Kenapa manusia modern malah berlomba-lomba menjadi mesin(?)
Eksistensi mendahului Esensi yang dibilang oleh Sartre 80-an tahun lalu nampaknya dalam dunia yang erat dengan hiruk pikuk algoritma ini…
Kenapa manusia modern malah berlomba-lomba menjadi mesin(?)
Eksistensi mendahului Esensi yang dibilang oleh Sartre 80-an tahun lalu nampaknya dalam dunia yang erat dengan hiruk pikuk algoritma ini menemukan titik ekstensinya. Manusia terdefinisikan bukan hanya secara antropologis dengan pergaulan sehari-hari, ataupun dengan relasi sosial lintas generasi yang pada beberapa peradaban di negara-negara tertentu terkesan hierarkis. Tapi juga menemukan makna dalam diri sendiri pun menjadi kesusahan. Tanpa kita sadari modernitas secara an sich menghantarkan kita pada ketersekatan. Nilai-nilai komunal yang dulu secara sera merta kita yakini, sekarang kita pertanyakan lagi. Dulu, dalam satu keluarga besar saja bisa menampung hingga 3 bahkan sampai 4 generasi. Cucu, Ibu, dan Nenek hidup dalam satu papan tempat tinggal yang sama. Relasi sosial keluarga yang kompleks dan kebersamaan terjalin sebegitu kuatnya. Hingga hiruk-pikuk aktivitas, referensi kegiatan, pilihan profesi, kemudahan berfikir dan bekerja yang dulunya didamba-dambakan menjadi titik puncak kemanusiaan, justru menjadi senjata makan tuan bagi makna kemanusiaan konvensional itu sendiri.
Teknologi dan kemudahan yang terbalut dalam modernitas justru menciptakan manusia yang memburu ego masing-masing, mencari dopamin sebanyak-banyaknya, hingga ingin hidup dan segalanya mudah dan menyenangkan. Akhirnya struktur keluarga yang pada masyarakat zaman dulu bisa 3 sampai 4 generasi dalam satu papan tempat tinggal saja sekarang diisitilahkan sebagai sandwich generation muncul juga istilah nuclear family (struktur keluarga yang hanya terdiri dari anak, ibu dan ayah) yang lahir karena ketersekatan sebagai determinasi dari modernitas.
Bahkan, jika lebih ingin saya sempitkan lagi hubungan erat secara lahiriah maupun batiniah antara orang tua dan anak pun juga kian menjumpai titik keterekatannya. Seberapa tahu sih orang tua kita yang baby boomer atau gen x atas kompleksitas kehidupan dan problem psikis dan sosiologis kita sehari-hari? orang tua hanya punya satu individuasi dan identifikasi eksistensial kepada anaknya sebagai anak yang mereka rawat sejak kecil mungkin sampai SMP/SMA, orang tua sama sekali kurang paham tentang kebermaknaan dan pendefinisian anak terhadap dunia yang ingin mereka jalani.
Terlebih lagi orang tua yang bikin pusing adalah orang tua yang terbelenggu dalam kesadaran kalau “anakku kalau jadi PNS pasti hidupnya akan sukses”. Pemahaman kolektif orang tua tersebut memang cerminan zaman mereka di era kehidupan mereka yang memang cenderung tidak stabil dan serba kesulitan, apalagi di era Soeharto para PNS banyak menerima tunjangan sejumlah uang yang gigantis. Namun, pendefinisian berdasarkan tempo zaman dahulu sama sekali tidak relevan jika dicomot dan ditempelkan dalam kesadaran anak muda zaman sekarang yang mencita-citakan fleksibilitas dan slow living. Mereka cukup masa bodoh dengan omongan orang sekitar dan memusatkan pada kepuasan dan visionasi pribadi mereka.
Menjadi PNS, Dosen, Tentara, Pegawai Pemerintahan, Polisi, atau pekerjaan-pekerjaan administratif lainnya keberadaan dan berjalannya selalu mengekor kepada keputusan negara. Dan mereka kurang punya andil yang lebih dan bebas untuk punya kemandirian bertindak karena secara harfiah mereka adalah instrumen2 non-mesin yang digaji dan dipekerjakan oleh negara. Belum lagi keterjebakan manusia dalam hal-hal teknis yang justru mendestruksi manusia pada substansi tujuan luhur pekerjaan itu dilakukan.
Dosen yang meladeni standar scopus, sinta dan submit artikel2 ilmiah serta hal2 administratif lain tanpa memahami kontribusi teoritis dan akademik penelitian dia, menjadi ghost writer, atau lebih jahat lagi memanfaatkan mahasiswanya untuk mengakselerasi kenaikan jabatan dia, Tentara dan Polisi yang rela jual sawah di kampung mahal2 padahal setiap tahun nilainya selalu bertambah, demi untuk mengenakan kostum yang dianggap “gagah” itu. Dan banyak hal-hal teknis lainnya. Ingin mengejar tujuan individu mereka hingga rela menginjak leher orang lain. Menuruti sistem administratif tanpa meninjau ulang bagaimana tujuan awal yang luhur dari pekerjaan-pekerjaan yg menjadi pilihan hidup mereka. Barangkali modernitas menuntun akan standarisasi dan klasifikasi hal-hal yang dulunya cair. Dikotomi yang biner ini yang ingin dikritik penulis sebagai reduksi nilai-nilai kemanusiaan dan kebermaknaan yang sebenarnya juga sifatnya fluid.
Nilai luhur manusia sejatinya adalah bagaimana punya empati, kesadaran sosial, kedalaman perasaan serta pengertian antar sesama manusia dan kolektivitas organik yang terpelihara dari generasi ke generasi jangan sampai tereduksi oleh hal-hal teknis yang non-substansial. Mendapatkan pangkat, gelar, kedudukan, atau pekerjaan itu kata erving goofman cukuplah sebagai front stage mu, tapi negosiasi eksistensialis terhadap bagaimana kamu mendefinsikan diri ketika bersosialisasi kepada orang lain juga menjadi hal yang sangat penting. Maka, terlepas dari kamu seorang Dosen, TNI, PNS, Kyai, Pegawai, Office Boy, Teller Bank tetap sisakan ruang komunikatif-sosialis kemanusiaaan ketika berinteraksi dengan orang lain. Ketersekatan adalah keniscayaan yang nisbi dan sebenarnya juga bisa dinegosiasi.[]
메타데이터
- post_id
- 7066585f0e4b
- slug
- kenapa-manusia-modern-malah-berlomba-lomba-menjadi-mesin-7066585f0e4b
- url
- https://medium.com/@muzakialhabibi137/kenapa-manusia-modern-malah-berlomba-lomba-menjadi-mesin-7066585f0e4b
- canonical_url
- https://medium.com/@muzakialhabibi137/kenapa-manusia-modern-malah-berlomba-lomba-menjadi-mesin-7066585f0e4b
- author_url
- https://medium.com/@muzakialhabibi137
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 03:01:46