← Back to list

Kelas yang Membosankan Bukanlah Sebuah Dosa

Overstimulation dan implikasinya dalam pembelajaran

Fiqry Thalib in Berbagi & Berdampak · 2026-02-16 05:29 · 90 claps · 3.3 min read
#berbagi-dan-berdampak #esai #membaca #critical-thinking #bosan
Open on Medium ↗
Wiki topics: HUM · Humanities · General

Kelas yang Membosankan Bukanlah Sebuah Dosa

Overstimulation dan implikasinya dalam pembelajaran

Photo by Fajar Herlambang STUDIO on Unsplash

Photo by Fajar Herlambang STUDIO on Unsplash

Jika kita bertanya kepada Amigdala, “Apa sih bosan itu?” Mungkin ia akan menjawab;

Bosan? Apaan tuh?! Jaman sekarang udah serba happy boss… Bosan dikit scrolling IG, bosan dikit scrolling TikTok, bosan dikit nonton Netflix. Tinggal gitu aja, hilang deh yang namanya bosan itu.”

Ya, memang hilang. Tapi dalam hitungan detik, bosan itu datang lagi. Begitu terus siklusnya sehingga otak menjadi semakin tidak terbiasa dengan kebosanan.

Stimulasi instan seperti scrolling medsos atau menonton Netflix untuk menghilangkan kebosanan itu menjadi obat yang jika tidak dikonsumsi sekali saja akan membuat otak mengirimkan sinyal kepada tubuh, menggerakkan saraf-saraf jari dan otot-otot tubuh untuk segera melakukan apa yang sudah menjadi kebiasaan.

Pada akhirnya, otak mengalami overstimulation.

Sebagai seorang pengajar, saya melihat fenomena ini menjadi sangat terlihat di dalam kelas.

Dalam beberapa kesempatan saya mengajar, saya memperkirakan fokus para murid rata-rata hanya bertahan selama 5–10 menit pertama pembelajaran. Selebihnya? Memainkan HP, tablet, atau ngobrol dengan teman-teman sebelahnya… sambil memainkan HP atau tablet mereka. Sudah jelas bahwa ini indikasi pembelajaran yang tidak appealing.

Sayangnya saya tidak bisa melarang mereka untuk menggunakan gawai selama pembelajaran berlangsung karena semua materi dan soal-soal latihan sudah berbasis digital. Sayangnya juga, ada hal yang mencegah saya menunjukkan sikap tegas.

Feedback adalah hidup dan mati seorang guru bimbel. Jika, apesnya, dengan menunjukkan sikap tegas kepada murid berujung membuat perasaan mereka tersinggung dan tidak nyaman, maka risikonya adalah mendapatkan feedback tidak ingin diajar lagi oleh saya. Ini ibaratkan seorang pengemudi ojek online yang mendapatkan bintang 1 dari customer.

Masalahnya adalah jika mereka harus berhadapan dengan soal-soal ujian tipe literasi kritis nantinya, maka ini menjadi penghalang yang cukup serius. Rentang perhatian yang hanya bertahan sekitar 8 detik tidak akan cukup memberikan pemahaman yang utuh terhadap sebuah teks yang memerlukan kemampuan dasar membaca dan menginterpretasikan.

Bukannya menyalahkan murid, namun bagaimana sistem membentuk karakter mereka menjadi demikian.

Sebagai seorang Gen Z, saya juga merasakan bagaimana dunia yang serba instan dan menyenangkan bisa membuat rasa bosan terasa tabu. Kita terbiasa dengan hiburan yang cepat dan mudah, sehingga kebosanan sering kali dianggap ‘dosa’. Alasan tersebut juga yang membuat kelas-kelas yang saya ajar senyaman dan sesantai mungkin.

Sebagai guru bahasa Inggris, selama kuliah saya biasa berlatih untuk membuat pembelajaran seinteraktif dan semenyenangkan mungkin, dengan permainan, interaksi antar siswa, konten presentasi yang sangat estetik di mata, dan gamifikasi menggunakan media digital. Semua itu dirancang untuk menjaga semangat siswa dan menghindari kebosanan yang bisa mengganggu proses belajar. Memang, pada situasi tertentu hal tersebut akan menjadi katalis bagi murid-murid saya untuk ikut serta dalam kelas.

