← Back to list

You have me on your back

Pagi itu datang pelan-pelan, hampir ragu-ragu, seolah takut memecah kesunyian yang mereka bangun semalaman. Cahaya matahari nggak langsung…

Vaileesya · 2026-02-18 08:07 · 0 claps · 11.8 min read
#warm #love #affection
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval CUL · Culture & Media 💑 · Relationships 😂 · Humor & Satire

You have me on your back

cr:pinterest

cr:pinterest

Pagi itu datang pelan-pelan, hampir ragu-ragu, seolah takut memecah kesunyian yang mereka bangun semalaman. Cahaya matahari nggak langsung terang; ia merayap tipis dari sela tirai abu-abu di apartemen Alden, seperti tangan yang mengusap lantai kayu dengan hati-hati. Garis keemasannya berhenti tepat di tepi kasur — tidak berani naik lebih jauh, tidak menyentuh wajah dua orang yang masih terbungkus hangat di balik selimut yang sedikit kusut.

Udara kamar masih menyimpan sisa hangat tubuh dan aroma sabun yang samar. Heningnya bukan hening kosong, tapi hening yang penuh — diisi suara napas yang teratur, gesekan kain yang pelan tiap kali salah satu dari mereka bergerak sedikit dalam tidur.

Alden bangun lebih dulu.

Bukan karena alarm. Bukan juga karena suara dari luar. Ia terbangun perlahan, seperti seseorang yang naik ke permukaan air tanpa tergesa. Hal pertama yang ia sadari adalah berat hangat di dadanya. Berat yang pas. Berat yang familiar.

Kepala Ishen setengah tersembunyi di lekuk lehernya, rambutnya berantakan, helaian-helaian tipis menyentuh kulit Alden dengan geli yang hampir tak terasa. Napasnya teratur — hangat, lembut — menyapu pelan di tulang selangka Alden setiap kali ia mengembuskan udara. Ada ritme yang tenang di sana, naik turun yang stabil, seolah dunia di luar kamar itu tidak pernah benar-benar ada.

Jemari Ishen menggenggam kaus tidur Alden tanpa sadar. Bukan erat sampai menyakitkan — hanya cukup untuk menunjukkan bahwa bahkan dalam tidur, ia tidak sepenuhnya melepaskan. Kain kaus itu sedikit tertarik, membentuk kerutan kecil di dada Alden, dan setiap kali napas Ishen bergerak, genggaman itu ikut bergeser halus, seperti memastikan sesuatu masih di tempatnya.

Alden tidak langsung bergerak.

Tubuhnya tetap diam, hanya dadanya yang naik turun perlahan mengikuti napas yang kini ia sadari ia samakan dengan napas Ishen. Matanya terbuka setengah, masih berat, menatap langit-langit kamar yang pucat dengan garis cahaya pagi memanjang di sudutnya. Ia berkedip pelan, lalu sangat hati-hati menoleh — gerakan kecil yang hampir tak terasa.

Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat detail yang biasanya terlewat. Helaian rambut Ishen yang jatuh sembarangan, sebagian menutupi kelopak matanya. Bulu mata yang diam, tak bergerak. Garis tipis di pipinya — bekas tekanan bantal atau mungkin lipatan selimut — yang membuat wajahnya terlihat lebih muda, lebih rapuh.

Dan entah kenapa, hal kecil yang absurd itu membuat dada Alden terasa menghangat.

Bukan hangat yang meledak. Bukan juga hangat yang dramatis. Hanya rasa penuh yang pelan-pelan memenuhi ruang di dalamnya, seperti cahaya matahari yang tadi berhenti di tepi kasur — diam, tapi pasti.

Ia mengangkat tangannya pelan, hati-hati sekali, seolah takut merusak momen yang rapuh itu. Jemarinya menyelip ke rambut Ishen, menyisir pelan dari atas kepala ke belakang, gerakannya ritmis, lambat, penuh jeda. Bukan untuk membangunkan. Bukan untuk mencari respons. Hanya karena ingin menyentuh. Karena rasanya terlalu sayang untuk tidak.

Ujung jarinya mengusap kulit kepala Ishen dengan tekanan ringan, naik turun, konstan — gerakan yang diam-diam menenangkan, bahkan untuk dirinya sendiri.

Ishen bergumam pelan.

Suara kecil, nyaris seperti dengkuran lembut yang tersangkut di tenggorokan. Alisnya sedikit berkerut, lalu mengendur lagi. Tubuhnya bergerak samar, bukan menjauh — justru makin masuk. Ia menggeser wajahnya lebih dalam ke dada Alden, pipinya menekan hangat di sana, napasnya menyusup di antara kain kaus dan kulit.

