Pretty Christina adalah penerima beasiswa asal Sorong, Papua Barat Daya yang sedang menempuh studi…
“Saya dari Sorong”
#120-Pretty Christina: Mungkin Ada Jalan Lain
Pretty Christina adalah penerima beasiswa LPDP asal Sorong, Papua Barat Daya, yang sedang menempuh studi MSc Sustainable Development di University of Sussex, Inggris. Latar belakangnya mencerminkan perjalanan panjang yang tidak linier, tapi kaya pengalaman lapangan dan refleksi.

Ilustrasi saja (sumber: Canva)
“Saya dari Sorong”
Kalimat itu selalu diucapkannya dengan nada sama. Sebab Sorong adalah tempat di mana ia belajar bahwa kehidupan bisa indah sekaligus keras. Tempat di mana laut biru menjadi halaman depan, tetapi sampah plastik mengalir bersama arus. Tempat di mana anak-anak berlari sambil tertawa, namun banyak di antaranya belum bisa membaca lancar di usia seharusnya.
Di sanalah Pretty belajar satu hal sederhana, namun membentuk seluruh hidupnya. Jika ingin perubahan, jangan hanya berharap. Turun dan kerjakan.
Langkah Kecil Mengubah Arah
Pretty tidak memulai perjalanan kariernya dari ruang kantor ber-AC atau panggung akademik. Ia justru meniti jalan dari pekerjaan-pekerjaan yang tidak dipandang glamor: front office hotel, administrasi, hingga kasir. Selayaknya anak muda pada umumnya, sedari sekolah sudah diracuni pemikirannya bahwa “bekerja” itu berarti duduk di balik meja. Namun, Pretty berbeda sebab memiliki kelebihan mengetahui dirinya. Sehingga ketika ada alarm bahwa pekerjaan itu tidak membuatnya tumbuh, dan berdampak maka dirinya perlu mengambil keputusan besar dengan mengundurkan diri.
Seakan semesta tahu bahwa ada jiwa berontak di balik meja itu. Mencoba mengikuti panggilan hati yakni menjadi pendidik Pretty memberanikan diri mendaftar menjadi guru TK di kota besar jauh dari tanah Sorong. Tidak memiliki background pendidikan sama sekali tidak mematikan kecintaannya pada dunia pendidikan. Ia sadar betul mengajar anak usia dini adalah bukan pekerjaan gampangan, karena dari sanalah struktur pengetahuan bagi anak, menjadi pondasi mereka hingga dewasa.
Saat menjadi guru TK di Bekasi, ia melihat bagaimana sentuhan kecil pada pendidikan bisa mengubah masa depan seorang anak. Namun realitas kehidupan terkadang tidak akan bisa sejalan terus dengan keinginan kita. Sorong memanggil pulang kembali.
Mungkin Sorong tahu bahwa bekal Pretty selama 2.5 tahun mengajar di TK sudah cukup untuk dibawa pulang. Meski alasan pulang sebenarnya adalah keluarga.
Pretty semakin tumbuh. Ia berkesempatan bekerja sebagai assessor EGRA oleh Myriad Research untuk Kabupaten Sorong. Pekerjaan menuntutnya mendatangi 21 sekolah dasar, bertemu anak-anak kelas 2 dan 3 yang menahan malu saat diminta membaca. Dari Sorong hingga kampung-kampung kecil, matanya terbuka, literasi bukan sekadar buku. Literasi adalah jembatan untuk bertahan hidup.
Di titik inilah dirinya berhenti, dan bertanya-tanya.
“Apa pekerjaan ini cocok?”
“Apa dampak yang bisa saya tinggalkan?”
Ketika Alam Memanggil Pulang
Kepulangannya ke Sorong mempertemukannya dengan dunia baru, yaitu konservasi dan lingkungan. Pretty bergabung dengan Misool Foundation, organisasi dengan isu menjaga laut dan hutan Papua.
Selama bekerja, ia dipercaya menjadi Koordinator kampanye #PlastikTaraAsik yang didukung EU/GIZ, Program Coordinator dan kemudian Program Manager Bank Sampah Sorong Raya serta Monitoring, Evaluation & Learning Officer untuk program pendidikan lingkungan
Setiap hari, Pretty berhadapan dengan cerita-cerita nyata. Seperti nelayan kesulitan karena laut tercemar. Anak-anak sekolah membawa botol plastik sekali pakai karena tidak tahu alternatif. Serta Ibu-ibu rumah tangga yang mengubah sampah menjadi pendapatan.
Ia berjalan dari sekolah ke sekolah, kampung ke kampung, menjelaskan tentang sampah, tentang laut, dan masa depan Papua. Kadang pulang dengan sepatu penuh lumpur, acapkali dengan mata berkaca-kaca. Tetapi setiap kali kembali ke rumah, ia selalu tahu. Inilah yang ingin dikerjakannya sepenuh hati.
Bagi Pretty, bekerja tidak cukup. Ia ingin bercerita. Itu sebabnya ia menulis tentang budaya, tentang noken, dan Papua. Ia ikut menerbitkan buku, memenangkan perlombaan menulis, bahkan terlibat di balik layar dalam pembuatan film dokumenter pendek, seperti “Dealing with Plastics” dan “Perajut Harapan.”
Hingga suatu hari, seseorang berkata padanya. “Ko tidak hanya mengerjakan perubahan, Pretty. Ko juga merekamnya.”Dan pada momen itu, ia sadar. Kekuatan cerita adalah bagian dari perjuangannya.
