Mengapa Kita Menyukai Kekonyolan?
Ide teramat serius di balik kekonyolan. Sumber: https://www.entrepreneur.com)
Mengapa Kita Menyukai Kekonyolan?

Ide teramat serius di balik kekonyolan. Sumber: https://www.entrepreneur.com)
Seingat saya, cukup sering rasanya saya menyampaikan di kelas bahwa kita pernah begitu cinta kekonyolan. Bahkan, dalam beberapa hal, kita dibesarkan dengan kekonyolan tersebut. Misalnya, cilukba atau peek-a-boo.
Ya, orang tua — dan ini bisa berarti orang yang benar-benar sudah tua — menutupi wajahnya dengan kedua tangan atau selimut bayi lalu membuka seketika, dan bayi pun tergelak riang. Sebuah perbuatan konyol tentunya bila kita persepsi saat kita tidak lagi bayi — terlebih saat kita seusia orang tua yang memainkan cilukba tadi. Namun, suka tidak suka, kita dibesarkan dengan permainan konyol peek-a-boo (cilukba).
Peekaboo (n.) menurut *Etymoline, ditulis juga peek-a-boo*, adalah nama permainan anak-anak yang berasal dari tahun 1590-an; sebagai kata sifat (untuk pakaian) yang berarti “tembus pandang, terbuka,” berasal dari tahun 1895. Sementara untuk catatan cilukba di Nusantara sejauh ini belum ada yang menelitinya secara seksama.
Peter Levine seperti dikutip Leo Widrich dalam *The surprising neuroscience of Peekaboo and why it matters for adults*, menyatakan bahwa salah satu cara paling awal untuk membangun ketahanan emosional kita sebagai manusia saat kita lahir ke dunia adalah dengan bermain cilukba. Sementara alur permainannya terdiri dari tiga aturan utama, yaitu: menjalin kontak mata, melepaskan kontak mata dan menjalinnya kembali.
Apa yang sebenarnya terjadi di otak dan sistem saraf selama permainan cilukba?
Permainan ini, menurut Widrich, penting untuk membantu membangun ketahanan emosional bayi atau balita. Karena bayi belum memiliki konsep objek permanen, ketika wajah pengasuh menghilang, sistem saraf bayi sedikit bergeser ke arah respons kaget dan bahkan mungkin respons ancaman selama fase ketika kontak mata terputus. Secara fisiologis, kita dapat mengamati peningkatan ringan pada detak jantung, respons penghentian kepala, artinya kepala menjadi diam, diikuti oleh respons orientasi di mana bayi melihat ke kiri dan kanan, mencari pengasuh. Kita juga kemungkinan besar akan memperhatikan aktivitas yang meningkat di amigdala, pusat ketakutan di otak selama periode tersebut.
Sekarang, setelah pengasuh muncul kembali, sistem saraf bayi, yang kini merasa tenang dan bahkan gembira, kembali merasa stabil, beristirahat dalam apa yang Levine sebut “kewaspadaan rileks”, menunggu dengan penuh semangat apa yang akan terjadi selanjutnya.
Seiring berulangnya pola wajah yang menghilang dan muncul kembali, pola yang menyenangkan mulai terbentuk, di mana kepercayaan bayi bahwa ia akan “diselamatkan” setiap kali wajah tersebut muncul kembali semakin mendalam. Ini berarti respons kaget dan ancaman sistem saraf yang bersifat sementara telah dialami berulang kali, namun dalam cara yang aman dan tidak semenakutkan atau traumatis seperti jika orang dewasa tiba-tiba pergi dan tidak muncul kembali.
Otak bayi mungkin mencatat pengalaman implisit seperti ini: “Terkadang hal-hal baik menghilang sebentar dan memang benar, mereka kemudian muncul kembali dan aku baik-baik saja. Hidup memang menyenangkan seperti itu dan aku bisa mempercayai bahwa orang-orang yang peduli padaku akan menghilang dan akhirnya muncul kembali.”
Kita dapat melihat dengan jelas bagaimana hal ini menjadi dasar fundamental dan penting untuk hidup bahagia, tangguh secara emosional, dan sejahtera, tulis Widrich.
Kekonyolan yang saya maksud memang tidak sekonyol yang kita anggap. “Kekonyolan dalam beberapa hal lebih dekat kepada ketulusan. Orang tua kita teruji ketulusan mereka di hadapan kita saat kecil. Sebuah ketulusan yang melepaskan titel, kebesaran dan sematan artibutif lainnya. Cilukba, atau ekspresi konyol lainnya, adalah bentuk komunikasi tulus antara orang tua dan anaknya,” simpul saya, sebagaimana biasa, belagu filosofis.