Tangannya yang tadi hanya menggenggam kini benar-benar melingkar di pinggang Alden, menariknya lebih dekat tanpa sadar. Jemarinya mencengkeram lebih erat, seperti anak kecil yang takut bonekanya diambil.

“Belum pagi,” gumam Ishen, suara seraknya masih tebal oleh sisa tidur. Matanya tetap tertutup, bulu matanya bergetar pelan.

Alden tersenyum — senyum kecil yang terasa sampai ke dadanya. “Udah, Shen.”

“Enggak,” Ishen menggeleng lemah, tapi gelengannya cuma membuat hidungnya bergesekan lebih dalam di dada Alden. “Masih gelap,” tambahnya pelan, nada suaranya hampir merengek.

Padahal cahaya sudah masuk. Tapi kamar itu hangat. Dan pelukan itu lebih meyakinkan daripada jam mana pun.

Alden menghela napas lembut, lalu perlahan membalikkan badan sedikit. Gerakan kecil itu membuat posisi mereka berubah, selimut ikut bergeser, kainnya berdesir pelan. Sekarang mereka berhadapan.

Ishen sedikit terbangun karena perubahan itu — alisnya berkerut, matanya terbuka sepersekian detik — tapi bukannya menjauh, ia justru langsung mendekat lagi. Lututnya menyelip di antara kaki Alden, kakinya mengait santai di betisnya. Tangannya naik, melingkar di leher Alden, lalu — seolah belum cukup — ia menarik wajah Alden lebih dekat dengan gerakan malas tapi posesif.

Jarak mereka kini hanya sejengkal napas.

Wajah Ishen masih setengah tertidur. Matanya berat, sudutnya sedikit kemerahan, bibirnya agak mengering karena tidur. Tapi ekspresinya lembut. Terbuka. Tanpa penjagaan.

Alden menatapnya lama, seperti sedang menghafal sesuatu yang tak ingin ia lupakan.

Alden menatap Ishen lama, seolah takut berkedip akan membuat momen itu berubah.

Pelan — sangat pelan — ia mendekat.

Ujung hidungnya menyentuh pelipis Ishen dengan hati-hati, hampir seperti ragu. Kulit di sana hangat, masih menyimpan suhu tidur. Ia diam sejenak. Tidak bergerak. Hanya membiarkan sentuhan itu ada.

Lalu ia menggeser sedikit, gesekan kecil yang lembut, nyaris seperti sapuan.

Alden menghirup.

Bukan napas dalam yang kasar — hanya tarikan pelan, cukup untuk menangkap aroma yang begitu familiar. Ada wangi sabun yang samar. Ada sisa hangat kain selimut. Ada sesuatu yang sepenuhnya Ishen — aroma kulit yang lembut, bersih, sedikit manis, dan entah kenapa selalu membuat dadanya terasa lebih tenang.

Tarikan napas itu nyaris tak terdengar, tapi terasa.

Ia menahan napas sepersekian detik, membiarkan aroma itu tinggal lebih lama di paru-parunya, seperti menyimpan sesuatu yang berharga.

“Cantik banget…” gumamnya lirih, hampir tak bersuara, lebih seperti pikiran yang terlepas tanpa sengaja daripada pujian yang disengaja.

Ujung hidungnya turun sedikit, menyusuri garis pelipis ke pipi. Gerakannya lambat, sengaja diperlambat, seperti sedang menghafal kontur wajah Ishen lewat sentuhan. Kulit Ishen lembut di bawah gesekan halus itu. Hangat. Nyata.

Tangannya otomatis naik, ibu jarinya menyentuh rahang Ishen dengan tekanan tipis, menahan wajahnya tetap di sana.

Alden menghirup lagi — kali ini lebih dekat, lebih dalam.

Dan entah kenapa, ada sesuatu di dadanya yang melunak.

Seperti dunia yang tadinya penuh sudut tajam tiba-tiba menjadi bulat dan aman.

Ishen bergerak sedikit karena sentuhan itu. Napasnya berubah ritme, menjadi lebih berat. Matanya masih terpejam, tapi bibirnya terbuka sedikit, mengembuskan udara hangat yang mengenai dagu Alden.

Alden tidak menjauh.

