Menyegani Tuhan adalah Pangkal Segala Pengetahuan
Introduction to the idea Pada bulan Maret lalu, saya berkunjung ke Notohamidjojo Library — perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana…
Menyegani Tuhan adalah Pangkal Segala Pengetahuan

Patung O. Notohamidjojo di depan Notohamidjojo Library, UKSW. Sumber gambar: scientiarum.id
Introduction to the idea Pada bulan Maret lalu, saya berkunjung ke Notohamidjojo Library — perpustakaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga. Nama dari perpustakaan ini diambil dari nama Dekan/Rektor pertama UKSW, Oeripan Notohamidjojo. Beliau juga menjadi Dekan pertama Fakultas Hukum UKSW.
Gedung kokoh berlantai tujuh ini dilengkapi dengan berbagai ruangan, seperti ruang baca dan ruang diskusi. Tidak hanya itu, Notohamidjojo Library juga dilengkapi dengan Musem. Satu hal yang membuatnya berbeda dari perpustakaan pada umumnya. Koleksi museum menjadi saksi bisu sejarah kehadian dan perjalanan pelayanan UKSW sejak tahun 1956 hingga sekarang.
Kunjungan itu semakin berkesan ketika saya menemukan sebuah pesan singkat dari O. Notohamidjojo yang bertuliskan,
“Menyegani Tuhan adalah Pangkal Segala Pengetahuan”.
Pesan singkat itu mengingatkan saya pada sebuah nats dalam Alkitab, tepatnya di dalam Amsal 1:7 yang berbunyi,
“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”
Pesan O. Notohamidjojo menjadi teguran sekaligus pengingat bagi saya bahwa, Tuhan telah memberi manusia akal untuk berpikir agar mendapat pengetahuan. Namun, pengetahuan yang seperti apa dan bagaimana?
Seorang kakak dosen menjelaskan kepada saya bahwa Tuhan tidak hanya memberi manusia akal (reason), tetapi juga dilengkapi dengan kehendak bebas (free will). Maksudnya, Tuhan menghendaki agar manusia dapat menggunakan akal untuk mengetahui/mengenalnya dan memiliki kehendak bebas untuk meyakininya.
Penjelasan itu memotivasi saya untuk terus menggunakan reason dan free will untuk menggali pengetahuan, menyaringnya, dan membagikannya kepada banyak orang. Sebab pengetahuan adalah hak fundamental yang wajib diberikan kepada dan dimiliki oleh setiap orang.
Pengetahuan tersebut semata-mata digunakan untuk berkarya dan melayani umat-Nya, dan terlebih lagi melayani Tuhan. Bukan untuk mendapat hormat dan/atau jabatan bagi diri sendiri. Sebab saya yang demikian hanya akan menjadi seperti orang bodoh yang menghina hikmat dan didikan.
Pendirian itu menguatkan keyakinan saya bahwa perpustakaan adalah pusat dari sebuah universitas, bahkan sebuah bangsa.
The library is the heart of the university Bagi saya, sampai kapan pun perpustakaan akan selalu menjadi jantung dari universitas. Perkembangan zaman dan perubahan sosial/masyarakat tidak dapat mendegradasi keberadaannya sebagai sumber pengetahuan.
Hal ini selalu saya rasakan setiap kali berkunjung ke perpustakaan, termasuk ke Notohamidjojo Library. Berdiri di depan rak-rak dengan rasa kagum membuat saya selalu teringat dengan pesan bijak dari Socrates, bunyinya:
“I know that I know nothing”
Berada di perpustakaan mengajarkan saya untuk selalu rendah hati. Menyadari banyaknya ketidaktahuan saya. Sehingga harus selalu menjadi seperti gelas kosong. Ketika kosong diisi, dan ketika penuh dibagikan. Begitu seterusnya.
Sebagai jantung universitas, perpustakaan menjalankan fungsi mengalirkan–“darah”–pengetahuan ke seluruh organ universitas, tanpa terkecuali. Sebab pengetahuan yang tersebar dengan merata akan menjadi oksigen bagi tumbuhnya lingkungan akademis yang skeptis, kritis, dan analitis.
Hal demikian menghadirkan situasi di mana muncul inspirasi-inspirasi untuk membuat sebuah karya. Atau setidak-tidaknya sebuah rencana dan rancangan untuk berkarya dalam setiap panggilan pelayanan.