Namun, saya melihat estetika dalam konten pembelajaran cenderung dapat mereduksi substansinya; siswa/i menjadi ingat betapa menariknya dan mengasyikannya sebuah materi alih-alih intisari ilmunya. Ketika datang saatnya pembelajaran harus menjadi lebih serius dan sarat dengan teks yang memerlukan konsentrasi, kebosanan pun datang.

Di sinilah saya mulai berpikir bahwa kebosanan bukanlah musuh yang harus dihindari, tetapi bagian dari proses belajar itu sendiri. Membaca dan berlatih berpikir kritis memang bisa terasa membosankan, tetapi justru dari kebosanan inilah kita bisa melatih kemampuan berpikir lebih komperehensif.

Oleh karena itu, saya kira kita perlu memberi ruang untuk kebosanan, karena kebosanan memberikan kesempatan bagi siswa untuk merenung dan berpikir lebih dalam tanpa gangguan eksternal.

Kembali ke cara lama sepertinya dapat membantu merealisasikan ini.

Artikel dari *The Times* yang membahas kebijakan Swedia untuk mengurangi penggunaan perangkat digital di ruang kelas dan kembali menggunakan buku-buku fisik dalam kelas, sangat relevan dengan topik kita tentang kebosanan dalam pembelajaran dan pentingnya memberi ruang bagi siswa/i untuk merevitalisasi kemampuan membaca mereka.

Tidak tanggung-tanggung, 100 juta Euro — hampir 2 triliun rupiah — digelontorkan untuk merealisasikan programnya.

Di Swedia, banyak sekolah yang mulai mengurangi penggunaan gadget dan media digital dalam kelas, dengan alasan bahwa faktanya penggunaan teknologi digital yang berlebihan justru dapat mengalihkan perhatian siswa dari inti pembelajaran alih-alih meningkatkan mutu pembelajaran. Sebaliknya, buku fisik dianggap lebih efektif untuk membangun fokus dan kemampuan membaca yang lebih komprehensif.

Hal ini sejalan dengan apa yang telah dibahas sebelumnya; kebosanan yang sering muncul ketika kita mengurangi elemen interaktif atau hiburan yang berlebihan dalam pembelajaran. Ketika siswa hanya terfokus pada teks yang lebih sederhana dan tidak terganggu oleh stimulasi visual atau permainan yang berlebihan, mereka bisa merenung dan memahami substansi dengan lebih baik.

Pendekatan seperti yang diterapkan di Swedia ini, dengan mengembalikan siswa ke bahan bacaan yang lebih tradisional, juga mendukung pentingnya menciptakan ruang bagi kebosanan yang produktif. Kebosanan dalam konteks ini, justru dapat meningkatkan pemahaman dan melatih kemampuan berpikir kritis yang lebih dalam.

Dengan kata lain, kelas yang membosankan bukanlah sebuah dosa, melainkan kesempatan untuk membentuk pemikiran yang lebih dalam dan reflektif.

Kebosanan memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan fokus, mengelola perhatian, dan memahami materi dengan lebih matang. Dalam dunia yang sarat akan estetika dan kecepatan, membiasakan diri untuk menikmati momen kebosanan dalam kelas justru bisa menjadi cara membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Lagi pula, guru kan bukan badut. Kami bukan party planner yang bisa membuat semuanya menyenangkan~


메타데이터
post_id
6fbf22e5cb54
slug
kelas-yang-membosankan-bukanlah-sebuah-dosa-6fbf22e5cb54
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/kelas-yang-membosankan-bukanlah-sebuah-dosa-6fbf22e5cb54
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/kelas-yang-membosankan-bukanlah-sebuah-dosa-6fbf22e5cb54
author_url
https://medium.com/@bangfilip12
status
ok
fetched_at
2026-06-25 07:00:49