Sebaliknya, ia menempelkan keningnya sebentar ke sisi wajah Ishen, menggeser pelan hingga hidung mereka hampir sejajar. Ujung hidungnya menyentuh tulang pipi Ishen sekali lagi — lebih lembut kali ini, lebih sengaja.

Seperti memastikan.

Seperti mengatakan tanpa suara: kamu di sini. Kamu nyata. Dan kamu milikku untuk pagi ini.

Ishen akhirnya membuka mata setengah.

Tatapannya masih kabur oleh tidur, tapi begitu menyadari jarak mereka — begitu menyadari Alden begitu dekat sampai napasnya terasa di kulit — ada semburat lembut di ekspresinya.

“Kamu ngapain…” bisiknya pelan, suara berat dan pelan.

Alden tersenyum tipis, hidungnya masih hampir menyentuh pipi Ishen.

“Ngambil napas,” jawabnya pelan.

Ishen mengerutkan kening sedikit, lalu menyadari maksudnya. Tangannya yang di punggung Alden mengencang perlahan. Ia tidak mundur. Justru mendekatkan wajahnya sepersekian lagi, membuat hidung mereka bersentuhan tipis.

“Aneh,” gumamnya.

Tapi ia memejamkan mata lagi.

Dan membiarkan Alden tetap di sana.

Alden menurunkan wajahnya sedikit, mengecup pelipis Ishen dengan sentuhan yang begitu ringan sampai hampir tak terasa — lebih seperti janji daripada ciuman.

Lalu ia menarik Ishen lebih dekat ke dadanya.

Seolah aroma itu belum cukup.

Seolah ia masih ingin menyimpannya lebih lama.

Ketenangan kembali hadir melingkupi keduanya, tanpa sadar mata Alden kembali terasa berat dan ia pun menyerah untuk tetep mempertahankan kesadarannya. Alden kembali memejamkan matanya menyusul Ishen yang masih terlelap.

Cahaya matahari sudah lumayan tinggi, merayap perlahan di sela jendela apartemen, tapi suhu ruangan masih nyaman — sedikit hangat, seperti pelukan yang menempel. Selimut tebal masih membungkus tubuh mereka berdua, menjaga agar dunia luar terasa jauh. Alden membuka mata lebih dulu, menatap Ishen yang masih tengkurap di dadanya. Wajah Ishen nyaris menempel sempurna, pipinya menyentuh kulit Alden, napasnya pelan dan stabil, tetapi ada nada berat yang menandakan ia masih setengah terlelap. Alden tahu, jam sudah menunjukkan siang hari dan mereka melewatkan sarapan, perut Ishen pasti kosong, tapi tubuh mungil itu belum ingin lepas dari kehangatan.

Alden menepuk bahu Ishen perlahan, suaranya lembut, hampir seperti bisikan “Sayang… bangun, yuk.” Tetapi Ishen hanya bergeser, kembali menempel lebih erat, dagunya menekan dada Alden, tangan kecilnya melingkar erat di pinggang Alden, jemarinya mencengkeram kain kausnya seperti menahan sesuatu yang sangat berharga. Alden tersenyum pelan, hatinya hangat sekaligus sedikit khawatir.

Ia menundukkan wajah, membelai rambut Ishen dengan lembut. “Hmm… kamu hangat banget, sayang” gumamnya, merasakan suhu tubuh Ishen yang sedikit meningkat, aroma sabun dan wangi alami yang samar menguar dari rambut dan kulitnya, membuat dadanya bergetar halus. Alden menepuk pipi Ishen pelan, menyentuh dahi dan lehernya, merasakan hangatnya tubuh Ishen yang berbeda dari biasanya — lebih hidup, lebih rapuh, tapi aman. Hatinya bergetar, tapi ia tahu — Ishen sedang lelah. Alden menarik napas dalam, mengalah pada kelelahan Ishen, lalu menggendongnya perlahan.

Ishen yang memang merasa lemas dan malas hanya mengikuti apapun yang Alden lakukan pada tubuhnya, dagunya tetap menempel di pundak Alden, matanya masih terpejam, mempercayakan seluruh tubuhnya pada Alden. Setiap langkah Alden penuh perhatian, pelan, lembut, seolah takut satu gerakan pun bisa membuat Ishen terguncang. Ada kepercayaan total di tubuh mungil itu, yang membuat hati Alden hangat sampai ke ujung jari.