Inspiring destination Setiap orang selalu memiliki journey-nya masing-masing. Ungkapan ini selalu disampaikan oleh Indra Jegel (Komika dan anggota grup Agak Laen) dalam siniar mereka di kanal *YouTube*.
Ungkapan sederhana yang memantik tawa ini selalu dijawab dengan pesan-kesan dari setiap bintang tamu yang datang. Baik itu berupa prinsip hidup, pegangan hidup, motivasi, dan lain sebagainya.
Tetapi semua jawaban itu dapat menjadi inspirasi bagi setiap penonton dan pendengarnya. Sama halnya dengan keberadaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) dan Notohamidjojo Library.
Keduanya menjadi satu kesatuan yang menginspirasi perjalanan hidup setiap orang yang dipanggil untuk berkarya, baik di dalam maupun di luarnya.
Seperti ditulis oleh Robert Francis Kennedy dalam bukunya, *The Pursuit of Justice* bahwa,
It is the essence of responsibility to put the public good ahead of personal gain. This still leaves room for individual goals and for the pursuit of them with energy and intelligence. This of course applies to daily life–to the family–and it does to politics.
Berkarya bukan untuk jabatan dan/atau kehormatan/kebanggaan individu tetapi untuk kehormatan/kebanggaan–bersama–organisasi. Menjadi kebanggaan setiap insan mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, pegawai/staff, hingga keluarga, gereja, dan bangsa.
Hal ini telah berakar kuat pada visi pendirian UKSW, menjadi kampus yang mendidik dan menghasilkan creative minority. Lingkungan akademis yang menempatkan kesetaraan antara pendidik dan peserta didik. Magistrorum et Scholarium.
Creative Minority Kehadiran UKSW sebagai “Lembah Tidar”-nya Magistrorum et Scholarium bertujuan menghasilkan creative minority, sekelompok kecil individu yang memiliki kemampuan untuk berpikir di “luar kotak”, berinovasi, dan beradaptasi secara kreatif terhadap tantangan dalam masyarakat atau peradaban
Creative minority atau minoritas kreatif adalah konsep yang dipopulerkan melalui sejarawan Arnold Joseph Toynbee. Konsep ini digunakan dalam bukunya, *A Study of History, *untuk menjelaskan bagaimana peradaban berkembang.
Toynbee menyatakan bahwa kemajuan suatu peradaban bergantung pada minoritas kreatif yang mampu merespons tantangan dengan cara inovatif. Jika kelompok ini gagal atau kehilangan daya kreativitasnya, peradaban itu bisa mengalami kemunduran.
Sebagaimana Toynbee rumuskan, para pendiri UKSW pun menggunakan konsep creative minority untuk hal yang sama. Oleh karena itu, saya coba refleksi kembali mengenai nilai-nilai UKSW agar terus mengingat jati diri sebagai minoritas kreatif yang hadir untuk membantu masyarakat, gereja, dan bangsa.
Bantuan diberikan berdasarkan pengetahuan melalui instrumen pendidikan, mulai dari pengajaran, penelitian, hingga pengabdian kepada masyarakat. Bantuan diberikan bukan semata-mata untuk jabatan atau nama baik diri sendiri, melainkan bagi nama baik dan kehormatan/kebanggaan seluruh sivitas akademika.
Banyak doa dan harapan diberikan kepada UKSW dan seluruh sivitas akademikanya agar hadir sebagai creative minority, dan selalu mengingat pesan O. Notohamidjojo bahwa menyegani Tuhan adalah pangkal segala pengetahuan.
Tulisan ini merupakan kumpulan kesan dan pesan yang penulis dapatkan saat berkunjung ke Notohamidjojo Library, salah satu perpustakaan terbesar dan terlengkap di Asia Tenggara, pada priode 1970an. Sekaligus menjadi cara bagi penulis mengenal lebih dekat siapa itu Universitas Kristen Satya Wacana sebagai Universitas Scientiarum dan Magistrorum et Scholarium-nya.
Selamat membaca, kawan.
메타데이터
- post_id
- 6fdf144b0d8a
- slug
- menyegani-tuhan-adalah-pangkal-segala-pengetahuan-6fdf144b0d8a
- url
- https://medium.com/@ianooo/menyegani-tuhan-adalah-pangkal-segala-pengetahuan-6fdf144b0d8a
- canonical_url
- https://medium.com/@ianooo/menyegani-tuhan-adalah-pangkal-segala-pengetahuan-6fdf144b0d8a
- author_url
- https://medium.com/@ianooo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16