← Back to list

Renungan Pribadi : Petunjuk

Musuh terbesar mu adalah dirimu sendiri, jikalau kamu berhasil mengalahkannya maka kamu bisa menjadi orang yang besar.

Michelle Edithya · 2026-07-17 09:04 · 0 claps · 4.5 min read
#the-alchemist #sang-alkemis #paulo-coelho #journal
Open on Medium ↗

Renungan Pribadi : Petunjuk

Musuh terbesar mu adalah dirimu sendiri, jikalau kamu berhasil mengalahkannya maka kamu bisa menjadi orang yang besar.

Itulah kata-kata yang pernah diucapkan seorang peramal padaku beberapa tahun silam. Tanpa sengaja kata-kata itu muncul kembali di kepalaku akibat rasa frustrasi yang muncul karena rasa takut dan tidak percaya diri yang tiba-tiba saja menghampiriku sejak pagi.

Seharusnya aku bekerja saat ini, tapi rasa ini terlalu menggangguku. Aku buka layar laptopku dan mulai menulis.

Tuhan… aku sedih sekali saat aku menyadari ingatanku tidak bagus, aku cenderung memutar-mutar hal yang sudah ada di kepalaku, mencegahku untuk mengingat hal-hal kecil seperti bacaan yang pernah kubaca. Aku takut ya Tuhan, jujur aku gelisah, aku mengalami desolasi, aku mulai meragukan diriku sendiri!

Sesaat aku tenggelam dalam rasa sesak ini dan berpikir yang tidak-tidak tentang penuaan dan Alzheimer. Tapi buku hijau itu mengingatkanku untuk tidak meninggalkan doa dan segala upaya dalam kekosongan.

Pandanganku lalu tertumbuk pada sudut mejaku. Di sana, buku Sang Alkemis tergeletak begitu saja, mungkin akibat kebiasaan sembronoku beberapa hari lalu yang asal menaruhnya di sana. Aku memutuskan untuk meraih dan mulai membaca buku itu sambil mendengarkan musik relaksasi yang ku temukan di Youtube, sebagai upayaku untuk menenangkan diri.

Alunan musik di telingaku perlahan mengaburkan pikiran dan perasaan yang sedari tadi mengganggu. Begitu mataku mulai menyusuri baris demi baris kalimat di halaman-halaman awal, dunia nyata di sekitarku seolah memudar, digantikan oleh gambaran seorang anak laki-laki di Andalusia.

Entah mengapa semakin aku mengenal sosok Santiago si anak laki-laki penggembala ini, aku jadi teringat pada seorang teman yang juga gemar berkelana dan membaca buku. Persis seperti Santiago yang kerap mengajak domba-dombanya berbincang, temanku ini suka sekali bercerita dan berimajinasi. Baginya membaca buku serasa tidak berguna kalau tidak ada wadah untuk menceritakannya.

Aku baru memahaminya sekarang setelah aku merasa jenuh oleh obrolan yang itu-itu saja beberapa hari terakhir ini. Aku jadi merindukan momen dimana kita membahas buku dan kutipan-kutipan dari dalamnya atau merenungkan hal-hal yang kurang praktis. Aku baru mengerti esensi dari banyak membaca dan berwawasan luas bahkan tentang hal yang kurang praktis sekalipun, dunia jadi lebih mengasyikkan dan lebih banyak topik yang bisa dibahas selain kesusahan.

Kembali pada Sang Alkemis, buku ini berhasil membuatku merenungkan tentang rasa yang kupendam hingga mengingatkanku untuk bersyukur atas hal yang ku keluhkan yang sebenarnya juga telah menjadi sarana yang membawaku sejauh ini. Bahkan di setiap detik aku mencecap buku ini, selalu ada-ada saja hal yang bisa aku korelasikan dengan hidup ini.

Aku menikmati alur cerita lambat ini, serasa ada film kecil bermain dalam kepalaku. Aku bisa dengan jelas merasakan kekecewaan, kekesalan, kegelisahan dan ikut dalam angan-angan si anak laki-laki seolah aku memahaminya dengan sungguh. Saat aku mengikuti perjalanan Santiago bertemu dengan Raja Salem dan mulai membahas soal mimpi dan takdir, ada dorongan yang besar dari jiwaku hingga aku tak kuasa meneteskan air mata. Mungkin karena akhir-akhir ini juga aku sedang mempertanyakan lalu apa langkah berikutnya? Pandangan akan tujuan hidup itu sering kali kabur dari benakku.

“Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka… Daya ini adalah kekuatan yang kelihatannya negatif tapi sebenarnya menunjukkan padamu cara mewujudkan takdirmu. Daya ini mempersiapkan rohmu dan kehendakmu…”

Sesaat membaca tulisan ini, sekilas aku jadi kembali ke masa kecil. Seolah sedang membuka berkas-berkas penting, aku jadi mencari tanda-tanda itu dari momen saat ku kecil dimana aku merasa paling diriku sendiri. Aku terhenti agak lama di beberapa momen seperti menemani teman yang sendiri dan terkucilkan, mengenakan pakaian gembel di acara pentas cita-cita, bahkan ngobrol dengan pedagang mie yang aku rasa menyayangiku.