Begitu sampai kamar mandi, Alden menempatkan Ishen di atas wastafel, tetap dalam pelukan hangatnya. Wajah Ishen sedikit berkerut karena matahari yang masuk, matanya berusaha terbuka namun kembali menyipit karna sinar matahari, rambutnya yang sedikit basah oleh keringat menempel di pipi, tapi tubuhnya tetap rileks, nyaman di genggaman Alden. Alden menatapnya sebentar, bibirnya membentuk senyum tipis. Ia menyiapkan sikat gigi, menyikat dengan gerakan lembut, menyesuaikan ritme Ishen yang masih setengah tidur. Kadang Alden menatap mata Ishen yang setengah tertutup, menyingkirkan helaian rambut yang menempel, atau mengusap punggung mungilnya dengan telapak tangan, memastikan setiap gerakannya membuat Ishen merasa nyaman.

Setelah menggosok gigi Ishen selesai, Alden membasuh wajah Ishen dengan air hangat, perlahan-lahan, menepuk dan mengusap dengan handuk lembut. Alden ingin Ishen tidak hanya bersih, tapi benar-benar merasa hangat, nyaman, terlindungi. Setiap gerakan Alden terasa seperti mantra, menenangkan seluruh tubuh dan pikiran Ishen, membuatnya melepas semua sisa lelah dan ketegangan.

Sekarang giliran Alden yang harus membersihkan diri, seolah sudah terbiasa dengan kondisi itu, Alden kemudian merangkul bahu Ishen agar bersandar sepenuhnya ke bahunya, tangan satunya ia gunakan untuk mulai menggosok giginya sendiri dan membasuh wajahnya.

Selesai, Alden menggendong Ishen lagi, menempelkan tubuhnya ke dada. Ishen menempelkan dagunya ke bahu Alden, matanya sempat terbuka sedikit namun kembali terpejam, napasnya pelan tapi stabil, tubuhnya terasa lemas dan rapuh di pelukan Alden. Alden menyesuaikan posisi duduk di sofa, menempatkan Ishen di pangkuannya, tangan tetap menelusuri punggungnya perlahan — naik turun, menenangkan, menebarkan rasa aman. Sesekali Alden menundukkan kepala, mengecup puncak rambutnya, membiarkan jemarinya bermain lembut dengan helaian rambut yang sedikit menempel di pipi.

“Aku pesen makanan ya. Perut kamu pasti lapar, sayang,” gumam Alden. Ia mengambil HP dan memesan makanan hangat, ringan, sambil tetap menatap Ishen, memastikan tubuh mungil itu tetap nyaman. Tangan Alden tidak pernah lepas dari punggung atau pinggang Ishen, setiap gerakan kecil diikuti dengan perhatian penuh, seakan tak ada hal lain di dunia ini selain menjaga Ishen.

Beberapa menit kemudian, Alden bangkit pelan dari sofa, tetap menggendong Ishen, dan berjalan ke dapur untuk mengambil gelas. Ia mengisi air hangat, memastikan suhunya pas agar tenggorokan Ishen tidak kering. Kembali ke sofa, Alden menempatkan gelas di meja, dirinya mengusap lembut dahi Ishen, menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangannya. “Hei, ayo minum dulu.” Ishen yang memang masih tersadar pun membuka matanya, dengan kepala yang masih bersandar di bahu Alden. Alden mengambil gelas tersebut dan menempatkannya di samping Ishen, menuntun tangannya dengan lembut agar bisa memegangnya. “Pelan-pelan… oke?” bisiknya sambil mengecup pelipis Ishen. Aroma sabun dan hangat tubuhnya masih membekas di udara, dan Alden menelan napas dalam, merasakan hangat yang menenangkan di dada.

Ishen minum perlahan, menempel erat padaAlden, sementara Alden tetap mengusap punggungnya, mengecup rambut atau pipi dengan gerakan pelan, teratur, dan penuh kasih. Setiap sentuhan seperti menenun momen ini menjadi selimut hangat, melindungi Ishen dari dunia luar.

Mereka duduk di sofa, cahaya matahari menimpa ruangan lembut, TV menyala pelan, tapi mata Alden tak pernah lepas dari Ishen. Ia memastikan setiap napasnya tenang, setiap posisi nyaman. Alden membiarkan Ishen tertidur lagi di pangkuannya, tubuh mungil itu menempel erat, dan ia tetap di sana — menggendong, mengusap, menjaga.

Di sofa itu, di antara aroma hangat pagi dan sinar matahari lembut, Alden menjadi dunia kecil Ishen — pelindung, penghangat, telaten, penuh cinta. Setiap gerakan, setiap sentuhan, setiap desahan lembut — semua mengatakan satu hal “Aku di sini. Aku nggak akan kemana-mana. Kamu aman, sayang.”

