← Back to list

Aku, Dia dan Gereja

“Terlalu indah, Tuhan. Bahkan aku tak berani berpikir untuk mencintainya.”

Diah AK · 2026-06-30 14:04 · 0 claps · 1.7 min read
#cerpen #short-story #indonesia #cerita-pendek #fiksi
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing

Aku, Dia dan Gereja

“Terlalu indah, Tuhan. Bahkan aku tak berani berpikir untuk mencintainya.”

Malam itu aku melihatnya termenung disebuah kursi samping gereja. Entah apa yang ada dipikirannya wajahnya sedikit murung. Angin berhembus menggerakkan rambut pendek selehernya. Kemeja putih membalut tubuhnya, agak berantakan. Pandangannya menatap lurus ke arah jalan. Sementara aku sibuk melihat dirinya. Aku dan dia barusan selesai ibadah.

Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Raut wajahnya bingung namun sempat berkedip dua kali, dan akhirnya mata kami bertemu. Senyum kecil muncul dibibirnya. Begitupun denganku. Apa yang membuat dia begitu murung? Kenapa matanya begitu sayu? Apa ada yang melukainya, Tuhan? Berbagai pertanyaan terlintas dibenakku.

Sebenarnya tadi aku sudah diatas motor dan berniat pulang. Tapi entah waktuku seakan berhenti saat melihatnya duduk sendirian. Aku memperhatikannya sambil menopang dagu sampai ketika pandangan kami bertemu tadi. Kulangkahkan kakiku ke arahnya.

“Kenapa?” sambil kududukkan diriku disebelahnya.

Dia melihat wajahku lalu tersenyum. Namun, didetik berikutnya kepalanya kembali menunduk hingga membuat poninya menutup sedikit bagian matanya.

“Ada apa?” tanyaku sekali lagi.

Pandangannya lurus ke depan, “Kenapa Tuhan begitu adil ya?”

“Maksudmu?”

“Tuhan itu adil banget ya”

“Sebenarnya aku belum paham maksudmu. Tapi, kenapa kamu seperti ini?”

“Bahkan kesempatan itu tidak pernah ada sejak aku terlahir ke dunia ini. Meskipun jika aku mencobanya mati-matian”

Suasana hening sejenak, hanya ada suara kendaraan berlalu lalang dan angin yang sesekali berhembus menggerakkan rambut kami.

“Tuhan tahu mungkin saja aku akan menyakitinya dikemudian hari. Makanya sejak awal kesempatan untuk mencoba itu tidak pernah ada” lanjutnya.

Kutatap matanya yang memerah.

“Tapi dengan tidak diberikan kesempatan itu aku justru berterima kasih. Kamu tahu kenapa?”

Aku menggeleng.

“Setidaknya tidak ada bagian dari tubuhku ini yang akan menyakitinya” senyum kecil tergambar di bibirnya lalu kepalanya menoleh ke arahku. Pandangan kami bertemu.

“Aku sudah melapangkan hatiku jadi aku harap dia selalu bahagia”

Aku terdiam mendengar kata-katanya. Aku tahu benar apa yang dia maksud sekarang. Lalu, tanganku mengusap kepalanya, “Di dunia ini kita selalu berdampingan dengan ketidakmungkinan tapi aku tahu sangat tahu malah, ‘dia’ yang kamu ceritakan juga berdoa agar kebahagiaan selalu menyertaimu”

“Aku harap begitu. Mau ngopi?”

“Traktir aku ya” jawabku sambil tersenyum.

“Hahaha coffee latte, right?” tanyanya sambil menaikkan alisnya

“Kamu tahu persis kesukaanku”

“Hidup sudah pahit tapi kamu malah suka kopi. Matcha kek”

“Rasa rumput”

Kami berdua tertawa sambil berjalan menuju motor. Meninggalkan area gereja menuju kedai kopi langganan. Untung saja cuaca malam ini bersahabat. Bintang bertaburan di langit. Aku dan dia menghabiskan minuman sambil bercerita macam-macam.

“Terima kasih Tuhan, terima kasih gereja telah meneguhkan hatiku. Bahkan hal seindah itu aku tidak berani membayangkannya. Aku tahu itu bertentangan dan batasan seperti ini sudah cukup. Tuhan, tolong jangan beri aku kembimbangan. Diatas segala-galanya, kebahagiaannya adalah hal yang sangat kuusahakan. Jauhkan dia dari segala yang akan melukainya bahkan jika itu adalah aku”


메타데이터
post_id
7060e397f89f
slug
aku-dia-dan-gereja-7060e397f89f
url
https://medium.com/@diah.ak/aku-dia-dan-gereja-7060e397f89f
canonical_url
https://medium.com/@diah.ak/aku-dia-dan-gereja-7060e397f89f
author_url
https://medium.com/@diah.ak
status
ok
fetched_at
2026-07-09 10:10:35