Pamit
Sebenarnya apa yang kita cari saat kita mencintai seseorang? Apakah kita mencari masa depan bersama mereka atau sekedar mencarinya diantara…
Pamit
Sebenarnya apa yang kita cari saat kita mencintai seseorang? Apakah kita mencari masa depan bersama mereka atau sekedar mencarinya diantara seribu orang saat berada di suatu ruangan meskipun ia tak akan mencari kita?
Sebenarnya apa yang kita takutkan saat kita mencintai seseorang? Apakah kita takut kehilangan mereka atau ketakutan saat kita menyadari ia tidak akan memilih kita di saat ia memiliki pilihan lain?
Apakah kita cukup hanya dengan bisa memiliki kedekatan dengan orang yang kita sayang atau kita menginginkan lebih untuk menjadi satu-satunya di dalam hati dan pikirannya?
Saat itu aku berpikir bahwa aku bisa menerima segalanya, menerima bahwa ia kembali kepadaku setelah ia selesai dengan hubungan barunya, hubungan yang muncul tak selang lama setelah hubungan kita berakhir. Pada saat itu aku mengira aku adalah rumahnya, tempat yang selalu ia tuju untuk kembali setelah ia berkelana jauh kesana. Awalnya aku senang, aku cukup dengan memiliki dia di sini dan tidak peduli siapa yang ada di hati dan pikirannya.
Aku membenci kenyataan ini, bahwa aku tidak akan pernah cukup untuknya. Sebaik apapun aku berusaha, sekeras apapun aku mempertahankan diriku sendiri di sini, ia tak akan pernah bisa melihatku sebagai orang yang layak untuk diperjuangkan. Mungkin itu bukan salahnya, mungkin itu salahku yang selalu ada untuknya.
Aku terlalu mencintainya hingga ia merasa tak perlu berusaha untukku.
Di saat aku mengira aku cukup hanya dengan kehadirannya dan menjadi rumah untuknya, kenyataan lain menghancurkan keyakinanku. Kenyataan bahwa ia mengaggap aku tak akan pernah pergi apapun yang ia lakukan. Di saat aku di sini berusaha untuk bertahan ia melakukan hal-hal yang memberikanku rasa sakit dengan sadar. Kenyataan lainnya adalah bahwa aku tidak akan pernah bisa bersaing dengan perempuan-perempuan lain yang ada di hidupnya.
Aku adalah penyembuh dari lukanya sedangkan ia adalah alasan aku terluka.
Ia selalu menjadikan aku tempatnya untuk berteduh, untuk berlindung dari segala hal yang melukainya. Tapi, ia adalah alasan aku membutuhkan tempat berlindung, ia adalah seseorang yang melukaiku. Aku terlalu sibuk untuk menyembuhkan luka yang ada di hatinya, luka yang bukan aku penyebabnya, sampai aku tersadar bahwa sudah begitu banyak luka di diri ini karenanya.
Dan aku tak pernah paham, bagaimana bisa setelah semua hal yang aku lakukan untuknya, aku tak pernah cukup. Sedetik pun dalam hidupnya aku tak pernah cukup untuk seseorang yang aku sayang.
Sebenarnya bagaimana cara cinta bekerja? Bagaimana mereka bisa begitu indah dan menyakitkan? Bagaimana bisa mencintai seseorang bisa begitu melelahkan? Aku tak tau…
Yang aku tau saat ini aku sudah lelah dengan semuanya, dengan kenyataan bahwa mencintainya adalah sebuah luka bagiku. Bahwa semua yang aku lakukan di hidupku untuknya saat ini sudah cukup, aku telah melakukan semua hal yang aku bisa, dan ia tak pernah memilihku.
Aku memutuskan untuk pergi, meninggalkan seseorang yang aku pikir akan menjadi tempat ternyamanku untuk berpulang yang ternyata adalah luka terbesarku.
Sampai jumpa…
메타데이터
- post_id
- 709e7a0f3e46
- slug
- pamit-709e7a0f3e46
- url
- https://medium.com/@lomlierra/pamit-709e7a0f3e46
- canonical_url
- https://medium.com/@lomlierra/pamit-709e7a0f3e46
- author_url
- https://medium.com/@lomlierra
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-30 14:39:31