Dari Sorong ke Sussex
Pada 2025, Pretty berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi MSc Sustainable Development di University of Sussex. Sebuah perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali menulis di buku tulis kecilnya di Sorong.
Untuk menemaninya berangkat, ia membawa satu koper, beberapa buku serta satu janji pada dirinya sendiri. Bahwa ia akan kembali.
Ia ingin membangun model pembangunan berkelanjutan yang tidak hanya datang dari teori barat, tetapi dari napas masyarakat Papua sendiri. Dan membuktikan bahwa perempuan dari Timur bukan hanya “penerima manfaat,” tetapi “pemimpin perubahan.”
Jauh sebelum dia sampai di Inggris, ada banyak pintu tertutup di hadapannya. Berbagai beasiswa pernah dicoba termasuk beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Beasiswa yang bisa dikatakan sebagai salah satu impiannya dulu.
Kegagalannya bukan hanya sekali, namun Pretty bangkit berkali-kali. Ia mencoba lagi dengan beasiswa lain, menunggu sembari mempersiapkan diri secara layak. Ada satu hal pembeda pada diri Pretty. Ia tidak berhenti meski kegagalan datang menghadang. Ia selalu belajar dari kegagalan itu.
Ketika pintu AAS tertutup, pintu lain terbuka. Ia diterima dalam program ELTA (English Language Training Assistance).Program yang ia jalani penuh rasa syukur, dedikasi tinggi, dan disiplin. Di ELTA ia tak hanya belajar bahasa, tapi belajar percaya diri. Ia banyak mendengar cerita teman-teman dari seluruh Indonesia, dan belajar bahwa perjuangan panjangnya valid.
Ia sempat berkaata pada temannya, “Mungkin tidak lolos di Australia karena Tuhan ingin saya melihat dunia dari sudut lain”. Dan benar saja, beasiswa LPDP kemudian diraihnya pada 2024 lalu. Beasiswa yang justru membawanya jauh lebih dari dia bayangkan.
Pretty memilih kuliah di Inggris. Di sana, kedatangannya disambut angin dingin yang menusuk, dan orang-orang yang berjalan cepat dalam diam. Pretty yang berasal dari budaya Timur yang hangat, penuh sapaan, penuh cerita, mendadak merasa kecil di sebuah negara yang bergerak begitu cepat. Tentu dia juga mengalami yang namanya culture shock.
Beasiswa LPDP baginya bukan sekedar program beasiswa, itu proses penyaringan batin. Ia melewati proses seleksi, program bahasa, berbagai dinamika adaptasi, hingga rasa tidak nyaman atau insecure karena melihat teman-temannya lebih fasih berbahasa Inggris dibanding dirinya.
Tetapi Beasiswa LPDP juga mempertemukan dia dengan komunitas yang tulus, teman-teman yang saling menguatkan, senior yang membimbing dan para awardee yang berasal dari jalan hidup yang sama peliknya. Katanya, “LPDP bukan hanya membiayai saya, namun membentuk saya”.
Anak Timur yang Membawa Pulang Cahaya
Pretty menulis dalam jurnalnya di Brighton tentang laut Sorong yang ia rindukan, suara anak-anak yang memanggilnya kakak, hingga aroma hujan di tanah Papua. Baginya, beasiswa dan studi bukan tentang “pergi jauh,” tetapi tentang membawa pulang cahaya.
Cahaya yang ia temukan lewat pendidikan.
Cahaya yang ia temukan lewat kerja-kerja kecil yang berdampak.
Cahaya yang ia temukan ketika menyadari bahwa perempuan Timur juga bisa berdiri di panggung dunia, tanpa harus meninggalkan akarnya.
Bagi Pretty, dirinya bukan hanya penerima beasiswa. Ia adalah wajah dari banyak harapan yang tumbuh diam-diam di tanah timur.
Sekaligus menegaskan bahwa perubahan bisa lahir dari tangan siapa saja, termasuk seorang anak kecil yang dulu hanya ingin menulis karena itu membuatnya merasa ditemani.
**
Naskah ini ditulis oleh Siti Wulandari Mamonto, relawan Beasiswa Timur, berdasar wawancara bersama Pretty Christina. Saya menyuntingnya untuk nantinya diterbitkan dalam postingan Beasiswa Timur.
Beasiswa Timur adalah sebuah inisiatif dari Sorong, yang membagikan informasi beasiswa, membuat kelas belajar gratis hingga kelas pendampingan. Sampai sekarang telah selenggarakan 105 kegiatan, diikuti ±1965 peserta. Selain itu telah membantu 78 peserta meraih beasiswa S1, S2 dan S3 di dalam dan luar negeri beragam skema.
메타데이터
- post_id
- 6fdead3148d3
- slug
- pretty-christina-adalah-penerima-beasiswa-asal-sorong-papua-barat-daya-yang-sedang-menempuh-studi-6fdead3148d3
- url
- https://medium.com/@dayourifanto/pretty-christina-adalah-penerima-beasiswa-asal-sorong-papua-barat-daya-yang-sedang-menempuh-studi-6fdead3148d3
- canonical_url
- https://medium.com/@dayourifanto/pretty-christina-adalah-penerima-beasiswa-asal-sorong-papua-barat-daya-yang-sedang-menempuh-studi-6fdead3148d3
- author_url
- https://medium.com/@dayourifanto
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13