Jangan Bilang Siapa-Siapa
Jangan bilang siapa-siapa, hari ini aku libur kerja. Seharian tadi hanya rebah sembari menggulung layar yang menampilkan berbagai video…
Jangan Bilang Siapa-Siapa
Jangan bilang siapa-siapa, hari ini aku libur kerja. Seharian tadi hanya rebah sembari menggulung layar yang menampilkan berbagai video hampir tanpa guna. Lalu waktu berjalan begitu cepatnya, tiba-tiba sudah sore saja.
Jangan bilang siapa-siapa, siang ini begitu panas, lalu aku berharap sorenya hujan deras, tapi ternyata sorenya cerah. Ya sudah, aku putuskan untuk ngopi sambil menggulung layar lagi. Hingga beberapa saat kemudian aku merasa bosan. Aku lantas membuka medium, lalu tertawa getir mengamati segelintir judul yang ada, target sehari satu tulisan tinggal angan-angan semata.
Ingatanku pun bergulir pada awal tahun, kala menyerat resolusi-resolusi, yang agaknya hanya berakhir sebagai sekadar tulisan. Di awal tahun, aku menargetkan diri belajar menyetir mobil. Memang tercapai, tapi hanya sempat belajar satu kali. Sebatas bisa menghidupkan, menggunakan rem tangan, dan maju mundur melatih pengereman. Sepertinya resolusi harus ditulis rinci, tidak hanya sebatas ‘ingin belajar menyetir mobil’, tapi ‘ingin bisa menyetir mobil dengan mumpuni’.
Jangan bilang siapa-siapa, tulisan seperti ini jika ditulis oleh AI, mungkin prompt-nya lebih panjang dari tulisan aslinya. AI mungkin cakap membuat kalimat, tapi soal rasa, sampai saat ini belum bisa diadu dengan tulisan manusia, terutama yang bersifat personal.
Jangan bilang siapa-siapa, bagiku AI sudah ada di era 90an, dalam wujud kalkulator. Dari yang sederhana sampai yang bisa menghitung trigonometri dan logaritma. Hasilnya, ada manusia-manusia yang terlena, hingga tak mampu menjawab perkalian dan pembagian sederhana tanpa bantuannya. Sekarang, ketika ‘kalkulator’ itu bisa membantu membuat kalimat, mengedit media audio-video, ada manusia yang kehilangan kata-kata, tidak tahu bagaimana berkata, lupa makna kata, hingga kehilangan etika.
Jangan bilang siapa-siapa, kalimat pamungkas sebelum menyampaikan suatu yang rahasia, atau kalimat terlarang lainnya. Lalu kalimat itu menyebar dengan prolog yang sama, ‘Jangan bilang siapa-siapa’.
Terakhir, jangan bilang siapa-siapa, orang Indonesia itu banyak yang pintar, hanya saja mereka dipaksa menjadi bodoh oleh pemerintah negara. Dipaksa percaya bahwa sawit pun juga pohon, yang bisa mengelola karbon dioksida sebagaimana hutan belantara. Dipaksa percaya bahwa kayu gelondongan itu bukan hasil dari penebangan hutan. Dipaksa percaya bahwa … ah sudahlah. Terlalu panjang nanti kalau bahas dosa negara, saya khawatir nanti jadi ditanya, “Apa kontribusimu untuk negara?” Mengingat seharian ini hanya menikmati liburan dengan rebahan.
Malang, 15 Desember 2025
메타데이터
- post_id
- 6fb647197bcd
- slug
- jangan-bilang-siapa-siapa-6fb647197bcd
- url
- https://medium.com/ceplok-telor/jangan-bilang-siapa-siapa-6fb647197bcd
- canonical_url
- https://medium.com/ceplok-telor/jangan-bilang-siapa-siapa-6fb647197bcd
- author_url
- https://medium.com/@secondgrind
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 08:43:41