kades yang menggugah, langit mulai membiru tanda fajar. Para warga dengan cegatan bahu-membahu membagi tugas penguburan, mereka tentu sudah terbiasa. Bendera duka hanya dikibarkan di masjid desa.
Adzan subuh dikumandangkan.
Di tengah masjid itu telah dikafani putih 2 orang, diibadahkan untuk terakhir kalinya.
Para perantau akhirnya bisa dibilang pulang, sekarang akan menjadi satu dengan tanah lagi.
Sebuah akhir yang bahagia dimana 2 sahabat kini benar telah jadi karib setanah kubur.
메타데이터
- post_id
- 6fa96be5b7c6
- slug
- tanah-pulang-perantau-6fa96be5b7c6
- url
- https://medium.com/@monyetmerah/tanah-pulang-perantau-6fa96be5b7c6
- canonical_url
- https://medium.com/@monyetmerah/tanah-pulang-perantau-6fa96be5b7c6
- author_url
- https://medium.com/@monyetmerah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-16 18:18:54