Ishen duduk di sofa, nyender ke sandaran dengan bantal di depan dadanya yang dia peluk erat. Matanya setengah terpejam, sayu, ujung hidungnya memerah hangat, bibirnya maju ke depan seperti bebek kecil yang manja. Ia masih setengah malas untuk melepaskan diri dari Alden. Begitu makanan datang, ia awalnya keras kepala — tidak mau disentuh, tidak mau dibantu, hanya ingin tetap menempel. Tapi Alden, dengan sabar dan lembut, mulai membujuknya. Suaranya halus, penuh rayuan, tangan yang mengusap punggung dan lengan Ishen, kepala menunduk menatap matanya. Perlahan, demi perlahan, Ishen luluh.

Alden mengangkat satu sendok, menyuapkan makanan pelan, menyesuaikan ritme Ishen. Setiap kali makanan mendekat, Ishen menatapnya dengan mata setengah tertutup, bibir mungilnya membuka sedikit, tapi tak lepas dari pelukan bantal. Sesekali ia menggerakkan tangan kecilnya, menahan Alden agar tidak terlalu jauh, menariknya lebih dekat. Alden mencondongkan tubuh, senyum tipis, memijat bahu Ishen pelan saat menyuap, memastikan dia tetap nyaman.

“Aduh, hangat banget… pipimu,” gumam Alden lirih, menyadari ujung hidung Ishen yang memerah karena demam. Ia menepuk pelan pipi Ishen dengan ibu jarinya, lalu mengusap dagu dan rahangnya, seakan memastikan setiap bagian tubuh mungil itu tetap hangat dan aman. Aroma hangat tubuh Ishen — sedikit manis, sedikit sabun, sedikit demam — membuat dada Alden bergetar lembut.

Setelah beberapa sendok, Ishen terlihat lebih santai, meski masih manja. Ia menempel lebih erat ke Alden, bantal yang dipeluknya sekarang nyaris ditindih tubuh Alden. Matanya sayu, gerakan tubuhnya pelan, tapi setiap sentuhan Alden ia balas dengan tangan atau kaki yang menyelip, sedikit menahan agar tidak lepas. Bibirnya tetap maju ke depan, gerakan kecil yang tanpa sadar membuat Alden tersenyum hangat.

Begitu makanan habis, Alden beranjak untuk mengambil obat, sambil membereskan bekas makan mereka. Tapi tangan Ishen tiba-tiba menahan lengan Alden, lembut tapi tegas. “Di sini aja… jangan jauh-jauh,” gumamnya dengan suara kecil yang berat karena demam. Alden gemas, ingin langsung menggendong dan mengunci tubuh mungil itu dalam pelukan, tapi ia juga tahu Ishen butuh obat. Ia menunduk, menatap mata Ishen yang setengah tertutup, lalu mengusap pelipisnya lembut.

“Iya, sayang. Aku ambil obatnya, terus langsung balik, ya?” bisik Alden, nadanya penuh janji. Ishen mengangguk pelan, tapi tetap menempel, tangannya menggenggam lengan Alden dengan erat, menahan sedikit, seakan tidak rela melepaskan.

Beberapa menit kemudian, Alden kembali dengan obat di tangan. Ia menepuk paha Ishen lembut, membuatnya sedikit mencondong, lalu menuntun kepala Ishen ke posisi nyaman. Alden menahan tubuhnya dengan satu tangan di punggung, satu tangan menopang leher, lalu meminumkan obat dengan perlahan. Setiap gerakan Alden pelan, lembut, seakan takut membuat Ishen terkejut atau tidak nyaman. Aroma hangat tubuh Ishen memenuhi indera Alden, hidungnya nyaris menyentuh rambut yang sedikit lepek karena demam, pipi yang masih merah hangat, bibirnya yang maju manja.

Begitu obat masuk, Ishen menutup mata sebentar, lalu tanpa pikir panjang, tangannya langsung meraih tubuh Alden, berkata dengan suara pelan tapi tegas, “Peluk…”

Alden tersenyum, tidak perlu dikatakan dua kali. Ia segera membawa tubuh Ishen yang hangat dan rapuh ke pelukannya. Kepala Ishen menempel di dada Alden, pipinya menempel di kain kausnya, napasnya berat tapi stabil, menghembuskan hangat yang menular ke kulit Alden. Tubuhnya menempel dengan erat, bantal yang tadi dipeluknya kini terjepit di antara mereka, menjadi saksi kecil dari pelukan yang penuh ketenangan.