Tapi satu hal lagi yang selalu saya tekankan adalah ketulusan kita, saat kecil dulu, dalam belajar. Setiap dari kita adalah pembelajar yang baik dan sukses. Hanya saja sayangnya kita tidak lagi setulus itu saat tumbuh dewasa. Bahkan, kita sendiri mengutuk kekonyolan dengan cibiran dan sikap sinis. Kesalahan dalam belajar menjadi tabu yang berujung pada label bodoh. Kita tidak seasyik dulu dalam belajar. Ketulusan semakin menjauh seiring kedewasaan yang serba kalkulatif dan transaksional.
Kita perlu menghargai kembali kekonyolan yang kini saat kita dewasa kita menyebutnya sebagai absurditas. Kembali, seperti halnya cilukba tidaklah sekonyol yang kita labelkan kepadanya, saya juga akan melakukan pembelaan atas absurditas. Dalam hal ini saya meminjam tangan seorang komedian absurdis asal Inggris, Joz Norris.
Absurdisme, tulis Joz Norris dalam *Absurdist comedy is uniquely brilliant at conveying human pain*, adalah sebuah bahasa. Kekurangan dari sebagian besar bahasa adalah bahwa bahasa itu logis, sedangkan esensi manusiawi kita — kecemburuan, kemarahan, ketakutan, euforia, kecemasan, kegembiraan, dan kelemahan kecil — tidak logis. Kadang-kadang, kita dapat menyuarakan bagian-bagian dari diri kita — ‘Saya merasa marah’; ‘Saya merasa sedih’; ‘Saya merasa takut’; ‘Saya merasa bahagia’ — hal semacam itu.
Namun, menurutnya, seringkali kita tidak bisa, dan satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh adalah naluri. Saat itulah kita mengambil sekaleng makanan kucing di tengah-tengah pertengkaran dan mengosongkannya di atas meja makan dan mengoleskannya ke kayu dengan tangan kosong (seorang teman saya pernah melakukan hal ini di tengah-tengah pertengkaran, dan mungkin itu menjadi penentu, jika kita mau jujur). Kita tidak melakukan hal-hal ini karena kita dengan sukarela memilih untuk bertingkah seperti anak kecil yang aneh (begitu juga dengan anak kecil yang aneh). Kita bertingkah seperti itu ketika logika telah gagal, dan ketika hal-hal yang kita rasakan menjadi terlalu besar untuk ditampung oleh bahasa yang kita miliki. Jadi, kita menggunakan bahasa absurdisme sebagai gantinya, ungkap Norris.
Norris lebih jauh menggugat kebanggaan kita atas kesadaran yang kemudian menganggap semua yang tidak logis — sebagaimana keagungan bahasa yang diklaim para penganutnya — adalah absurd (baca: konyol) dalam kata-katanya berikut:
Saya ingat mempelajari kata ‘qualia’ selama lockdown (pandemi Covid-19); kata ini merujuk pada pengalaman subjektif dari kesadaran yang tidak dapat kita ungkapkan — kemerahan apel, kerataan beton, madeleine Proust, ratatouille ibu Anton Ego, dan seterusnya. Saya merasa senang mengetahui bahwa ada sebuah kata untuk hal ini, yang dalam pikiran saya, telah menjadi pusat dari karya komedi yang telah saya buat selama bertahun-tahun.
Qualia yang kemudian mencerahkan Norris dalam menemukan bahwa absurditas adalah ternyata “bahasa” yang melampaui batas-batas logika sehingga dapat menyentuh hal-hal yang dianggap “tidak logis”. Absurditas Norrisian adalah apa yang disebut Peter Levine sebagai unspoken voice.
Kekonyolan dan absurditas mencerapkan lebih dalam kata-kata Hamlet-nya Shakespeare yang terkenal itu: “Ada lebih banyak hal di langit dan bumi, Horatio, daripada yang terbayangkan dalam filsafatmu.”
Dalam bingkai keseluruhan tulisan inilah narasi bahwa kita pernah mencintai kekonyolan saya dudukan. Rasanya cukup beralasan bagi saya untuk mengakhiri tulisan dengan senyum. (*)
메타데이터
- post_id
- 71f6da1de77f
- slug
- mengapa-kita-menyukai-kekonyolan-71f6da1de77f
- url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/mengapa-kita-menyukai-kekonyolan-71f6da1de77f
- canonical_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71/mengapa-kita-menyukai-kekonyolan-71f6da1de77f
- author_url
- https://medium.com/@dodikurniawan71
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-19 09:30:13