← Back to list

Part 4 — Bisa Jadi Teman

Gue sempat ngobrol sama Bagas. Ternyata urusannya sama si “Ika” sudah beres. Dia cuma sempat marah sesaat, dan sama sekali nggak ada…

Aditya Andrie · 2026-02-26 09:56 · 0 claps · 3.9 min read
#cinta #cerita #comedy #indonesia #tragic
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval 😂 · Humor & Satire

Part 4 — Bisa Jadi Teman

Gue sempat ngobrol sama Bagas. Ternyata urusannya sama si “Ika” sudah beres. Dia cuma sempat marah sesaat, dan sama sekali nggak ada hubungannya sama kedatangan “Tika” — yang sekarang gue tahu namanya Lia — ke kampus waktu itu.

Sampai sekarang gue nggak pernah benar-benar tahu apa motif Lia pertama kali datang ke kampus. Yang jelas, setelah itu dia malah sering nongkrong bareng gue dan Bagas.

Belakangan gue tahu, Lia anak dari seorang single mother yang kerja di perusahaan internasional. Bokapnya sudah meninggal, dan nyokapnya sering bolak-balik ke luar negeri urusan kerjaan. Kuliah? Nggak pernah benar-benar dia ikutin. Gue sering nasehatin, tapi dia malah marah. Intinya, dia nggak suka kalau gue mulai ceramah soal masa depan dan kuliah.

Dia selalu bilang nggak punya banyak teman. Padahal tiap kali kita pergi bareng, hampir selalu ada aja yang nyapa dia. Mungkin maksudnya bukan sekadar teman nongkrong, tapi teman yang benar-benar dia anggap dekat.

Lia sering nongkrong bareng gue di foodcourt, kadang nungguin gue selesai kelas, terus jalan bareng. Kadang Bagas ikut. Dan dalam waktu singkat, dia jadi pusat perhatian di kampus.

Bagas beberapa kali berusaha ngajak dia jalan berdua tanpa gue, tapi Lia nggak pernah mau. Mungkin dia tahu niat Bagas yang memang kurang baik.

Yang bikin gue nyaman, hobi kita sama: nonton. Ngobrol sama dia selalu seru. Tapi kalau jadi pacar? Ah, dia out of my league, begitu pikir gue waktu itu.

Tililit… tililit…

“Halo.”

“Di rumah, Lex?”

“Iya.”

“Cepetan mandi. Pakai baju yang rapi tapi keren ya. Temenin gue ke ulang tahun teman gue di ** Lounge. Gue jemput. Siap-siap pulang pagi.”

Tut. Tut. Tut.

Parah. Belum sempat gue jawab iya atau nggak, sudah dimatikan.

“Ma, Alex pergi dulu sama Lia. Bawa kunci kok.”

“Malam-malam gini mau ke mana?”

“Ulang tahun teman.”

Gue mandi, siap-siap, pakai kemeja sama jeans terbaik yang gue punya. Mudah-mudahan cukup keren. Nggak lama kemudian, Lia datang naik mobil.

“Malam, Tante.”

“Eh, Lia. Cantik banget. Mau ke mana?”

“Mau ke ulang tahun teman, Tante. Anaknya Lia pinjam dulu ya buat jagain Lia.”

“Wah, bodyguard-nya dijemput segala.”

“Yaudah, Ma. Pergi dulu.”

“Hati-hati. Jagain Alex ya, Lia.”

“Kok kebalik sih, Ma?” protes gue.

Lia cuma ketawa kecil dan buru-buru ngajak gue keluar. Malam itu dia pakai dress simpel tapi kelihatan cantik banget.

“Gaya udah oke, Lex. Nih pakai,” katanya sambil ngasih parfum.

“Ah, nggak biasa gue pakai parfum.”

“Udah, jangan bawel. Semprot dikit aja.”

Sampai di tempat acara, gue langsung kaget. Yang gue kira lounge tenang, ternyata berisik banget. Musik kencang, lampu remang-remang, minuman keras di mana-mana.

Sementara Lia sudah cipika-cipiki sama teman-temannya.

“Lia, bawa cowok? Kenalin dong!”

“Oh iya. Ini Alex, cowok gue.”

Gue kaget, tapi berusaha santai. “Alex.”

“Amanda,” jawab salah satu cewek.

Sebenernya gue dikenalin ke banyak orang sampai nggak ada satu pun nama yang gue ingat, kecuali Amanda. Soalnya gue yakin itu si “Ika”. Anehnya, dia seperti nggak kenal gue.

Tempat itu makin bikin gue nggak betah.

“Lex, minum sedikit,” kata Lia.

“Nggak deh. Nanti pulang gue yang nyetir. Lo juga nggak usah minum.”