Perjalanan membacaku hari ini ku akhiri tepat pada momen dimana Raja Salem meminta Santiago untuk datang kembali menemuinya besok hari membawa sepersepuluh dombanya untuk ditukarkan dengan cara menemui harta karun dari mimpinya itu.

Aku memutuskan menyudahi bacaan di titik ini karena sudah merasa lega dari rasa sesak itu. Sadar bahwa kepalaku seringkali sembrono dan tidak mampu mengingat semuanya. Aku terdorong untuk menorehkan seluruh temuan dan refleksi ini sebelum semuanya menguap dari kepalaku!

Buku Sang Alkemis secara kronologis mengingatkanku pada 3 fase yang aku lalui selagi berproses untuk mengubah pola pikirku sendiri. Menarik, jangan-jangan… buku ini mengandung unsur kebenaran di dalamnya.

Fase pertama aku temukan melalui renungan Santiago selama ia menjadi penggembala domba demi bisa berkelana untuk melihat dunia. Santiago meyakini dunia ini luas tak terbatas, bahkan kadang ia membiarkan domba-dombanya menentukan arah dan ia pasti menemukan hal menarik.

Tapi domba-domba ini sama sekali tidak menyadari bahwa setiap hari mereka, menempuh jalan baru. Mereka tidak melihat bahwa padang-padangnya baru dan musim silih berganti. Mereka hanya peduli tentang makan dan air.

Barangkali kita semua seperti itu, pikir si anak lelaki. Bahkan aku… aku tidak pernah memikirkan perempuan lain sejak berjumpa dengan putri saudagar itu.

Membaca bagian ini aku jadi teringat pada saat aku terlalu fokus untuk bertahan hidup seperti halnya domba yang fokus dengan makan dan minum atau Santiago yang sedang fokus memikirkan seorang perempuan. Aku menamainya fase menutup diri. Aku terlalu fokus ke dalam pahit dan penderitaan hingga pandanganku jadi sempit dan merasa kesulitan untuk bahagia karena melewatkan banyak hal menarik yang bisa aku syukuri.

Fase kedua aku dapatkan melalui momen ketika Santiago mulai penasaran dengan mimpinya. Ia memulai pencarian dengan mendatangi seorang perempuan penafsir mimpi, hanya untuk mendapatkan jawaban yang terlihat jelas dan membuat dirinya kesal juga kecewa.

Fase ini adalah fase mencari. Sebuah fase krusial di mana aku mulai jenuh dengan hidupku dan merasa hidupku ini janggal, tidak seharusnya hidup itu seperti ini. Aku mulai bertanya ke sana kemari, mendatangi orang-orang yang kuanggap telah berhasil membebaskan diri, menggali informasi dari berbagai sumber, hingga menerapkan segala metode terapi dan penyembuhan. Dalam prosesnya aku pun mengalami kekecewaan karena aku berekspektasi akan hasil yang instan ataupun petunjuk yang luar biasa, seperti Santiago yang kecewa dengan jawaban penafsir mimpi.

Fase terakhir aku beri nama fase sadar kendali. Aku dapatkan dalam perjalanan Santiago bertemu dengan pria tua yang akhirnya membuka percakapan tentang takdir. Pria tua ini mengaku bahwa ia adalah Raja Salem dan ia adalah orang yang kemudian meyakinkan Santiago tentang mimpinya dan takdir yang sesungguhnya sangat bisa diwujudkan.

Ini adalah fase yang aku masuki belum lama ini. Pikiranku telah sepenuhnya berubah, aku akhirnya yakin bahwa aku yang tidak berdaya selama ini adalah salah. Setelah banyak bertanya dan mencoba, aku akhirnya paham bahwa sesungguhnya aku hanya butuh izin dari dalam diri untuk untuk terbebas dari hal yang selama ini aku anggap mengendalikan ku… dan mengizinkan diri butuh kerendahan hati. Seperti Santiago yang sempat jengkel pada Raja Salem dan tergoda untuk bersikap kasar namun akhirnya ia memutuskan untuk bersikap hormat, dan tindakan itu yang membuat Raja Salem dapat membuka pintu harapan bagi Santiago.

Selagi menulis ini akhirnya akupun sadar, bahwa sesungguhnya aku bisa memutuskan bahwa aku sudah mengalahkan diriku sendiri. Jikalau ternyata ada hari dimana aku kalah dengan diriku sendiri, aku hanya perlu sedikit waktu untuk melunakkannya.

Aku yakin buku Sang Alkemis … akan membukakan sesuatu dalam diriku lagi dan aku ingin sekali menuliskannya di lain kesempatan. Karena, entah bagaimana caranya seseorang yang tidak terlalu gemar membaca ini bisa selalu mendapat jawaban dari buku terdekat yang diraihnya.


메타데이터
post_id
6fddc2bc5f8f
slug
renungan-pribadi-petunjuk-6fddc2bc5f8f
url
https://medium.com/@michelleedithya/renungan-pribadi-petunjuk-6fddc2bc5f8f
canonical_url
https://medium.com/@michelleedithya/renungan-pribadi-petunjuk-6fddc2bc5f8f
author_url
https://medium.com/@michelleedithya
status
ok
fetched_at
2026-08-22 11:57:39