← Back to list

Keberuntungan dan Kerugian Menurut Al-Quran

SERIAL: MEMAHAMI KEBERUNTUNGAN DAN KERUGIAN MENURUT PANDANGAN AL-QURAN

Ramdhani Abdurrahim · 2024-09-08 05:16 · 0 claps · 3.5 min read
#keberuntungan #tafsir-al-quran #surga #neraka
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🕊️ · Religion

Keberuntungan dan Kerugian Menurut Al-Quran

SERIAL: MEMAHAMI KEBERUNTUNGAN DAN KERUGIAN MENURUT PANDANGAN AL-QURAN

Pendahuluan

Keberuntungan adalah sesuatu yang diidamkan oleh semua manusia, sementara kerugian adalah hal yang sangat dihindari. Namun, dalam kehidupan nyata, tidak semua yang diinginkan bisa terwujud. Banyak orang memiliki pandangan yang salah dalam memahami keberuntungan dan kerugian, terutama ketika hanya berfokus pada hal-hal duniawi. Mereka yang kaya, berkuasa, sukses dalam karier, dan memiliki kehidupan yang nyaman sering dianggap sebagai orang yang beruntung. Sebaliknya, mereka yang hidup dalam kekurangan, tidak memiliki harta, jabatan, atau status sosial tinggi sering dianggap merugi.

Namun, Al-Quran memiliki perspektif yang berbeda tentang keberuntungan dan kerugian. Allah Ta’ala menciptakan dunia ini dengan berbagai keindahan dan kenikmatan, yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, keberuntungan duniawi hanya bersifat sementara dan tidak menjamin kebahagiaan di akhirat. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Huud ayat 15–16, bahwa orang yang hanya mengejar dunia dan perhiasannya akan mendapatkan balasan di dunia, tetapi di akhirat, mereka hanya akan mendapatkan neraka:

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا نُوَفِّ اِلَيْهِمْ اَعْمَالَهُمْ فِيْهَا وَهُمْ فِيْهَا لَا يُبْخَسُوْنَ ١٥ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ لَيْسَ لَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا النَّارُ ۖ

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka.”

Di sisi lain, banyak orang yang beriman dan taat kepada Allah hidup dalam kesederhanaan, tanpa kemewahan duniawi. Mereka mungkin tidak terlihat beruntung menurut ukuran duniawi, tetapi di akhirat, Allah menjanjikan pahala yang jauh lebih baik bagi mereka. Dalam surah Yusuf ayat 57, Allah Ta’ala berfirman:

وَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ ࣖ ٥٧

“Dan sesungguhnya pahala di akhirat itu lebih baik, bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.”

Keberuntungan Hakiki Menurut Al-Quran

Keberuntungan yang hakiki menurut Al-Quran bukanlah tentang harta, kedudukan, atau kesuksesan duniawi, tetapi tentang keselamatan di akhirat. Orang yang benar-benar beruntung adalah mereka yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Hal ini ditegaskan dalam surah Ali-Imran ayat 185:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ

“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.”

Surga merupakan puncak keberuntungan, tempat kebahagiaan abadi yang penuh dengan kenikmatan. Sementara itu, mereka yang durhaka kepada Allah, meskipun mungkin sukses di dunia, akan merasakan kerugian besar di akhirat, karena mereka akan dimasukkan ke dalam neraka. Dalam surah al-Anfaal ayat 37, Allah Ta’ala berfirman:

فَيَجْعَلَهٗ فِيْ جَهَنَّمَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ࣖ ٣٧

“…kemudian, Dia menjadikannya ke dalam (neraka) Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”

Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa keberuntungan hakiki bukanlah hal yang bersifat sementara seperti kesenangan dunia, tetapi keberuntungan sejati adalah ketika seseorang dijauhkan dari siksa neraka dan diberikan nikmat surga oleh Allah.

Kekayaan Hakiki: Kekayaan Hati

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukanlah terletak pada banyaknya harta benda, melainkan pada kekayaan hati. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, beliau bersabda:

“Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.”

Hadis ini menekankan bahwa kebahagiaan sejati dan rasa cukup berasal dari hati yang bersyukur, bukan dari banyaknya harta yang dimiliki.

Allah Ta’ala juga mengingatkan dalam Al-Quran bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan kesenangan yang menipu. Dalam surah al-Hadiid ayat 20, Allah Ta’ala berfirman:

اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak…”

Ayat ini mengajarkan bahwa mengejar kehidupan duniawi tanpa memikirkan akhirat adalah sia-sia. Kenikmatan dunia hanyalah sementara dan tidak bisa dibandingkan dengan kenikmatan akhirat yang kekal.

Faktor Keberuntungan dan Penyebab Kerugian

Keberuntungan sejati dalam pandangan Al-Quran adalah iman dan amal saleh. Orang yang beriman dan beramal saleh adalah orang-orang yang beruntung, karena mereka akan dimasukkan ke dalam surga. Allah Ta’ala menegaskan hal ini dalam surah an-Nisaa’ ayat 13:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١٣

“…barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.”

Sebaliknya, kerugian hakiki adalah bagi mereka yang tidak beriman dan durhaka kepada Allah. Orang-orang ini akan dimasukkan ke dalam neraka dan merasakan azab yang pedih, seperti disebutkan dalam surah an-Nisaa’ ayat 14:

وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَيَتَعَدَّ حُدُوْدَهٗ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيْهَاۖ وَلَهٗ عَذَابٌ مُّهِيْنٌ ࣖ ١٤

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.”

Kesimpulan

Keberuntungan dan kerugian hakiki menurut Al-Quran terletak pada keselamatan akhirat. Orang yang beriman dan beramal saleh adalah orang yang benar-benar beruntung karena mereka akan mendapatkan surga dan ridha Allah. Sebaliknya, mereka yang tidak beriman dan durhaka kepada Allah akan merugi di akhirat, dengan dimasukkan ke dalam neraka. Oleh karena itu, kekayaan dan kesuksesan duniawi tidak dapat dijadikan tolok ukur keberuntungan yang sejati.[]

(bersambung)

Referensi:

Disarikan dari buku “20 Jalan Keberuntungan dan 20 Penyebab Kerugian dalam Pandangan Al-Quran”; penulis Ramdhani Abdurrahim; Penerbit Amzah


메타데이터
post_id
718eb73082b5
slug
keberuntungan-dan-kerugian-menurut-al-quran-718eb73082b5
url
https://medium.com/@QuranJourney/keberuntungan-dan-kerugian-menurut-al-quran-718eb73082b5
canonical_url
https://medium.com/@QuranJourney/keberuntungan-dan-kerugian-menurut-al-quran-718eb73082b5
author_url
https://medium.com/@QuranJourney
status
ok
fetched_at
2026-07-22 22:06:02