Alden menyesuaikan posisi duduk di sofa, menahan tubuh mungil Ishen di pangkuannya. Tangannya menelusuri punggung Ishen perlahan — gerakan naik-turun yang konsisten, menenangkan, seperti mengusap gelombang kecil di permukaan air. Setiap telapak yang menyentuh punggungnya diikuti dengan tekanan lembut yang membuat Ishen merespons dengan desahan halus, tubuhnya sedikit bergetar, menempel lebih erat. Aroma rambut basahnya, wangi sabun yang hangat, bercampur dengan nafas pelan membuat Alden rasanya ingin menahan momen itu selamanya.

Ishen menempel lebih erat, tangan kecilnya melingkar di leher Alden, jemarinya mencengkeram kaus yang dikenakan Alden, kaki mungilnya mengait di paha Alden, membuatnya seolah tidak ingin ada celah antara mereka. Kepala Ishen menempel nyaman di dada Alden, dagunya sedikit menekan ke tulang selangka, bibirnya maju manja seperti bebek kecil, napasnya yang berat berdesir di kulit Alden. Sesekali ia mendesah pelan, suara kecil yang hampir tak terdengar tapi begitu hidup, tubuhnya menghangatkan Alden, menimbulkan rasa ingin melindungi sampai detik ini tidak pernah berakhir.

Alden mengecup puncak rambut Ishen, lembut, seolah menandai setiap helai sebagai sesuatu yang sangat berharga. Ia mengusap pipi Ishen perlahan, telapak tangannya menempel hangat di kulitnya, gerakan yang tidak hanya menenangkan tapi juga penuh kasih, seakan mengirimkan pesan tanpa kata: aku di sini. Aku nggak akan kemana-mana. Kamu aman.

Ishen menutup mata sedikit lebih rapat, menekan tubuhnya pada Alden, seolah ingin menyerap setiap inci kehangatan dan keamanan. Tubuh mungil itu bergerak sedikit mengikuti pola tangan Alden di punggungnya, menekankan permintaan diam tanpa suara untuk tetap dipeluk. Sesekali, ia mencondongkan kepala, menggesekkan pipi atau dahi ke dada Alden, dan menempelkan tangan di lengan Alden seolah menahan, “jangan lepasin aku.”

Alden menundukkan kepala, menyentuh ujung hidungnya ke rambut Ishen, menghirup aroma hangat tubuhnya, wangi lembut yang bercampur dengan demam ringan — hal yang membuat dada Alden terasa penuh dan lembut. Tangannya yang lain mengusap perlahan lengan dan bahu Ishen, sesekali menekan pelan untuk memberikan kehangatan ekstra. Semua gerakan Alden pelan, penuh perhatian, seolah dunia di luar sofa itu tidak pernah ada.

Ishen mendesah lagi, sedikit lebih panjang kali ini, tubuhnya melunak sepenuhnya, menempel, melingkar, dan menuntut perhatian tanpa kata. Bibirnya maju, pipinya hangat, kepala menempel, napasnya lembut tapi berat — menjadikan setiap detik Alden rasakan begitu intim dan penuh cinta. Alden menutup mata sejenak, memeluknya lebih erat, menyesuaikan posisi di sofa agar tubuh Ishen lebih nyaman, dan perlahan menepuk pelan punggungnya sambil membisikkan kata-kata lembut yang nyaris tak terdengar: “Sayang… tenang aja, aku di sini.”

Di sofa itu, dengan cahaya matahari menimpa mereka secara lembut, aroma hangat tubuh Ishen bercampur dengan nafas Alden, selimut yang membungkus, dan bantal yang tertindih di antara mereka — momen itu terasa sempurna. Setiap desahan, setiap gerakan kecil Ishen yang manja, setiap telapak tangan Alden yang menenangkan, membentuk dunia kecil yang aman, hangat, dan sangat manis. Ishen sepenuhnya manja, dan Alden sepenuhnya ada untuknya — menghangatkan, menenangkan, dan menyelimuti setiap inci tubuh dan hati mungil itu.


메타데이터
post_id
71fa3f279d70
slug
you-have-me-on-your-back-71fa3f279d70
url
https://medium.com/@vany.lathifah1/you-have-me-on-your-back-71fa3f279d70
canonical_url
https://medium.com/@vany.lathifah1/you-have-me-on-your-back-71fa3f279d70
author_url
https://medium.com/@vany.lathifah1
status
ok
fetched_at
2026-06-21 23:24:37