“Minum dua gelas aja. Biar naik dikit, jadi bisa nikmatin suasana. Jangan lebih dari itu, ya.”

Akhirnya gue nurut. Dua gelas. Awalnya nggak enak, badan panas. Tapi setelah agak naik sedikit, suasana memang terasa lebih ringan.

Waktu berjalan cepat. Gue mulai merasa normal lagi. Gue lihat Lia lagi ngobrol sama seorang cowok. Raut wajahnya kelihatan nggak nyaman.

Nggak lama, dia menghampiri gue.

“Lex, udah turun? udah mendingan?”

“Iya. Tapi gue udah nggak betah.”

“Yaudah, kita pulang.”

Senang banget gue dengarnya.

Kita jalan ke arah pintu keluar. Tiba-tiba Lia berhenti. Cowok tadi ngajakin ngomong.

“Aku masih mau ngomong sama kamu.”

“Gue nggak mau bahas lagi.”

“Kasih aku waktu sebentar aja.”

“Lain kali ya. Gue mau pulang.”

Cowok itu tiba-tiba menarik tangan Lia. “Sebentar aja!”

“Lepasin! Sakit! Gue mau pulang!”

Gue langsung masuk di antara mereka. “Sori, Bos. Dia nggak mau ngomong. Jangan dipaksa.”

POW!

Gue dipukul sampai jatuh. Kepala gue pusing banget. Belum sempat bangun, satu pukulan lagi mendarat. Untung security cepat turun tangan.

Saat pandangan gue mulai jelas, gue lihat cowok itu sudah dipegangi banyak orang. Lia di depan gue, wajahnya panik, ngomong sesuatu yang nggak sepenuhnya gue dengar. Gue berusaha bangun buat balas, tapi Lia langsung narik gue ke mobil.

“Lex, lo nggak apa-apa?”

“Kepala gue pusing banget. Siapa sih itu? Mantan lo?”

“Iya. Dia suka main tangan. Makanya gue nggak mau balik sama dia. Tapi dia nggak pernah berhenti ngajak balikan.”

“Baru putus?”

“Sejak SMA. Dia nggak pernah mau lepasin gue.”

“Ato jangan-jangan gue dikenalin sebagai cowok lo gara-gara dia?”

“Iya. Gue pikir dia bakal mundur. Ternyata malah makin panas.”

“Wah, gue dikorbanin ya.”

“Iya, maaf. Gue beneran nggak enak banget sama lo.”

Lia bawa gue ke rumahnya. Nyokapnya lagi di luar negeri. Gue duduk di ruang tamu, sementara Lia masuk kamar.

Nggak lama dia keluar bawa arak dan kapas.

“Ngadep gue. Diam, jangan gerak.”

“Aduh, perih! Pelan-pelan dong!”

“Udah, dikit lagi.”

“Mana kaca? Gue mau lihat muka gue.”

Dia ambil kaca dan kasih ke gue.

“Wah, ancur banget mata gue. Kenapa harus mata kiri dua kali sih? Sekali di kanan kek biar imbang.”

Lia malah ketawa. “Gila lo, masih bisa bercanda.”

“Gue begini gara-gara lo, tau.”

“Iya, maaf,” katanya pelan, lalu masuk kamar lagi.

Sepuluh menit kemudian dia keluar bawa beberapa kacamata.

“Nih, pakai aja. Biar ketutup.”

Gue coba satu per satu. “Yang ini kayaknya paling pas.”

“Coba lihat sini,” katanya sambil mendekat, memperhatikan wajah gue. Lalu dia tersenyum.

“Kenapa?”

“Thank you ya, Lex,” katanya pelan, lalu mencium pipi gue. “Gue senang dibelain tadi.”

“Lain kali jangan cium pipi. Cium bibir sekalian. Minimal bayar fee bodyguard.”

“Enak aja! Bodyguardnya aja jatuh sekali dipukul.”

“Dua kali dipukul,” protes gue.

Malam itu gue nginep di rumah Lia, tentu setelah kasih kabar ke rumah. Kita cuma bercanda ringan sampai ketiduran di ruang tamu.

Besoknya dia nganterin gue ke kampus, lalu pulang lagi buat lanjut tidur.

Dan entah kenapa, sejak malam itu, hubungan gue dan Lia terasa berbeda. Mungkin bukan jadi pacar. Tapi jelas, lebih dari sekadar teman biasa.


메타데이터
post_id
714f2b1f9a35
slug
part-4-bisa-jadi-teman-714f2b1f9a35
url
https://medium.com/@dty_ndr/part-4-bisa-jadi-teman-714f2b1f9a35
canonical_url
https://medium.com/@dty_ndr/part-4-bisa-jadi-teman-714f2b1f9a35
author_url
https://medium.com/@dty_ndr
status
ok
fetched_at
2026-06-17 08:20:12